Kiat Atasi Anak Cemas Saat Kembali Masuk Sekolah Usai Liburan

Oleh dr. Fiona Amelia MPH pada 02 Jan 2019, 11:00 WIB
Liburan segera berakhir. Anak-anak akan kembali ke sekolah. Tapi, beberapa anak cemas saat akan kembali sekolah. Ini cara mengatasinya.
Kiat Atasi Anak Cemas Saat Kembali Masuk Sekolah Usai Liburan (MNStudio/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Layaknya orang dewasa, liburan seharusnya menjadi kesempatan bagi anak untuk rehat dari berbagai pekerjaan rumah dan ujian. Diharapkan saat masuk sekolah, anak telah kembali bersemangat untuk menerima pelajaran. Namun kadang, rasa cemas kerap menghantui anak saat akan kembali bersekolah usai libur panjang. Mengapa anak sering kali cemas saat akan masuk sekolah lagi?

Penyebab anak tak mau kembali bersekolah

Selama libur, pola tidur, makan dan aktivitas sehari-hari mungkin berbeda dan tidak teratur seperti biasanya. Interaksi dan kelekatan dengan orang tua selama liburan pun cukup intens. Ini dapat membuat transisi untuk kembali ke rutinitas sehari-hari cukup menyulitkan. Tak jarang, hal ini membuat sebagian anak menolak untuk kembali bersekolah.

Akar masalah utama yakni rasa cemas karena anak harus “berpisah” dengan orang tua. Hal ini dikenal dengan separation anxiety. Anak cemas karena ia merasa belum mampu mengelola emosi tersebut dan merasa aman secara mandiri. Karena itu, ia membutuhkan orang tua untuk menghibur dan meyakinkan dirinya.

Bagi anak-anak yang kerap di-bully atau tidak merasa nyaman dengan dirinya, kecemasan ini bisa sangat intens. Begitu juga dengan anak-anak yang cenderung sulit beradaptasi saat memulai tahun ajaran baru atau dengan lingkungan sekolah baru.

Kurang lebih 12 persen anak akan mengalami hal ini sebelum mencapai usia 18 tahun. Dan, ada periode-periode dimana kecemasan ini mencapai puncaknya, yakni di usia 3-4 tahun kala anak baru saja memulai sekolah, usia 6-7 tahun kala anak mulai masuk sekolah dasar, dan usia 12-14 tahun kala memasuki masa remaja.

1 of 3

Kiat atasi anak yang cemas untuk kembali bersekolah

Ada beberapa teknik yang bisa digunakan untuk membantu meringankan emosi dan rasa cemas anak yang akan kembali bersekolah, yaitu:

  1. Pergilah ketika kondisi sedang kondusif, bukan saat anak sedang lelah, lapar, atau resah. Bila Anda mempekerjakan pengasuh, pastikan anak sudah cukup mengenalnya sebelum Anda tinggal pergi.
  2. Biasakan untuk mengucapkan salam perpisahan. Gunakan kalimat pendek dan ucapkan dengan penuh kasih sayang. Ini akan membuat anak terbiasa sehingga merasa aman. Tapi ingat, jangan pernah menengok atau kembali meski anak merengek atau menangis. Anda mungkin sedih atau tidak tega melihatnya menangis, tapi bila Anda berlama-lama, masa transisi dan kecemasan anak pun akan berlangsung lebih lama.
  3. Tetap konsisten. Usahakan untuk melakukan ritual yang sama setiap hari saat berpisah. Rutinitas akan menghilangkan rasa sakit hati dan memungkinkan anak untuk membangun kemandiriannya sekaligus kepercayaannya pada Anda.
  4. Pegang janji Anda. Bila Anda selalu menepati janji untuk kembali—misalnya saat menjemput anak—sesungguhnya ini membangun rasa percaya anak kepada orang tua sekaligus mengembangkan kemandiriannya. Ini akan membuat anak yakin bahwa ia mampu tanpa Anda di sekitarnya.Ingat untuk menjemput anak tepat di waktu yang telah disepakati dan sebaiknya hindari membuat anak menunggu lama.
  5. Biarkan anak meluapkan emosi saat berpisah dengan Anda. Sampaikan bahwa perpisahan itu memang berat dan wajar bila mereka menangis. Mengekspresikan emosi tidak akan membuat emosi atau perilaku anak menjadi lebih buruk. Sebaliknya, ini akan mengurangi stres yang dialami anak akibat kemunculan emosi negatif tersebut.
  6. Saat kondisi tenang, diskusikan perasaan dan emosi mereka kala berpisah dengan Anda. Ini akan membantu anak mengenali dan belajar mengelola emosi-emosi negatif yang muncul. Dengan demikian, anak akan merasa bahwa itu adalah hal yang biasa dan tidak menakutkan. Anda pun bisa menggunakan buku cerita dengan kisah serupa untuk membantu anak mengenali dan mengelola emosinya.
  7. Temukan cara-cara yang dapat membuatnya ceria kembali. Ini akan membantu meringankan emosi negatif dan rasa cemas yang muncul, sekaligus membuat anak merasa memiliki kendali atas hal tersebut.
  8. Selalu berikan pujian saat anak tidak menangis kala berpisah, mampu mandiri, berani mencoba hal baru, saat mampu beradaptasi atau melakukan yang terbaik.
2 of 3

Orang tua pun bisa cemas

Sebagai orang tua, Anda pun dapat mengalami separation anxiety versi Anda sendiri. Kala dihadapkan dengan emosi yang intens dari anak, tanpa disadari emosi orang tua pun cenderung meluap. Kesabaran dan konsistensi Anda akan diuji. Tak jarang,orang tua pada akhirnya merasa sedih dan bersalah karena tak mampu mengendalikan emosinya terhadap anak.

Bisa dipahami bila sebagian dari Anda, terutama para ibu, tidak tega kala melihat anak menangis hebat saat berpisah. Namun, jangan pernah tergoda untuk menyelinap atau pergi diam-diam tanpa memberitahu anak. Itu hanya memperburuk situasi dan mengurangi rasa percaya anak pada Anda.

Sebaliknya, tenangkan diri, tarik napas panjang, dan yakinkan diri Anda bahwa ini hanya sementara dan pasti berlalu. Bila Anda tenang, anak pun akan tenang. Sebab, reaksi Anda menentukan bagaimana anak berespons dan berperilaku.

Di atas semuanya, ingatlah bahwa anak cemas terhadap perpisahan tersebut merupakan tanda bahwa ada ikatan yang sehat antara Anda dan si kecil. Saat ini, mungkin anak masih butuh diyakinkan bahwa ia mampu berdikari. Namun, dengan menerapkan kiat-kiat di atas secara sabar dan konsisten, perlahan anak akan mampu mengelola rasa cemas secara mandiri dan mau kembali bersekolah.

[HNS/ RVS]

Lanjutkan Membaca ↓