Antisipasi Keracunan Makanan Saat Liburan, Kenali Gejalanya

Oleh Krisna Octavianus Dwiputra pada 26 Dec 2018, 16:40 WIB
Momen liburan membuat Anda berpeluang makan sembarangan. Waspadai keracunan makanan dengan mengenali gejalanya.
Antisipasi Keracunan Makanan Saat Liburan, Kenali Gejalanya (Dragana-Gordic/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Momen liburan Natal dan Tahun Baru tentu sangat menyenangkan. Liburan yang cukup panjang ini tak jarang dimanfaatkan untuk mengunjungi daerah baru dan mencicipi makanan khas daerah tersebut. Akan tetapi, Anda tetap perlu berhati-hati saat melakukan wisata kuliner. Jika Anda doyan mencicipi makanan-makanan baru, waspadalah terhadap kondisi keracunan makanan. Kejadian ini bisa menimpa siapa saja. Oleh karena itu, Anda perlu mengenali sejumlah gejalanya.

Mengantisipasi keracunan makanan

Menurut WebMD, keracunan makanan adalah istilah luas yang sebenarnya dapat mencakup banyak infeksi yang berbeda. Maka dari itu, gejala dan keparahannya akan bervariasi.

Kondisi ini sangat tergantung pada jenis bakteri, virus, atau parasit yang menginfeksi Anda, berapa banyak yang ada di sistem Anda, dan seberapa baik sistem kekebalan tubuh Anda dalam melawannya.

Gejala keracunan makanan yang paling lazim terjadi adalah diare, mual, dan muntah. Ketiga hal itu juga bisa dibilang sebagai tanda awal ketika Anda keracunan makanan.

Jika Anda memiliki kasus yang ringan, Anda mungkin berpikir Anda memiliki virus flu perut. Flu perut atau gastroenteritis adalah penyakit yang menyerang saluran pencernaan (lambung dan usus), atau kondisi yang merujuk pada berbagai gejala yang timbul akibat peradangan di saluran pencernaan.

Tanda-tanda seperti kram di perut dan usus Anda, diare, dan muntah bisa terjadi 1 jam setelah Anda mengonsumsi makanan yang tercemar. Selambat-lambatnya sekitar 10 hari atau lebih lama, itu tergantung pada apa yang menyebabkan Anda mengalami infeksi.

Beberapa kemungkinan lain, gejala umum dari berbagai keracunan makanan mungkin termasuk:

  • Kembung dan gas
  • Demam
  • Nyeri otot
  • Kelemahan
  • Nyeri perut dan kram.

Selain yang disebutkan di atas, Anda mungkin bisa mengalami keracunan makanan yang biasanya disebut dengan Botulisme. Ini biasanya disebabkan bakteri Campylobacter, E. coli, Listeria, Salmonella, dan Shigella.

Jenis keracunan makanan ini memang jarang terjadi. Akan tetapi, jika Anda sudah terkena, gejala botulisme cukup parah, ini meliputi:

  • Bicara cadel atau pandangan kabur
  • Kelemahan otot
  • Sulit menelan
  • Mulut kering
  • Kelumpuhan otot mulai dari kepala ke bawah melalui tubuh
  • Muntah.

Kapan harus mendapatkan perawatan?

Keracunan dalam kasus ringan biasanya bisa sembuh sendiri dengan istirahat dan mengonsumsi banyak cairan. Hanya saja, Anda harus segera mendapatkan perawatan ketika mengalami:

  • Tanda-tanda dehidrasi: mulut kering, sedikit atau tidak ada buang air kecil, pusing, atau mata cekung
  • Ketidakmampuan untuk menahan cairan tanpa muntah
  • Diare yang berlangsung lebih dari 2 hari atau 1 hari pada anak
  • Nyeri hebat atau muntah
  • Demam sampai 38 derajat celsius atau lebih. Di sisi lain, Anda juga segera membawa bayi Anda ke dokter ketika suhu duburnya mencapai 37 derajat celsius
  • Kotoran yang berwarna hitam atau berdarah
  • Kelemahan otot
  • Kesemutan di tangan
  • Penglihatan buram
  • Kebingungan
  • Penyakit kuning (kulit kuning), yang bisa menjadi tanda hepatitis A.

Nah, itu adalah tanda-tanda jika Anda mengalami keracunan makanan. Ingat, jika gejalanya sudah lebih dari 1 hari (bagi anak-anak) atau 2 hari (bagi orang dewasa), segera periksa ke dokter agar segera mendapatkan penanganan yang tepat.

[RVS]