Wapadalah, Depresi Rentan Terjadi Jelang Tahun Baru

Oleh dr. Resthie Rachmanta Putri. M.Epid pada 31 Dec 2018, 13:00 WIB
Hati-hati, penyakit depresi sangat rentan dialami jelang tahun baru. Kenali gejalanya dan atasi segera!
Wapadalah, Depresi Rentan Terjadi Jelang Tahun Baru (Rawpixel.com/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Akhir tahun dan tahun baru menjadi hal yang dinanti banyak orang. Berbagai perayaan meriah, liburan, atau berkumpul bersama orang terdekat menjadi kebiasaan banyak orang untuk melewati akhir tahun dan merayakan tahun baru. Namun, di balik kemeriahan dan sukacitanya, ternyata momen tahun baru juga menjadi kondisi yang lebih rentan menimbulkan depresi bagi sebagian orang.

Berbagai studi yang dilakukan di Eropa, Amerika, dan Asia menunjukkan bahwa kejadian depresi meningkat jumlahnya pada akhir tahun dan tahun baru. Peningkatan kejadian depresi jelang tahun baru ditengarai terjadi karena beberapa hal, di antaranya adalah rasa kesepian di tengah maraknya orang berkumpul bersama orang terdekat, resolusi yang tidak tercapai, atau perasaan kecewa terhadap diri sendiri pada tahun yang akan berlalu.

Kenali tanda depresi sejak dini

Meski banyak dialami jelang tahun baru, sebenarnya depresi bukanlah penyakit yang datang secara tiba-tiba. Gangguan mental ini membutuhkan proses yang panjang. Oleh karena itu, sebelum depresi menjadi berat dan dapat membahayakan keselamatan, kenalilah tanda-tandanya sejak dini. Di antaranya adalah:

1. Kehilangan minat akan hal yang sebelumnya menjadi hobi

Ini adalah salah satu gejala utama depresi. Misalnya saja selama ini seseorang sangat gemar nonton film, lalu sekarang ia merasa tak ada keinginan sama sekali untuk menonton jenis film apapun, hati-hati ini bisa jadi tanda awal depresi.

2. Merasa tak memiliki energi untuk melakukan berbagai hal

Merasa lelah, badan lemas dan tak memiliki tenaga untuk beraktivitas juga merupakan gejala utama depresi. Pada kondisi depresi, kelelahan ini menyebabkan rasa malas dan tak berdaya dalam melakukan aktivitas ringan sehari-hari seperti mandi, menyiapkan makanan, bekerja, dan sebagainya.

1 of 3

Selanjutnya

3. Tidur terganggu

Pada kondisi depresi, gangguan tidur yang dialami bisa bermacam-macam jenisnya. Ada yang merasa sulit untuk memulai tidur di malam hari, terbangun berulang kali saat tengah malam, bangun tidur lebih awal dari yang direncanakan (misalnya sebenarnya ingin bangun jam 6 pagi tetapi jam 3 pagi sudah bangun dan tak bisa tidur lagi), atau justru terlalu banyak tidur.

4. Dihantui rasa bersalah

Pikiran dipenuhi akan rasa bersalah terhadap suatu hal yang tidak menjadi masalah bagi orang-orang di sekitar Anda. Pikiran akan rasa bersalah ini sampai mengganggu konsentrasi dan fokus dalam bekerja atau belajar hingga performa di tempat kerja atau sekolah menurun.

5. Hilang nafsu makan dan berat badan turun

Depresi menyebabkan rasa malas terhadap segala sesuatu, termasuk terhadap makanan. Bahkan enggan untuk mencicipi makanan yang biasanya disukai. Akibatnya, umumnya berat badan akan ikut turun. Pada orang yang mengalami depresi, umumnya berat badan turun 5% atau lebih dalam sebulan.

6. Sakit yang tak jelas penyebabnya

Kadang kala gejala depresi bukan berupa gangguan pada suasana hati atau perasaan. Pada sebagian penderita depresi, gejalanya berupa sakit di berbagai tempat seperti sakit kepala, sakit perut, pusing, atau mual muntah yang hilang timbul, dan tak kunjung sembuh meski sudah diberi obat oleh dokter. Selain itu, saat dilakukan berbagai pemeriksaan oleh dokter, semua hasil pemeriksaannya normal. Kondisi gangguan kesehatan seperti ini sangat mungkin disebabkan karena depresi.

7. Perilaku berpotensi bahaya

Untuk mengurangi dan menghilangkan ketidaknyamanan suasana hati, orang yang mengalami depresi melakukan hal-hal yang berpotensi membahayakan, misalnya mencoba bersenang-senang ke diskotek, berhubungan seksual secara bebas, atau mengkonsumsi obat penenang dan narkoba.

2 of 3

Mengatasi depresi jelang tahun baru

Depresi merupakan penyakit yang dapat diobati. Pada kondisi depresi yang masih ringan, kadang depresi bisa diatasi tanpa obat-obatan. Berikut ini beberapa langkah untuk mengatasi depresi yang dialami jelang tahun baru:

  • Bicarakan dengan orang terdekat yang dapat dipercaya

Mengakui diri mengalami depresi memang bukan hal yang mudah. Namun memberitahukannya kepada orang terdekat terbukti dapat mengurangi gejala yang dialami dan membantu mempercepat pemulihan.

  • Tetap aktif bersosialisasi meskipun tidak menyukainya

Orang yang mengalami depresi lebih suka menyendiri. Meski demikian, keinginan untuk terus menyendiri ini justru harus dilawan karena akan menyebabkan depresi lebih berat. Sebaliknya, paksa diri Anda untuk tetap terlibat dalam aktivitas bersama-sama orang lain misalnya berkumpul bersama keluarga atau terlibat dalam kegiatan keagamaan.

  • Libatkan diri dalam kegiatan kemanusiaan

Melibatkan diri dalam kegiatan sosial atau kemanusiaan - seperti mengunjungi panti asuhan, mengajar anak jalanan, membantu kaum lansia atau disabilitas – bisa membantu mempercepat pemulihan depresi. Hal seperti ini akan membantu penderita depresi untuk merasa lebih bersyukur dengan dirinya dan juga menyadarkan bahwa dirinya bisa memberi hal baik bagi orang lain.

  • Memiliki binatang peliharaan

Memiliki binatang peliharaan membantu orang yang mengalami depresi untuk tak merasa kesepian. Selain itu, merawat binatang juga terbukti dapat meringankan gejala. Anjing, kucing, burung, atau ikan dapat menjadi alternatif binatang peliharaan yang dapat dipertimbangkan.

Jika depresi yang Anda alami tak kunjung membaik dengan langkah-langkah di atas, jangan menunda untuk berkonsultasi lebih lanjut dengan psikiater. Kemungkinan dibutuhkan terapi khusus dan obat-obatan untuk mengatasinya. Jangan biarkan diri Anda larut  dalam kondisi depresi.  Sambutlah tahun baru dengan semangat dan suasana hati yang gembira!

[RVS]

Lanjutkan Membaca ↓