Perkenalkan, Tren Diet Dubrow!

Oleh dr. Karin Wiradarma pada 30 Dec 2018, 16:00 WIB
Belum selesai tren diet keto, kini muncul diet baru, yaitu diet Dubrow. Yuk, kenali lebih jauh!
Perkenalkan, Tren Diet Dubrow! (studioloco/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Diet keto menjadi sangat booming karena banyak cerita sukses di baliknya. Tak sedikit orang yang berhasil menurunkan berat badan dengan menjalankan diet keto tersebut. Belum selesai diet keto, kini telah muncul diet baru, yakni diet Dubrow. Apa itu diet Dubrow?

Diet Dubrow diciptakan oleh pasangan suami istri yang membintangi serial TV, Heather Dubrow dan dr. Terry Dubrow, seorang ahli bedah plastik.

Prinsip dari diet Dubrow adalah modifikasi dari puasa intermiten (intermittent fasting). Anda bisa berpuasa selama 12, 14, atau 16 jam per hari, dan makan dalam rentang waktu yang ditentukan oleh diet ini.

Tiga fase dalam diet Dubrow

Terdapat tiga fase dalam diet Dubrow, yakni:

  • Fase pertama (menurunkan berat badan)

Pada fase pertama, Anda diharuskan membagi waktu 16 jam berpuasa dan 8 jam untuk makan. Lakukan ini selama 2-5 hari pertama. Fase pertama bertujuan untuk mengatur pola lapar dan kenyang Anda.

  • Fase kedua (mencapai berat badan ideal)

Setelah selesai dengan fase pertama, Anda akan masuk ke fase kedua. Fase kedua ini harus Anda lakukan hingga mencapai target berat badan yang diinginkan.

Seberapa cepat Anda dapat mencapainya, tergantung dari seberapa lama Anda berpuasa. Jika ingin meraih berat badan ideal yang diinginkan dalam waktu relatif cepat, Anda harus terus menerapkan periode 16 jam berpuasa dan 8 jam makan, seperti fase pertama. Namun di sela-sela periode tersebut, Anda dapat melakukan beberapa kali cheating dengan mengonsumsi makanan sehat.

Waktu makan Anda dapat dimulai pada pukul 1 siang (makan siang), diikuti dengan makanan ringan, lalu makan malam. Selain itu, diet Dubrow juga memberikan panduan kepada Anda mengenai berapa banyak makanan yang dapat dimakan dalam sehari.

  • Protein (ikan, daging merah, daging unggas, telur, tahu, tempe): 2-3 sajian per hari.
  • Lemak (kuning telur, minyak, lemak hewan): 2-3 sajian per hari.
  • Kacang-kacangan dan makanan ringan: 1 sajian per hari.
  • Susu dan produknya (keju, yoghurt, krim, mentega): 1 sajian per hari.
  • Sayur-sayuran: 2-3 sajian per hari.
  • Buah: 1-2 sajian per hari.
  • Karbohidrat kompleks (nasi merah, nasi cokelat, oatmeal, roti gandum, pasta gandum): 1 sajian per hari.
  • Fase ketiga (mempertahankannya)

Setelah berhasil mendapatkan berat badan ideal yang Anda targetkan, maka Anda dapat memasuki fase 3 yang merupakan fase maintenance.

Pada fase ini, Anda disarankan untuk tetap menjalankan pola makan dasar yang Anda terapkan pada fase 2 hingga waktu yang tidak ditentukan – yaitu 12 jam berpuasa dalam 5 hari, dan 16 jam berpuasa dalam 2 hari. Dengan terus menjalankan pola tersebut, diharapkan Anda dapat mempertahankan berat badan yang sudah didapatkan dengan susah payah tersebut.

Pro dan kontra diet Dubrow

Selain diet keto, metode diet lain yang sangat populer di dunia memang adalah puasa intermiten. Metode ini diklaim dapat menurunkan berat badan dan lemak tubuh lebih efektif dibandingkan dengan diet konvensional.

Kendati demikian, berbagai penelitian dari tahun 2015 hingga 2017 menunjukkan bahwa metode puasa intermiten tidak lebih baik daripada metode mengurangi kalori – seperti dalam diet konvensional – dalam menurunkan berat badan dan lemak tubuh. Selain itu, para ahli menganggap pola berpuasa dan makan yang diterapkan oleh diet Dubrow merepotkan dan agak sulit diikuti.

Terlepas dari kekurangannya, para ahli setuju bahwa diet Dubrow menerapkan pola diet sehat dengan memasukkan karbohidrat kompleks, sayur, buah, protein, dan lemak sehat. Selain itu, diet Dubrow juga tidak memusingkan Anda untuk menghitung kalori karena diet Dubrow memang sudah rendah kalori, bahkan kadang bisa terlalu rendah untuk orang yang memiliki aktivitas sedang hingga berat.

Namun karena diet Dubrow masih pro dan kontra, jika Anda ingin mencoba melakukannya, konsultasikan terlebih dahulu kepada dokter spesialis gizi supaya tak salah langkah.

[RS/ RVS]