5 Penyebab Mimisan yang Berbahaya

Oleh dr. Andika Widyatama pada 07 Jan 2019, 08:00 WIB
Jangan anggap sepele mimisan. Bisa jadi penyebab mimisan adalah masalah kesehatan yang dapat membahayakan tubuh Anda.
5 Penyebab Mimisan yang Berbahaya (Emily Frost/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Mimisan merupakan salah satu masalah kesehatan yang tidak asing lagi. Hampir setiap orang pernah mengalami mimisan, baik anak-anak maupun orang dewasa. Penyebab mimisan pun bisa beragam, mulai dari yang ringan seperti terbentur, hingga pertanda adanya penyakit serius.

Mimisan adalah istilah awam yang digunakan ketika terdapat darah yang keluar dari hidung. Keluarnya darah tersebut terjadi ketika pecahnya pembuluh darah yang terdapat pada permukaan dalam rongga hidung. Dalam medis, mimisan dikenal dengan istilah epistaksis.

Berdasarkan lokasinya, epistaksis dibagi menjadi dua jenis, yaitu epistaksis anterior dan epistaksis posterior. Epistaksis anterior terjadi ketika perdarahan berasal dari pecahnya pembuluhdarah bagian depan hidung. Sementara itu, epistaksis posterior terjadi ketika lokasi perdarahannya di bagian belakang hidung.

Meski jarang menimbulkan masalah kesehatan yang serius, mimisan yang Anda alami bisa saja merupakan salah satu gejala dari suatu penyakit yang berbahaya. Berikut lima penyebab mimisan yang berbahaya.

  1. Leukemia

Leukemia atau biasa dikenal dengan kanker darah, merupakan kanker yang menyerang sel-sel darah putih (leukosit) dalam tubuh. Kanker ini berawal dari sumsum tulang yang menimbulkan produksi  sel-sel darah putih secara abnormal. Gejala leukemia antara lain kelelahan (fatigue), kelemahan, pusing, sakit kepala, sesak napas, kulit pucat, mudah terkena berbagai infeksi, demam, mudah memar atau berdarah, mudah mimisan, gusi rentan berdarah, nyeri pada sendi atau tulang, dan pembengkakan di perut.

Terdapat beberapa komplikasi yang dapat terjadi pada leukemia. Komplikasi tersebut berhubungan pula dengan menurunkan fungsi sel darah putih di dalam tubuh penderita leukemia, di antaranya infeksi berat (sepsis). Selain itu, bila fungsi trombosit menurun, dapat terjadi perdarahan di berbagai area tubuh, seperti otak, paru, dan pencernaan. Komplikasi infeksi berat dan perdarahan pada leukemia dapat mengancam nyawa penderitanya.

1 of 3

Selanjutnya

  1. Polip hidung

Polip hidung adalah pertumbuhan jaringan pada dinding dalam rongga hidung. Jaringan ini bersifat lunak, tidak sakit, dan bukan kanker. Bentuk polip menggantung menyerupai anggur atau tetesan air mata. Belum diketahui secara jelas penyebab dari polip hidung. Namun, polip hidung dikaitkan dengan proses peradangan kronis di hidung.

Beberapa gejala yang dapat muncul pada polip hidung adalah hidung tersumbat, hidung berair, indera penciuman dan perasa berkurang, mimisan, mengorok saat tidur, serta akumulasi lendir di tenggorokan (post-nasal drip). Jika tidak ditangani, polip hidung dapat menimbulkan komplikasi yang mengancam jiwa, yaitu sumbatan jalan napas saat tidur (obstructive sleep apnea).

  1. Hemofilia

Hemofilia adalah penyakit yang berhubungan dengan gangguan pembekuan darah karena kekurangan faktor pembekuan darah. Akibatnya, perdarahan akan sulit berhenti pada penderita hemofilia. Terdapat beberapa jenis hemofilia dan kebanyakan dipengaruhi faktor genetik.

