Kenali Sindrom Pohon Natal

Oleh dr. Resthie Rachmanta Putri. M.Epid pada 25 Dec 2018, 14:00 WIB
Meski tampak indah, pohon Natal bisa mendatangkan penyakit bernama sindrom pohon Natal. Yuk kenali gejalanya!
Kenali Sindrom Pohon Natal (Nina Buday/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Natal seolah terasa belum lengkap bila tidak dirayakan dengan memajang pohon Natal dan ornamen-ornamennya. Agar bisa merasakan suasana Natal setiap saat, banyak keluarga memutuskan untuk memasang pohon cemara di rumahnya. Pohon cemara ini kemudian dihias dengan lampu, pita, lonceng, dan bintang. Meski menggambarkan keindahan suasana Natal, pohon Natal ini dapat mendatangkan masalah kesehatan bagi orang tertentu. Masalah kesehatan tersebut bernama sindrom pohon Natal.

Sindrom pohon Natal merupakan penyakit yang disebabkan reaksi alergi terhadap komponen yang terdapat pada pohon Natal, terutama serbuk sari dan jamur. Penyakit ini pertama kali ditemukan pada tahun 1970 oleh dr. Derek M. Wyse dan dipubilikasikan pada Canadian Medical Association Journal.

Selanjutnya, berbagai studi dilakukan untuk mengetahui bahayanya pohon Natal bagi kesehatan. Salah satu studi yang dilaporkan dalam kongres tahunan American College of Allergy, Asthma, and Immunology menemukan bahwa jika terdapat jamur di pohon Natal. Jamur tersebut akan berkembang biak lebih dari lima kali lipat dalam 14 hari. Yang lebih buruk, lebih dari separuh jamur tersebut berpotensi membahayakan kesehatan.

Meski demikian, pohon Natal tak selalu membahayakan. Sindrom pohon Natal hanya terjadi pada orang-orang yang memiliki alergi terhadap jamur, serbuk sari, debu, atau zat lain yang dapat ditemukan pada pohon Natal.

1 of 2

Kenali gejala sindrom pohon Natal

Gejala sindrom pohon Natal sangat bervariasi, antara lain dapat berupa:

  • Gejala pada mata berupa iritasi mata (konjungtivitis alergi) yang ditandai dengan mata merah, berair, dan gatal. Bisa juga disertai dengan adanya banyak kotoran mata (belekan). Namun demikian, kemampuan penglihatan biasanya tidak terganggu.
  • Gejala pada hidung dan saluran napas berupa bersin-bersin, hidung tersumbat, pilek, batuk, dan sesak napas yang tak jelas penyebabnya. Selain itu, serangan asma juga bisa terjadi, yang ditandai dengan batuk berdahak, sesak, dan mengi (bunyi ”ngik-ngik” saat mengembuskan napas).
  • Gejala pada kulit, antara lain berupa munculnya bintik-bintik kemerahan dan gatal pada kulit.

Gejala-gejala tersebut muncul terutama pada saat penderita berdekatan dengan pohon Natal. Jadi jika Anda atau ada anggota keluarga memiliki sindrom ini, jangan berada di dekat pohon Natal.

Penanganan sindrom pohon Natal

Untuk mengobati sindrom pohon Natal, cara yang paling tepat dan utama adalah dengan menjauhkan zat-zat yang menjadi pencetus reaksi alergi. Yang paling mudah adalah dengan menghindari memasang pohon Natal di rumah.

Namun demikian, jika sangat menginginkan adanya pohon Natal di rumah, berikut beberapa tips memilih dan merawat pohon Natal yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko sindrom pohon Natal.

  1. Sebisa mungkin, lebih baik gunakan pohon Natal sintetis dibandingkan dengan pohon asli. Itu karena pohon Natal asli cenderung memiliki lebih banyak jamur.
  2. Pilihlah pohon Natal yang berukuran tak terlalu besar.
  3. Hindari menggunakan banyak ornamen dengan bahan dasar kertas karena debu akan mudah melekat.
  4. Jika menggunakan pohon Natal dari tahun sebelumnya, usahakan untuk menjemurnya di bawah sinar matahari dulu. Jika memungkinkan, gunakan kemoceng dan mesin penyedot debu untuk membersihkannya terlebih dahulu. Jika tidak bisa, gunakan kain basah yang diberi sabun untuk membersihkan seluruh permukaan pohon Natal.
  5. Letakkan pohon Natal di dekat jendela, pintu, atau di lokasi yang sirkulasi udaranya baik.

Ikuti tips di atas jika ingin memasang pohon Natal di dalam rumah. Tak hanya diperlakukan sebagai hiasan, Anda juga harus menjaga kebersihan pohon Natal agar terhindar Anda dan keluarga terhindar dari sindrom pohon Natal. Pastikan juga bahwa sirkulasi udara di ruangan tempat pohon Natal dipasang baik agar jamur tak berkembang biak.

[HNS/ RVS]

Lanjutkan Membaca ↓