Wasapada, Alergi Obat Berpotensi Mengancam Nyawa!

Oleh dr. Theresia Rina Yunita pada 16 Dec 2018, 11:00 WIB
Alergi obat bisa dialami siapa saja. Bahkan, gangguan kesehatan ini juga bisa mengancam nyawa.
Wasapada, Alergi Obat Berpotensi Mengancam Nyawa! (Dudaeva/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Hipersensitivitas atau alergi terhadap obat bisa ditunjukkan dalam respons yang beragam. Dalam kondisi yang gawat darurat, alergi obat dapat menyebabkan Sindrom Stevens-Johnson (SSJ) dan Nekrolisis Epidermal Toksik (NET).

Meski jarang terjadi di Indonesia keduanya sangat berbahaya, bahkan bisa mengancam nyawa. Kasus ini lebih sering terjadi pada perempuan dan bisa dialami segala usia, namun paling sering terjadi pada kelompok usia 40–60 tahun.

SSJ dan NET merupakan kelainan kulit dan mukosa akibat reaksi hipersensitivitas pada obat, yang ditandai dengan nekrosis epidermis yang luas, hingga kulit terlepas atau terkelupas. Keduanya memiliki gejala serupa. Yang membedakan hanya luas daerah yang terkena saja.

Beberapa obat-obatan yang sering menyebabkan kondisi ini adalah allopurinol, barbiturate, obat antikejang, obat antiinflamasi golongan non-steroid, penisilin, fenitoin dan sulfonamide.

Selain disebabkan oleh reaksi alergi obat, SSJ dan NET juga bisa dicetuskan oleh beberapa hal sebagai berikut:

  • Infeksi, terutama infeksi bakteri mycoplasma pneumonia, virus herpes, dan virus hepatitis A.
  • Imunisasi
  • Transplantasi organ atau sumsum tulang

Terkadang, orang yang mengalami alergi obat bisa saja tidak menyadarinya. Untuk mengetahuinya, Anda perlu untuk mengetahui berbagai diagnosis dan gejala dari alergi obat.

1 of 2

Diagnosis dan gejala yang akan terlihat

Untuk menegakkan diagnosis alergi obat diperlukan informasi yang menyeluruh mengenai riwayat konsumsi obat yang dicurigai sebagai pemicu alergi atau biasa disebut allergen.

Selain itu, gejala biasanya muncul pada 7-21 hari setelah konsumsi obat untuk pertama kali, atau setidaknya gejala akan muncul lebih awal pada konsumsi obat untuk kedua kalinya. Gejala yang muncul dapat berupa demam, anoreksia, nyeri otot, nyeri menelan dan mirip seperti gejala flu.

Tak lama setelah gejala tersebut muncul, umumnya akan muncul lesi di mulut seperti sariawan yang terasa sangat nyeri atau terasa seperti terbakar. Kemudian muncul kemerahan pada kulit yang terasa perih atau nyeri dan hangat jika diraba.

Kemerahan pada kulit ini akan berubah menjadi lenting-lenting yang berisi cairan yang lama-kelamaan bisa pecah. Bila sudah terjadi demikian, perlu dilakukan pemeriksaan darah dan pemeriksaan rontgen untuk menilai komplikasi yang terjadi akibat penyakit ini.

Pada pemeriksaan darah dapat dijumpai kadar sel darah putih yang lebih rendah dari seharusnya akibat infeksi berat. Selain itu, trombosit dapat turun akibat perdarahan yang terjadi. Bila pasien terlihat sesak napas, biasanya foto rontgen dada perlu dilakukan.

Bila alergi obat tak segera ditangani

Jika alergi obat yang dialami dibiarkan begitu saja, sangat mungkin terjadi hal-hal yang berbahaya dan mengancam nyawa seperti komplikasi berikut ini:

  • Sepsis, yaitu infeksi berat yang menyebar ke seluruh tubuh.
  • Kegagalan organ, dapat berupa kegagalan organ ginjal, hati, otak, jantung dan paru dalam melakukan fungsinya masing-masing.
  • Acute respiratory distress syndrome (ARDS), yaitu kondisi kegagalan sistem pernapasan.

Sebuah penelitian menunjukkan kematian pada penderita SSJ yang terjadi akibat sepsis berat sekitar 1-5 persen, sedangkan pada kasus NET bisa mencapai 34-40 persen.

Penanganan awal yang paling penting pada orang yang memiliki alergi obat adalah memberikan sejumlah cairan melalui infus, karena akibat SSJ maupun NET, pasien berisiko mengalami kehilangan cairan yang cukup banyak. Hal ini berguna untuk mencegah syok.

Setelah itu pasien dapat diberi antibiotik untuk mencegah infeksi, serta perawatan kulit khusus. Pengobatan ini dilakukan untuk mencegah komplikasi lebih lanjut dan harus ditangani oleh dokter spesialis yang berkompeten di bidangnya.

Sebuah penelitian di Indonesia yang dilakukan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga pada 2016 terhadap pasien di RSUD Dr. Soetomo Surabaya menunjukkan bahwa terapi terhadap SSJ dan NET yang dilakukan dengan cepat dapat mengurangi angka kematian dari 26 persen hingga 5 persen. Riset ini dilansir dari situs resmi Universitas Airlangga.

Jenis terapi yang diberikan adalah penghentian obat sedini mungkin, perawatan di tempat khusus seperti unit luka bakar dengan suhu ruang lebih dari 30 derajat Celsius untuk mencegah hipotermia, pemberian cairan infus, pemberian nutrisi, seperti pengobatan pendukung lainnya mulai dari obat tetes mata hingga penggunaan antasida.

Alergi obat sepetri SSJ dan NET memang sangat berbahaya karena dapat menyebabkan kematian. Namun, dengan diagnosis yang tepat dan penanganan sedini mungkin, risiko tersebut dapat dihindari. Bila Anda atau anggota keluarga ada yang mengalami berbagai gejala alergi obat seperti yang telah dijelaskan di atas, segeralah lakukan pemeriksaan untuk mencegah alergi mengarah pada komplikasi alergi obat.

[NP/ RVS]

Lanjutkan Membaca ↓