Bullying Dapat Mengancam Struktur Otak Korban

Oleh Krisna Octavianus Dwiputra pada 09 Jan 2019, 14:20 WIB
Sebuah penelitian terbaru menyebut bahwa bullying (perundungan) dapat mengancam struktur otak korban.
Bullying Dapat Mengancam Struktur Otak Korban (Phonlamai-Photo/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Bullying (perundungan) telah menjadi perhatian serius banyak orang, khususnya para orang tua. Anda tentu tahu bahwa perundungan dapat melukai kesehatan mental, bahkan fisik. Dan sebuah penelitian terbaru mengatakan bahwa perundungan juga dapat mengancam struktur otak remaja.

Menurut dr. Sepriani Timurtini Limbong dari KlikDokter, perundungan merupakan tindakan penindasan yang dilakukan seorang oknum hingga korbannya mengalami kesulitan untuk mempertahankan dirinya. Pelaku biasanya lebih kuat dibandingkan korbannya, sehingga tindakan perundungan akan dilakukan secara berulang.

Perundungan bisa dilakukan dengan berbagai cara. Hal yang paling umum adalah fisik (memukul, mendorong, mencubit, menendang) dan verbal (mengejek nama, mengancam, memaki, mencibir, menghujat, memfitnah). Akan tetapi, ada juga perundungan yang sudah menyentuh cyberbullying, segala bentuk intimidasi yang dilakukan melalui ponsel, media sosial, atau internet.

Secara mental, perundungan akan mengakibatkan rendahnya rasa percaya diri, risiko depresi, dan gangguan kecemasan. Hal yang perlu dicermati adalah, masalah mental yang dihadapi tidak berumur pendek. Itu bisa berefek panjang sampai puluhan tahun atau seumur hidup

Menurut sebuah penelitian yang dimuat di jurnal The American Journal of Psychiatry, mereka yang menjadi korban perundungan di masa anak-anak akan mengalami gangguan mental, fisik, dan kognitif hingga empat puluh tahun setelahnya.

Itu baru secara mental. Penelitian terbaru yang dimuat di jurnal Molecular Psychiatry menyebutkan bahwa korban perundungan juga rentan mengalami perubahan pada struktur otak.

Efek perundungan pada otak

Peneliti Erin Burke Quinlan dan rekan-rekannya dari King's College London di Inggris melakukan penelitian tersebut. Mereka menganalisis kuesioner dan pemindaian otak pada lebih dari 600 anak-anak muda dari berbagai negara di Eropa. Ini merupakan penelitian jangka panjang, dan dilakukan ketika para peserta berusia 14 dan 19 tahun.

Para ilmuwan menemukan bahwa lebih dari 30 peserta penelitian pernah mengalami intimidasi kronis (jangka panjang). Kemudian, mereka membandingkan data dengan anak-anak muda yang tidak pernah menjadi korban perundungan kronis. Analisis menunjukkan bahwa perundungan parah terkait dengan perubahan volume otak dan tingkat kecemasan pada usia 19 tahun.

Disebutkan bahwa perundungan dapat menurunkan volume bagian otak yang disebut caudate dan putamen. Caudate memainkan peran penting dalam bagaimana otak memproses ingatan. Artinya, caudate menggunakan informasi dari pengalaman masa lalu untuk memengaruhi tindakan dan keputusan di masa depan. Sementara itu, putamen mengatur dan memengaruhi pembelajaran.

Quinlan menjelaskan sangat mengkhawatirkan bahwa sebanyak 30 persen anak muda mengalami perundungan hampir setiap hari. Dia juga menyoroti pentingnya perkembangan otak selama masa remaja.

Seperti dilansir Raising Children, untuk membangun otak remaja yang sehat dibutuhkan lingkungan yang memadai. Orang tua juga dapat menunjangnya dengan mendidik anak remaja mengenai perilaku positif, mempromosikan kemampuan berpikir yang baik, dan mendorong mereka untuk menjaga kesehatan.

Jadi jelas bahwa anak-anak atau remaja yang mengalami bullying secara intens akan mengalami perubahan struktur otak, terutama di bagian caudate dan putamen. Ini akan memengaruhi hidup mereka di masa mendatang lewat ingatan-ingatan yang menakutkan akibat perundungan. Mengetahui betapa berbahayanya perundungan, mulailah untuk lebih memperhatikan isu-isu seputar perundungan untuk memastikan buah hati Anda memiliki masa kanak dan remaja yang sehat dan bahagia.

[RS/ RVS]