4 Kondisi Janin yang Berbahaya

Oleh dr. Alvin Nursalim, SpPD pada 28 Dec 2018, 08:00 WIB
Semua calon ibu tentu ingin janinnya sehat. Namun, Anda juga perlu mengetahui kondisi janin yang berbahaya.
4 Kondisi Janin yang Berbahaya (Macrovector/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Kesehatan janin adalah prioritas setiap pasangan suami istri. Untuk memastikannya, dibutuhkan pola hidup yang sehat serta kontrol rutin ke dokter. Namun demikian, meski Anda pasti ingin janin dalam kandungan selalu sehat, tapi kenyataan bisa berkata lain. Karenanya, Anda juga perlu tahu terdapat beberapa gangguan kesehatan janin yang dapat berbahaya.

Kondisi berbahaya yang dialami janin perlu dideteksi sejak dini. Berikut ini adalah beberapa kondisi yang bisa membahayakan janin:

  1. Gawat janin

Gawat janin digunakan untuk menggambarkan ketika janin tidak menerima jumlah oksigen yang cukup selama kehamilan atau persalinan. Kondisi ini sering kali terdeteksi melalui denyut jantung janin yang abnormal.

Salah satu penyebab kondisi gawat janin adalah adanya gangguan pada plasenta. Penting untuk diingat, tugas plasenta adalah menghantarkan aliran darah dan oksigen ke janin.

Pada beberapa keadaan gangguan plasenta, fungsi ini tidak berjalan dengan baik. Beberapa penyebab gangguan plasenta di antaranya adalah gangguan pembuluh darah pada ibu, infeksi di dalam rahim, lilitan tali pusat, dan masih banyak lagi.

Penanganan kondisi gawat janin tergantung dari penyakit yang mendasarinya. Namun, secara umum dokter dapat melakukan tindakan pengakhiran kehamilan dengan cara operasi caesar.

  1. Kelainan jantung kongenital

Kelainan jantung kongenital terjadi pada sekitar 1 dari 110 kelahiran. Penyebabnya ada beragam, termasuk kelainan genetik atau gangguan selama masa perkembangan janin. Gangguan jantung janin dapat berupa kelainan yang ringan, sehingga janin tidak memperlihatkan gejala.

Dalam beberapa keadaaan, dokter dapat mendeteksi adanya masalah jantung pada janin ketika dokter mendengar suara jantung yang tidak normal (atau biasa disebut sebagai murmur) selama pemeriksaan rutin. Untuk memastikan adanya gangguan jantung, biasanya perlu tes lebih lanjut untuk menentukan apakah bayi benar-benar memiliki cacat jantung.

Jika memang terdapat cacat jantung yang serius, maka harus ditangani dengan tepat. Jika tidak, bisa mengakibatkan gagal jantung kongestif. Kondisi ini menyebabkan jantung bayi tak dapat memompa darah ke tubuh, sehingga bayi bisa mengalami sesak napas dan biru. Gangguan jantung kongenital dapat ditangani dengan operasi atau pemberian obat khusus.

1 of 2

Selanjutnya

  1. Spina bifida

Spina bifida merupakan kelainan bawaan yang terjadi apabila tulang dan saraf tulang belakang tidak terbentuk secara sempurna. Spina bifida terjadi pada sekitar 1 dari 2.000 kelahiran. Kelainan ini paling sering ditemukan pada keturunan ras kaukasoid.

Penyebab spina bifida adalah kecacatan pada tabuh saraf yang mencegah tulang punggung menutup sepenuhnya selama perkembangan janin. Pada keadaan spina bifida yang berat, operasi diperlukan untuk memperbaiki kerusakan yang terjadi.

  1. Bibir sumbing

Bibir sumbing merupakan kelainan celah pada bibir atas. Celah ini bisa terjadi pada bagian langit-langit rongga mulut (cleft palate), bisa juga dialami pada bagian bibir saja (cleft lip). Penyebab pasti dari bibir sumbing sulit ditentukan. Namun, interaksi faktor genetik dan lingkungan menyebabkan gangguan dalam proses pembentukan palatum (tulang yang terdapat pada langit-langit mulut).

Gangguan bibir sumbing dapat menunjukkan tanda yang  ringan sampai keadaan yang parah (melibatkan bibir, lantai lubang hidung, dan lengkungan gigi). Anak dengan celah pada langit-langit biasanya membutuhkan terapi wicara agar dapat berbicara dengan baik. Perkembangan bahasa tak hanya dipengaruhi oleh struktur bibir dan palatum, tapi juga oleh efek samping dari infeksi telinga tengah. Infeksi ini umum terjadi pada bayi dan balita dengan cacat ini.

Penanganan anak dengan bibir sumbing melibatkan tim dokter khusus, mulai dari dokter bedah saraf, dokter gigi spesialis mulut, hingga ahli terapi wicara.

Untuk meminimalkan kondisi janin yang berbahaya atau terjadinya kecacatan pada bayi, Anda harus rutin check-up ke dokter spesialis kandungan, menjaga berat badan tetap ideal, makan makanan sehat dan bergizi lengkap yang sesuai dengan kondisi hamil, menghindari kafein dan minuman beralkohol, serta berhenti dan jauhi diri dari rokok dan asapnya.

[RN/ RVS]

Lanjutkan Membaca ↓