Penyebab Tuberkulosis Kelenjar pada Rifai Pamone

Oleh dr. Resthie Rachmanta Putri. M.Epid pada 31 Dec 2018, 08:00 WIB
Jurnalis Rifai Pamone dikabarkan menderita tuberkulosis kelenjar sebelum meninggal dunia. Apa penyebab penyakit tersebut?
Penyebab Tuberkulosis Kelenjar pada Rifai Pamone (Foto: rifai.pamone/Instagram)

Klikdokter.com, Jakarta Dunia jurnalistik Indonesia kehilangan salah satu jurnalis muda terbaiknya, Rifai Pamone. Jurnalis yang terkenal dengan pembawaannya yang tenang dan berkarisma tersebut meninggal dunia pada usia 37 tahun, Jumat (28/12) lalu. Hingga kini belum jelas kondisi apa yang menyebabkannya menghembuskan napas terakhir, namun dikabarkan bahwa pria yang berkiprah di Metro TV tersebut mengalami tuberkulosis (TB) kelenjar beberapa bulan terakhir.

Tuberkulosis kelenjar yang diderita Rifai Pamone merupakan salah satu penyakit yang banyak ditemukan di Indonesia. Hingga pada tahun 2018, Indonesia menempati peringkat kedua negara dengan penderita tuberkulosis terbanyak. Tak hanya itu, TBC juga masih menjadi penyebab tertinggi kematian akibat penyakit menular di Indonesia.

Tuberkulosis menyerang beragam organ tubuh

Tuberkulosis merupakan penyakit yang bisa menginfeksi berbagai organ dalam tubuh, mulai dari otak, mata, rongga mulut, tenggorokan, paru, selaput jantung, usus, ginjal, tulang belakang, kelenjar getah bening, serta kulit.

Di antara semua organ tubuh tersebut, organ yang paling banyak diserang adalah paru (penyakitnya disebut dengan istilah tuberkulosis paru), diikuti dengan kelenjar getah bening (penyakitnya disebut dengan istilah tuberkulosis kelenjar atau limfadenitis TB).

Penyebab penyakit tuberkulosis adalah jenis bakteri bernama Mycobacterium tuberculosis (M. tuberculosis). Bakteri tersebut biasanya masuk dan menginfeksi tubuh seseorang melalui percikan dahak penderita tuberkulosis di dekatnya yang menyebar di udara.

1 of 2

Penyakit yang sering ”sembunyi”

Yang unik dari bakteri tuberkulosis, saat ia masuk ke dalam tubuh seseorang, ia tersebut tak selalu menimbulkan penyakit. Kadang kala bakteri tersebut hanya ”bersembunyi” di dalam sel tubuh seseorang dan tak menyebabkan gejala apapun. Kondisi seperti ini pada umumnya tidak membahayakan.

Namun demikian, pada orang yang daya tahan tubuhnya rendah, bakteri tuberkulosis dapat menginfeksi berbagai organ dan menimbulkan berbagai gejala yang dapat mengancam nyawa.

Berikut ini adalah beberapa kondisi tubuh yang dapat menyebabkan kuman tuberkulosis menyebabkan gejala serius.

  1. Anak-anak atau kaum lanjut usia

Sistem imun pada anak-anak, khususnya balita, belum matang sepenuhnya. Sementara itu, sistem imun pada kaum lansia cenderung melemah. Kedua hal ini menyebabkan anak dan kaum lansia rentan mengalami gejala yang berat bila terinfeksi tuberkulosis. Penanganan penyakit tuberkulosis pada anak dan lansia harus dilakukan dengan cepat untuk mencegah tuberkulosis menyebar dan menginfeksi berbagai organ.

  1. Diabetes mellitus

Penderita diabetes mellitus (DM), khususnya yang kadar gula darahnya tidak terkontrol dengan baik, memiliki kadar gula yang tinggi di dalam darahnya. Gula tersebut menjadi media yang ”nyaman” bagi perkembangbiakan kuman tuberkulosis. Kuman bertambah jumlahnya dengan sangat cepat pada penderita DM dan lebih rentan menyebabkan gejala penyakit TB yang berat.

  1. Malnutrisi

Orang-orang yang mengalami gizi kurang atau gizi buruk juga lebih rentan mengalami penyakit tuberkulosis. Hal ini karena asupan protein yang cenderung rendah pada penderita malnutrisi mengakibatkan daya tahan tubuh tidak berfungsi sebagaimana mestinya dan bakteri penyebab tuberkulosis menjadi mudah menyebar ke berbagai organ.

  1. Penyakit yang menyebabkan daya tahan tubuh turun

Berbagai penyakit yang menyebabkan lemahnya daya tahan tubuh akan memudahkan bakteri tuberkulosis menimbulkan gejala serius, seperti batuk yang berat, sesak napas, bengkaknya kelenjar getah bening, kelenjar pecah dan mengeluarkan nanah, penurunan kesadaran, dan sebagainya. Gangguan daya tahan tubuh yang dapat menyebabkan kondisi tersebut di antaranya adalah HIV/AIDS, pasca transplantasi organ, kanker, serta konsumsi obat jenis imunosupresan secara rutin pada penderita penyakit autoimun.

Meski kasusnya terbilang banyak di Indonesia, sebenarnya tuberkulosis kelenjar – seperti yang dialami Rifai Pamone -, tuberkulosis paru, dan penyakit lain akibat bakteri tuberkulosis pada umumnya bisa diobati hingga sembuh. Namun dibutuhkan keteraturan minum setidaknya empat jenis obat setiap hari selama minimal enam bulan, kontrol rutin setiap bulan ke dokter, serta perbaikan gizi untuk mendukung kesuksesan pengobatan.

[RVS]

Lanjutkan Membaca ↓