Anak Obesitas Rentan Terkena Stroke?

Oleh Ayu Maharani pada 20 Dec 2018, 15:30 WIB
Ada yang mengatakan bahwa ada sejumlah gangguan kesehatan yang mengintai anak obesitas, salah satunya adalah stroke.
Anak Obesitas Rentan Terkena Stroke? (kwanchai.c/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Orang dewasa yang memiliki berat badan berlebih alias obesitas, sering kali dikaitkan dengan beragam risiko penyakit kronis. Mulai dari diabetes, kolesterol tinggi, serangan jantung, hingga stroke. Namun, bagaimana dengan anak obesitas? Apakah mereka berisiko terkena stroke juga? Pasalnya, stroke kerap kali diidentikkan dengan penyakit orang dewasa yang cenderung lanjut usia.

Dilansir dari The Guardian, para peneliti dari Oxford University mengatakan bahwa anak obesitas memiliki risiko yang jauh lebih tinggi untuk mengalami stroke, ketimbang anak yang memiliki berat badan normal, yakni 30 sampai 40 persen.

Mereka juga menemukan, anak obesitas (indeks massa tubuhnya lebih dari 30) memiliki kadar kolesterol dan tingkat tekanan darah yang lebih tinggi dari teman-teman sebayanya. Karena itu, wajar bila mereka rentan terkena penyakit yang lebih serius.

Pada anak yang kelebihan berat badan, biasanya risiko penyakit jantung, diabetes, dan stroke mulai terasa di usia mereka ke-5 tahun. Dikutip dari Telegraph UK, hal itu dibuktikan dari kasus anak-anak yang dirawat di rumah sakit pada usianya yang ke-6 dan 8 tahun akibat menderita stroke.

Angka yang dirilis dari 168 rumah sakit di Inggris menunjukkan, lebih dari 5.500 anak di bawah usia 16 tahun didiagnosis dan dirawat karena obesitas dalam lima tahun terakhir. Lebih dari itu, beberapa di antaranya meski menjalani operasi lambung untuk membantu mengobati kondisi mereka.

Terlalu banyak makan junk food

Lantas, apa penyebabnya? Biasanya, orang tua mereka memberikan mereka terlalu banyak junk food dan makanan instan di usia dini. Bahkan, ada studi yang menunjukkan bahwa kini, ratusan anak di bawah usia 3 tahun sedang dirawat karena obesitas di seluruh rumah sakit Inggris!

“Ya, saya pasti prihatin melihat anak-anak di bawah usia 2 tahun dalam kasus ini,” kata dr. Ken Ong, seorang Clinical Lead for Childhood Obesity di Addenbrooke’s Hospital, Cambridge. Selain karena terlalu sering memberikan makanan instan dan junk food kepada mereka, orang tua yang memaksakan untuk menyapih bayi terlalu dini juga bisa memicu obesitas pada anak.

Di sisi lain, Prof. Mary Rudolf, Konsultan Dokter Anak dari Royal College of Paediatrics and Child Health, mengatakan, angka yang diberikan rumah sakit kemungkinan besar hanya puncak gunung es.

“Saya pikir angka tersebut terlalu kecil. Ada mitos umum bahwa lemak anak bayi akan hilang ketika mereka semakin dewasa. Itulah yang akhirnya membuat para orang tua lalai,” tuturnya.

Menurutnya, 1 dari 3 anak sekolah dasar pasti memiliki berat badan yang berlebih. Paul Sacher dari British Dietetic Association dan Chief Research Officer untuk MEND - badan amal untuk program perawatan dan pencegahan obesitas - mengatakan, banyak orang tua tidak tahu apa yang seharusnya mereka berikan kepada anak-anak.

"Saya sering melihat anak-anak yang diberi permen lolly, cokelat, atau sebungkus keripik,” katanya.

Anak-anak belum bisa menentukan sendiri gaya hidup yang baik untuk mereka. Oleh karena itu, jika terjadi anak mengalami obesitas, itu berarti ada pola asupan makanan yang salah dari orang tua. Misalnya, terlalu banyak memberikan makanan instan, junk food, dan makanan/minuman berpemanis buatan. Cegah kondisi tersebut dengan membiasakan anak sejak dini untuk menyantap makanan yang alami dan seimbang. Libatkan juga mereka dalam aktivitas fisik seperti olahraga, membersihkan rumah atau berkebun. Cara-cara sederhana itu bisa menghindarkan anak dari kondisi obesitas yang membahayakan kesehatannya, termasuk risiko stroke.

[HNS/RVS]