5 Penyakit yang Paling Sering Menyerang Anak di Musim Hujan

Oleh dr. Nadia Octavia pada 06 Jan 2020, 15:08 WIB
Musim hujan telah tiba. Waspadai deretan penyakit yang mengintai anak berikut ini.
5 Penyakit yang Paling Sering Menyerang Anak di Musim Hujan (Lipik Stock Media/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), puncak musim hujan tahun 2020 diprediksi jatuh pada Februari-Maret. Prediksi ini akan dialami di sejumlah wilayah Indonesia.

Sehingga, tak heran pula jika banyak orang yang mulai menjaga kesehatannya agar terhindar dari penyakit yang sering muncul saat musim hujan tiba. Tapi lain berbeda bagi si Kecil, sebab melihat hujan turun justru membuatnya tertarik untuk bermain air hujan.

1 of 3

Penyakit yang Mengintai Anak di Musim Hujan

Kegiatan mandi air hujan merupakan salah satu aktivitas yang digemari hampir sebagian besar anak-anak. Merasakan rintikan air hujan dan bermain di genangan air menjadi aktivitas yang menyenangkan. Namun bagi orang tua, musim hujan juga memberi kekhawatiran tersendiri karena anak rentan mengalami berbagai penyakit sebagai berikut.

  1. Demam Berdarah Dengue (DBD)

Nyamuk Demam Berdarah Dengue
Nyamuk Demam Berdarah Dengue

DBD disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan lewat gigitan nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk ini dapat berkembang biak di air tergenang, yang banyak ditemukan saat musim hujan tiba.

Gejala utama dari penyakit DBD adalah demam yang mendadak tinggi, hingga bisa mencapai 40⁰ dan terjadi di malam hari, dan disertai gejala lainnya.

Artikel Lainnya: Awas, Demam Berdarah juga Bisa Serang Kawasan Elit!

Beberapa gejala yang bisa menyertainya antara lain nyeri kepala, nyeri belakang bola mata, nyeri otot dan sendi, wajah kemerahan atau ruam di kulit, bintik merah pada kaki dan tangan, mual dan muntah serta nyeri perut.

Pada anak, DBD harus dianggap serius karena anak lebih mudah mengalami kondisi syok dan bisa berakibat fatal.

  1. Gastroenteritis

Ilustrasi Gastroenteritis
Ilustrasi Gastroenteritis

Gastroenteritis merupakan penyakit yang menyerang saluran cerna dan dapat disebabkan oleh infeksi virus, bakteri, parasit ataupun jamur.

Gejala yang sering dialami adalah diare, demam, nyeri perut, sakit kepala, nafsu makan tidak ada atau berkurang, lemah, mual, muntah, mialgia (nyeri otot), hingga rewel dan gelisah.

Diare pada anak perlu diwaspadai. Karena tubuh anak 80 persennya terdiri atas cairan, sehingga akan mudah sekali mengalami dehidrasi akibat diare. Untuk itu, sangat penting mengawasi asupan cairan pada anak Anda.

Artikel Lainnya: Masuk Musim Hujan, Perlukah Anak Vaksin Influenza?

  1. Influenza

Pria sedang Influenza
Pria sedang Influenza

Influenza atau common cold (pilek, selesma) adalah suatu reaksi peradangan saluran pernapasan yang disebabkan oleh infeksi virus.

Gejalanya antara lain demam, pilek, batuk, nyeri otot dan sendi, nyeri tenggorokan dan nyeri kepala.

Karena disebabkan oleh infeksi virus, influenza tergolong dalam penyakit kategori self limiting disease, yakni penyakit yang dapat sembuh dengan sendirinya.

Pada saat musim hujan, anak banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan sehingga akan lebih mudah tertular virus influenza dari orang lain.

Jika memang ada penderita influenza di sekelilingnya, maka anak akan berisiko tinggi mengalami influenza.

  1. Leptospirosis

Ilustrasi Leptospirosis
Ilustrasi Leptospirosis

Leptospirosis disebabkan oleh infeksi bakteri leptospira. Biasanya disebarkan melalui hewan seperti tikus, sapi, babi, dan anjing.

Di antara hewan-hewan tersebut, tikus menjadi penyebab paling umum dan harus lebih diwaspadai. Saat musim hujan, air hujan yang tergenang rentan untuk terkontaminasi oleh urine tikus.

Gejala dari penyakit ini menyerupai flu ringan, yaitu menggigil, sakit kepala, dan nyeri otot. Selain itu, mual muntah, dan ruam juga dapat muncul bila anak mengalaminya.

Artikel Lainnya:

  1. Demam Tifoid

Ilustrasi Demam Tifoid
Ilustrasi Demam Tifoid

Demam tifoid atau secara awam disebut penyakit tifus atau lebih sering disebut tipes, merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella typhi yang ditularkan lewat makanan.  

Gejalanya bisa berupa demam, sakit kepala, nyeri sendi, sakit tenggorokan, sembelit, penurunan nafsu makan dan nyeri perut. Terkadang penderita bisa merasakan nyeri ketika berkemih, batuk, serta perdarahan dari hidung.

Saat musim hujan—ketika sistem kekebalan tubuh anak menurun dan rentan mengonsumsi makanan yang tidak higienis—anak lebih berisiko mengalami demam tifoid.

2 of 3

 Tips Rawat Anak Setelah Ia Bermain Hujan

Anak Bermain Hujan
Anak Bermain Hujan

Setiap orang tua punya cara mendidik anak secara berbeda. Ada yang membolehkan anak bermain hujan, atau bahkan justru melarangnya karena khawatir akan jatuh sakit. Tetapi jika anak sudah bermain hujan atau justru kehujanan, lakukan cara ini untuk mengurangi risiko terserang penyakit.

1. Mandi

Setelah anak bermain hujan atau kehujanan, pastikan ia segera membuka baju dan celana basahnya. Sarankan ia untuk mandi air hangat untuk menstabilkan suhu tubuh setelah terpapar air hujan.

2. Minum Air Hangat

Ketika anak terserang pilek, Anda pernah memberinya sup atau minuman hangat? Ya, selain bisa mengencerkan lendir di rongga hidung, air hangat juga bisa memberi perasaan nyaman dan hangat di tubuh bagian dalam. Jadi jangan lupa memberinya minuman hangat ya, Bunda!

3. Lakukan Peregangan dan Istirahat 

Ajarkan anak melakukan peregangan yang ringan, Anda bisa melakukannya bersama anak dengan cara yang menyenangkan. Tak perlu terlalu lama, jika sudah selesai, anjurkan anak untuk beristirahat. 

Jika si Kecil dan Anda terpaksa harus keluar rumah sementara banyak genangan di luar rumah, sebaiknya gunakan sepatu boots hujan. Bukan untuk terlihat lebih modis, tapi agar terhindar dari penyakit leptospirosis. Mengingat demam berdarah juga termasuk salah satu penyakit yang muncul di musim hujan, jangan lupa membersihkan rumah dan hindari adanya genangan air di dalam dan sekitaran hunian.

Hal itu penting dilakukan demi menjaga daya tahan tubuh anak. Jangan lupa pula memberikannya makanan sehat dan bergizi tinggi, istirahat dan air putih yang cukup. Bila memang anak kehujanan dan kondisinya cukup parah, segera bawa ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

[NP/RVS/RPA]

Lanjutkan Membaca ↓