Gejala yang muncul pada hemofilia bervariasi, tergantung seberapa kurangnya faktor pembekuan di dalam tubuh penderitanya. Jika faktor pembekuannya sangat rendah, penderita berpotensi mengalami perdarahan spontan tanpa intervensi secara sengaja seperti membuat perlukaan. Beberapa gejala hemofilia di antaranya perdarahan berlebihan tanpa sebab yang jelas, mudah memar, mimisan, urine atau tinja berdarah, dan nyeri disertai pembekakan pada sendi-sendi.

Beberapa komplikasi dapat terjadi pada hemofilia. Yang paling jelas, gangguan pembekuan darah tentu dapat menyebabkan perdarahan di berbagai area tubuh. Hemofilia yang parah dapat menyebabkan perdarahan di otak dan dapat membahayakan nyawa penderitanya.

2 of 3

Selanjutnya (2)

  1. Idiopathic thrombocytopenic purpura

Idiopathic thrombocytopenic purpura(ITP) merupakan penyakit autoimun yang menyebabkan gangguan pembekuan darah. Pada ITP, sistem kekebalan tubuh berlaku salah dengan menghancurkan trombosit tubuh sendiri. Padahal, trombosit dibutuhkan untuk proses pembekuan darah. Akibatnya, penderita ITP mudah mengalami perdarahan atau memar secara berlebihan.

Beberapa gejala ITP meliputi mudah memar secara berlebihan (purpura), perdarahan sulit berhenti, bintik-bintik merah keunguan di bawah kulit, mimisan, urine atau tinja berdarah, gusi mudah berdarah, dan perdarahan menstruasi secara berlebihan. Komplikasi dari ITP yang mengancam jiwa adalah ketika perdarahan sudah terjadi di otak. 

  1. Koarktasio aorta

Koarktasio aorta merupakan salah satu jenis kelainan jantung bawaan (kongenital) yang terjadi pada bagian pembuluh darah besar yang keluar dari jantung, yaitu aorta. Kelainan tersebut menimbulkan penyempitan pada aorta.

Penyempitan dapat terjadi pada satu lokasi atau lebih di sepanjang aorta. Akibatnya, aliran darah yang keluar dari jantung menuju seluruh peredaran darah tubuh menjadi terhambat.

Hambatan ini membuat otot di ventrikel kiri jantung harus bekerja lebih keras dalam memompa darah keluar dari jantung. Lama-kelamaan, kondisi demikian berpotensi memicu gagal jantung.

Gejala yang terjadi dapat bervariasi tergantung parahnya penyempitan pada aorta. Pada bayi baru lahir, umumnya tidak menunjukkan gejala. Kalaupun ada, gejala yang ditunjukkan antara lain sesak napas, kesulitan menerima makanan, berkeringat banyak, tekanan darah tinggi, hingga gagal jantung.

Sementara pada anak yang lebih besar dan orang dewasa, koarktasio aorta dapat menimbulkan gejala seperti tangan dan kaki teraba dingin, mimisan, nyeri dada, nyeri kepala, sesak napas, tekanan darah tinggi, pusing, hingga pingsan.

Koarktasio aorta yang tidak ditangani dapat menyebabkan berbagai komplikasi, seperti penyempitan katup aorta (stenosis aorta), tekanan darah tinggi, stroke, pembesaran aorta (aneurisma aorta), rupture aorta, hingga gagal jantung.

Berbagai gangguan ini dapat menghambat fungsi jantung. Padahal jantung merupakan organ vital yang menyuplai oksigen dan nutrisi ke seluruh jaringan tubuh.Kegagalan jantung dalam menjalankan fungsinya dapat disertai kegagalan fungsi organ-organ lainnya.

Mimisan hanyalah sebuah gejala dari suatu masalah kesehatan yang mendasarinya. Oleh karena itu, ada kalanya Anda membutuhkan penanganan medis yang lebih holistik untuk mencari tahu penyebab mimisan. Mimisan yang terjadi mendadak atau tidak sering jarang menjadi masalah serius. Namun, jika mimisan Anda sifatnya sering, bisa saja didasari masalah kesehatan yang lebih berbahaya. Segera periksakan diri Anda ke dokter untuk mendapat penanganan yang tepat.

[HNS/ RVS]

Lanjutkan Membaca ↓