Seberapa Sering Boleh Menggunakan Kontrasepsi Darurat?

Oleh dr. Fiona Amelia MPH pada 07 Jan 2019, 13:30 WIB
Amankah menggunakan kontrasepsi darurat berulang kali? Hati, hati, jangan asal pakai. Simak dulu fakta medisnya berikut ini.
Seberapa Sering Boleh Menggunakan Kontrasepsi Darurat? (Wavebreakmedia/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Kontrasepsi darurat (emergency contraception/EC) adalah metode kontrasepsi untuk mencegah kehamilan pasca hubungan intim yang dilakukan tanpa pengaman. Umumnya, metode kontrasepsi ini hanya digunakan satu kali dalam satu siklus haid. Lantas, bila seorang wanita memakainya lebih dari satu kali, adakah risikonya?

Kontrasepsi darurat atau disebut ‘morning after pill’ digunakan setelah dan bukan sebelum hubungan intim seperti metode kontrasepsi standar lainnya yang Anda kenal.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa kontrasepsi darurat dapat mencegah lebih dari 95 persen kehamilan bila digunakan dalam waktu 3-5 hari setelah hubungan intim tanpa pengaman.

Meski kontrasepsi darurat dapat membantu Anda dalam upaya pencegahan kehamilan, alat kotrasepsi ini sebaiknya tak asal dipilih. Gunakanlah kontrasepsi darurat hanya dalam situasi berikut ini, ketika kontrasepsi darurat memang diperlukan:

  • Melakukan hubungan intim tanpa pengaman dalam waktu 5 hari terakhir (120 jam).
  • Wanita mengalami kekerasan seksual dan tidak menggunakan metode kontrasepsi apapun.
  • Kemungkinan kegagalan kontrasepsi KB yang tinggi akibat penggunaan yang tidak tepat atau tidak teratur dalam waktu 5 hari terakhir (120 jam), misalnya akibat salah menghitung masa subur, kondom robek atau lupa dipakai saat berhubungan intim.

Selain itu, lupa mengonsumsi pil KB lebih dari dua hari berturut-turut, terlambat suntik KB hingga 2 minggu dari waktu yang seharusnya, atau akibat alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR/IUD) yang lepas tanpa disadari juga bisa menyebabkan KB gagal.

1 of 2

Jenis kontrasepsi darurat yang perlu Anda ketahui

Ada dua bentuk kontrasepsi darurat yang tersedia, yakni yang menggunakan AKDR dengan tembaga (copper IUD) serta yang berbentuk pil kontrasepsi darurat.Copper IUD adalah pilihan kontrasepsi darurat yang paling efektif. Namun, bentuk pil lebih umum dan lebih mudah digunakan.

Pil kontrasepsi darurat sendiri ada yang mengandung hormon, ada yang tidak. Yang mengandung hormon ada dua macam, yakni yang mengandung kombinasi etinil estradiol dan levonorgestrel, dan yang hanya mengandung levonorgesterol atau disebut progestin-only pill. Pil yang tidak mengandung hormon pun tetap mengandung zat aktif ulipristal acetate.

Dari ketiga jenis pil kontrasepsi darurat tersebut, progestin-only pill adalah yang paling sering digunakan. Penggunaannya juga aman pada wanita yang tidak bisa menggunakan pil kontrasepsi yang berbasis estrogen. Yakni, pada mereka yang memiliki riwayat serangan jantung, stroke, gangguan pembekuan darah, migrain, penyakit hati, atau sedang menyusui.

Cara kerja pil kontrasepsi darurat

Pil kontrasepsi darurat terutama bekerja mencegah atau menunda terjadinya proses ovulasi atau pelepasan sel telur di masa subur. Proses pembuahan juga ditahan dengan efek hormon pada lendir serviks yang akan mengganggu pergerakan sel sperma. Karena itu, penggunaannya baru akan efektif bila ovulasi belum terjadi.

Tak heran, beberapa studi menunjukkan bahwa penggunaan pil kontrasepsi darurat setelah ovulasi tidak menurunkan angka kehamilan.  Perlu digarisbawahi bahwa penggunaan pil kontrasepsi darurat ini tidak dapat mencegah pembuahan yang sudah terjadi.

Bila implantasi (menempelnya embrio pada dinding rahim) terlanjur terjadi, pil kontrasepsi darurat juga tidak akan mengganggu kehamilan atau membahayakan janin. Dengan kata lain, konsumsi pil ini tidak akan memicu keguguran.

Seberapa sering bisa digunakan?

Hingga kini, belum ada data yang jelas terkait keamanan dan efektivitas pil kontrasepsi darurat untuk penggunaan jangka panjang. Tapi, setidaknya ada 11 studi yang mengonfirmasi bahwa penggunaan levonorgestrel lebih dari satu kali per siklus haid tidak menimbulkan efek samping yang serius.

Hasil studi ini menunjukkan bahwa pil kontrasepsi darurat yang mengandung levonorgesterol aman digunakan sesering yang diperlukan untuk mencegah kehamilan. Untuk ulipristal acetate, memang belum ada studi terkait penggunaan berulang sebagai kontrasepsi darurat. Namun, penggunaannya sebagai terapi untuk mioma rahim telah banyak diteliti, dan termasuk aman untuk digunakan selama beberapa minggu, bila dikonsumsi dalam dosis rendah.

Secara umum, pil kontrasepsi darurat hanya dianjurkan untuk digunakan satu kali dalam satu siklus haid. Sebab, peluang efek sampingnya pun lebih besar seiring dengan meningkatnya frekuensi penggunaan.

Efek samping tersering yakni gangguan haid dalam bentuk haid yang terlambat, tidak teratur, atau hanya flek-flek saja. Meski demikian, keluhan ini akan berangsur-angsur menghilang dan siklus haid bisa kembali normal. Efek samping lain yang bisa muncul yakni sakit kepala, mual dan muntah, nyeri payudara, nyeri perut, rasa melayang, dan badan lemas.

Penting untuk diperhatikan bahwa sebaiknya Anda tidak mengandalkan pil ini sebagai metode kontrasepsi utama. Sebab, kontrasepsi darurat kurang efektif dalam mencegah kehamilan dibandingkan dengan kontrasepsi standar yang digunakan secara tepat dan konsisten. Hati-hati, kontrasepsi darurat juga tidak dapat mencegah infeksi menular seksual (IMS).

Jadi, bila Anda masih ingin menunda kehamilan dan tidak mau kelabakan akibat hubungan intim tanpa pengaman, sebaiknya berhentilah menggunakan kontrasepsi darurat. Berdiskusilah dengan dokter terkait pilihan metode kontrasepsi yang sesuai dengan kebutuhan Anda.

[NP/ RVS]

Lanjutkan Membaca ↓