Kenali Prosedur Pengecilan Lambung bagi Wanita 350 Kg di Kalteng

Oleh dr. Andika Widyatama pada 11 Jan 2019, 15:18 WIB
Prosedur pengecilan lambung akan dilakukan pada kasus obesitas yang dialami wanita 350 kg di Kalteng. Bagaimana prosedurnya?
Kenali Prosedur Pengecilan Lambung bagi Wanita 350 Kg di Kalteng (bearsky23/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Baru-baru ini seorang wanita dari Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah (Kalteng) menarik perhatian publik. Wanita bernama Titi Wati itu diketahui memiliki berat badan mencapai 350 kg, hingga dijuluki wanita terberat di Kalteng. Dengan berat badan tersebut, wanita berusia 37 tahun itu masuk dalam kategori obesitas. Karena itu, tim dokter dari RSUD dr. Doris Sylvanus berencana memberikan pertolongan medis berupa prosedur pengecilan lambung. Lalu apa itu prosedur pengecilan lambung?

Kenali prosedur pengecilan lambung

Dalam ilmu kedokteran, prosedur pengecilan lambung dikenal dengan istilah bedah bariatrik. Bedah bariatrik adalah prosedur pembedahan pada saluran pencernaan yang bertujuan untuk membantu proses penurunan berat badan.

Dengan ukuran lambung yang dibuat semakin kecil, daya tampung dan area absorpsi makanan menjadi lebih sedikit dibanding sebelumnya. Di samping itu, bedah bariatrik juga dapat menurunkan risiko seseorang mengalami beberapa penyakit terkait berat badan berlebih, seperti gastroesophageal reflux disease (GERD), diabetes, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, dan stroke.

Pada prinsipnya, perubahan pola hidup seperti asupan gizi seimbang dan olahraga rutin merupakan pilihan utama dalam mengatasi kelebihan berat badan. Jika upaya tersebut tidak berhasil,bedah bariatrik bisa dipertimbangkan. Namun, tidak semua orang dengan berat badan berlebih diperbolehkan melakukan bedah bariatrik. Ada beberapa kondisi yang perlu menjadi perhatian, di antaranya:

  • Memiliki indeks massa tubuh 40 kg/m2atau lebih (obesitas ekstrem)
  • Indeks massa tubuh 35,5 sampai 39,9 kg/m2 disertai penyakit diabetes, tekanan darah tinggi, atau sleep apnea berat.

Biasanya, bedah bariatrik akan melibatkan tim yang terdiri dari dokter spesialis bedah, dokter spesialis penyakit dalam, dan dokter spesialis gizi klinik. Selain itu, ada kalanya untuk memberi dukungan dari aspek kesehatan jiwa, pasien juga membutuhkan pengawasan dari dokter spesialis kedokteran jiwa. Itu karena dibutuhkan kekuatan mental pasien untuk bisa menjalankan bedah bariatik.

Bedah bariatrik sendiri terdiri dari beberapa tipe, yaitu gastric bypass (roux-en-Y), laparoscopic adjustable gastric banding, sleeve gastrectomy, dan duodenal switch with biliopancreatic diversion. Gastric bypass merupakan metode yang menghubungkan secara langsung organ usus (jejunum) dengan organ lambung.

Sebelum tindakan bedah dimulai, pasien akan dibius dengan prosedur anestesi umum atau ditidurkan. Tipe bedah yang dilakukan bergantung dari kondisi setiap individu, termasuk faktor indeks massa tubuh, pola makan, penyakit penyerta, riwayat bedah sebelumnya, dan risiko tindakan bedah itu sendiri. Tipe sayatan dilakukan saat bedah bariatrik dapat bervariasi, yaitu lebar atau kecil.

Namun, saat ini kebanyakan bedah bariatric dilakukan dengan laparoskopi sehingga sayatan dibuat kecil. Bedah dengan laparoskopi memiliki beberapa keuntungan seperti rasa nyeri yang sangat berkurang, penyembuhan lebih cepat, dan meminimalkan bekas sayatan di kulit.

1 of 2

Tidak luput dari risiko

Seperti tindakan bedah pada umumnya, bedah bariatrik juga berpotensi menyebabkan risiko kesehatan lainnya. Dimulai dari risiko yang berhubungan dengan tindakan bedah, seperti perdarahan hebat, infeksi pasca bedah, masalah sistem pernapasan, dan kebocoran sistem pencernaan.

Adapun risiko jangka panjang di antaranya hernia, obstruksi saluran pencernaan, malnutrisi, batu empedu, hipoglikemia, dan kebocoran lambung. Yang paling berat, bedah bariatric juga berisiko mengancam jiwa.

Setelah bedah bariatrik selesai dilakukan, biasanya pasien tidak diperbolehkan makan selama 1 hingga 2 hari karena sistem pencernaannya masih dalam proses penyembuhan. Setelah itu, proses pengembalian makan melalui mulut dilakukan secara bertahap.

Diawali dengan makanan cair hingga lama-kelamaan ditingkatkan kepadatannya. Selain itu, porsi makanan juga dibatasi dan tidak boleh sembarangan. Bersama dengan itu, kontrol dengan dokter pasca bedah juga terus dilakukan.

Bedah bariatrik pada kasus obesitas wanita 350 kg di Kalteng memang merupakan terapi kelebihan berat badan yang efektif, terutama untuk jangka panjang. Namun, keberhasilan penurunan berat badan juga dipengaruhi oleh perubahan pola hidup pasien pasca bedah, seperti konsumsi makanan bergizi seimbang dan olahraga rutin. Dengan begitu, berat badan terjaga dan tubuh menjadi lebih sehat. Semoga usai prosedur pengecilan lambung yang kondisi kesehatan Titi kian membaik.

[HNS/ RVS]

Lanjutkan Membaca ↓