Kiat Atasi Trauma Korban Tsunami Selat Sunda

Oleh dr. Andika Widyatama pada 24 Dec 2018, 16:12 WIB
Dampak dari bencana tsunami Selat Sunda dapat menimbulkan gangguan psikis berupa trauma. Bagaimana upaya untuk mengatasinya?
Kiat Atasi Trauma Korban Tsunami Selat Sunda (AFP/Liputan6)

Klikdokter.com, Jakarta Suasana duka kembali menyelimuti bangsa Indonesia. Pada Sabtu (22/12) lalu, sekitar pukul 21.00 WIB bencana alam tsunami terjadi di wilayah Selat Sunda. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geosifika (BMKG) menduga tsunami yang terjadi tersebut berhubungan dengan aktivitas letusan di Gunung Krakatau sebelumnya. Bencana alam ini dapat menimbulkan dampak ganguan psikis, mulai dari stres, depresi, hingga trauma.

Tsunami Selat Sunda menerjang beberapa wilayah di sekitarnya - Kabupaten Pandeglang, Serang, Lampung Selatan, dan Tanggamus - hingga menimbulkan korban jiwa. Menurut data yang dihimpun oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hingga Minggu (23/12/2018) pukul 16.00 WIB, tercatat 222 orang meninggal dunia, 843 orang luka-luka, dan 28 orang hilang.

Rentan menimbulkan masalah gangguan kesehatan

Setiap bencana alam - termasuk bencana alam tsunami - tentu dapat menimbulkan berbagai kerusakan dan masalah. Tidak hanya infrastruktur dan perekonomian, bencana alam juga dapat memengaruhi kondisi kesehatan para korban.

Segala kejadian selama bencana dan setelahnya dapat menimbulkan trauma psikis atau gangguan stres pasca trauma. Gangguan stres pasca trauma dapat dialami siapapun, baik orang dewasa maupun anak-anak. Bahkan, dapat dialami oleh relawan yang terpapar di area bencana terjadi.

Gangguan stres pasca trauma atau post-traumatic stress disorder (PTSD) adalah gangguan kesehatan jiwa yang dipicu oleh sebuah peristiwa menakutkan (peristiwa traumatis) yang pernah dialami atau disaksikan, seperti bencana alam, kecelakaan lalu lintas, atau perampokan.

Pada PTSD, ketika penderita mengingat peristiwa yang menakutkan baginya, maka akan timbul rasa cemas. Tidaklah mudah untuk mendeteksi gangguan pada kesehatan jiwa atau trauma psikis.

Apalagi, pada kondisi yang kurang kondusif seperti pasca terjadinya bencana alam. Beberapa gejala yang bisa mengiringi PTSD yang dialami korban bencana, antara lain:

  • Sering mengingat peristiwa traumatis yang dialami
  • Sering mimpi buruk berkaitan dengan peristiwa yang memicu trauma
  • Cenderung menghindar dari pembicaraan atau ingatan yang berhubungan dengan peristiwa traumatis
  • Menjadi lebih berpikir secara negatif
  • Sulit berkonsentrasi
  • Mudah merasa cemas
  • Mudah marah.

Para korban bencana alam tsunami dengan gangguan stres pasca trauma tentu saja membutuhkan pertolongan segera, agar dapat mempertahankan kehidupan yang berkualitas.

1 of 2

Penanganan pada korban yang mengalami gangguan stres

Penanganan gangguan tersebut dapat berbeda tergantung dari keparahan yang dialami setiap korban. Terapi utama pada PTSD adalah psikoterapi. Di sisi lain, ada kalanya pemberian obat oleh dokter diperlukan sebagai terapi.

Disamping penanganan di atas, ada beberapa kiat yang dapat Anda lakukan untuk membantu mengatasi trauma psikis yang dialami oleh para korban tsunami, meliputi:

  • Mencurahkan pikiran dan perasaan

Korban pasca bencana alam cenderung terngiang-ngiang dengan segala kejadian selama bencana alam terjadi. Berputar dan terfokus pada pikiran dan perasaan tersebut tentu saja hanya akan membuat korban lebih sedih atau pun stres. Lebih baik, ajak korban untuk menceritakan apa yang dipikirkan dan dirasakan terhadap kejadian bencana alam yang menimpa.

Cerita dapat dibagikan kepada orang-orang terdekat yang mungkin berada di area pengungsian bencana, seperti keluarga, tetangga, atau pun relawan bencana.

Perlu menjadi catatan, bercerita pada orang yang mengalami kejadian serupa akan dapat lebih menguatkan diri karena korban menjadi merasa tidak sendiri. Selain itu, mencurahkan isi pikiran dan perasaan juga dapat dilakukan dengan cara menulis jika korban tidak cukup nyaman untuk berbagi cerita kepada orang lain.

  • Mengalihkan pikiran negatif

Untuk menghindari pikiran atau perasaan yang cenderung negatif, para korban bencana disarankan untuk mengalihkan pikiran secara bertahap menjadi lebih positif. Caranya tentu dengan menyibukkan diri dengan menjadi relawan atau membantu sesama korban bencana.

Kegiatan seperti memasak dan menyiapkan makanan bersama untuk korban di area pengungsian juga bisa menjadi kegiatan yang mengalihkan pikiran negatif. Bila mungkin, korban bisa membenahi dan membersihkan beberapa barang-barang miliknya yang masih bisa digunakan.

Sebisa mungkin, hindari segala informasi terkait bencana yang belum jelas kepastiannya dan cenderung menimbulkan pandangan negatif. Pastikan informasi yang didapat bukanlah hanya sekedar rumor, tapi merupakan fakta.

  • Lakukan kegiatan relaksasi

Cobalah membuat tubuh menjadi lebih rileks baik secara fisik maupun psikis. Cara paling mudah, korban dapat melakukan meditasi atau peregangan. Lakukan bersama-sama korban lainnya untuk menciptakan suasana yang lebih nyaman.

Fokuskan pikiran dan perasaan pada hal yang positif dan menumbuhkan semangat. Bayangkan berbagai peristiwa atau hal yang pernah membuat diri bahagia. Kemudian, jika memiliki hobi dan mungkin dilakukan, lakukanlah hobi tersebut. Misalnya saja, hobi mendengarkan atau memainkan musik yang dapat membantu untuk membuat tubuh lebih rileks.

  • Berusaha menghadapi ketakutan

Takut atau cemas karena peristiwa traumatis merupakan hal yang wajar. Namun, takut secara berlebihan terhadap sesuatu hal dapat pula menurunkan produktivitas seseorang.

Sebaiknya, secara bertahap para korban mulai menguatkan diri dalam menghadapi ketakutan tersebut. Cobalah untuk membangun kepercayaan diri. Biarlah yang sudah berlalu, lihatlah harapan ke depan. Jangan sampai masa lalu mengekang kehidupan korban.

Demikianlah beberapa kiat yang dapat Anda lakukan untuk mengatasi trauma pada korban tsunami Selat Sunda. Bila mengalami kesulitan, jangan ragu untuk meminta pertolongan kepada ahlinya untuk mengatasi trauma psikis tersebut. Semoga para korban tetap semangat untuk melanjutkan hidup dengan harapan yang baru.

[NP/ RVS]

Lanjutkan Membaca ↓