Kenali Komplikasi Akibat Penyakit Diabetes

Oleh dr. Devia Irine Putri pada 14 Jan 2019, 15:38 WIB
Sutradara Edward P Sirait meninggal dunia akibat penyakit diabetes yang dideritanya. Kenali komplikasi penyakit ini agar Anda lebih waspada
Kenali Komplikasi Akibat Penyakit Diabetes (Monkey-Business-Images/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Sutradara senior Edward P Sirait tutup usia di usia 77 tahun pada hari Sabtu lalu. Edward P Sirait meninggal dunia akibat penyakit diabetes yang sudah ia derita sejak sekitar 40 tahun lalu. Diabetes merupakan penyakit tidak menular yang banyak terjadi di Indonesia dan selalu mengalami peningkatan jumlah penderita di setiap tahunnya.

Diabetes merupakan penyakit metabolik yang ditandai dengan meningkatnya kadar gula darah di dalam tubuh. Akibat dari peningkatan kadar gula darah inilah yang dapat menyebabkan berbagai komplikasi.

Beberapa komplikasi yang sering terjadi akibat diabetes antara lain :

1.     Kaki diabetik

Kaki diabetik adalah bentuk infeksi, ulserasi dan atau destruksi jaringan ikat yang berhubungan dengan neuropati dan penyakit pembuluh darah tepi di tungkai bawah. Kondisi ini sering diawali dengan adanya lesi atau luka yang membentuk ulkus. Ulkus sendiri merupakan luka terbuka pada kulit yang disertai dengan adanya sebagian jaringan yang mati. Ulkus diabetik yang tidak segera ditangani dapat menyebabkan infeksi yang lebih parah, yaitu sepsis.

Berdasarkan klasifikasi Wagner, terdapat 6 derajat dalam menentukan tingkat keparahan suatu ulkus diabetik :

  • Derajat 0: tidak ada luka terbuka pada kulit tetapi dapat ditemukan adanya kelainan pada tulang-tulang jari, kondisi kulit yang kering dan terbentuk kalus.
  • Derajat 1: adanya lesi terbuka pada kulit superficial.
  • Derajat 2: lesi kulit sudah membentuk ulkus yang meluas ke daerah tendon, tulang maupun sendi.
  • Derajat 3: ulkus dalam disertai dengan adanya abses (kumpulan nanah) dan atau terjadinya osteomyelitis (infeksi pada tulang).
  • Derajat 4: sudah terbentuknya gangren pada satu jari atau lebih. Gangren adalah kematian jaringan tubuh akibat tidak mendapatkan aliran darah atau akibat dari suatu infeksi
  • Derajat 5: gangren terjadi di seluruh kaki.

Pengobatan kaki diabetik pada penderita diabetes tentunya berdasarkan derajat keparahannya. Apabila masih derajat ringan, umumnya akan dilakukan tindakan bedah minor seperti debridement nekrotomi dan terapi obat-obatan untuk mengontrol kadar gula darah dan mencegah infeksi lanjutan. Sedangkan tindakan mayor seperti amputasi dilakukan apabila infeksi sudah menyebar luas dan kondisi kaki tidak dapat diselamatkan dengan pengobatan.

1 of 3

Selanjutnya

2. Gagal ginjal kronik

Gagal ginjal kronik merupakan salah satu komplikasi paling sering yang terjadi pada pasien diabetes. Berdasarkan data dari Indonesia Renal Registry (IRR), pada tahun 2007-2008 didapatkan penyebab tersering kedua pada gagal ginjal kronis adalah diabetes mellitus.

Gagal ginjal kronik adalah gangguan fungsi ginjal yang bersifat progresif dan irreversible (tidak dapat kembali normal) dimana tubuh gagal mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit. Pada penderita diabetes mellitus keadaan nefropati diabetik menyebabkan terjadinya gagal ginjal. Kondisi ini biasanya ditandai dengan adanya protein dalam urine, disertai dengan peningkatan tekanan darah yang mengakibatkan rusaknya organ penyaringan ginjal.

Kondisi nefropati diabetik ini terjadi karena tingginya kadar gula darah yang menyebabkan terjadinya penumpukan glikoprotein di kapiler-kapiler glomerulus ginjal yang menyebabkan aliran darah ke ginjal menjadi terganggu.

Penderita gagal ginjal biasanya menunjukkan tanda dan gejala seperti adanya infeksi pada saluran kemih, tekanan darah tinggi, dan apabila pada tahap lanjut dapat menunjukkan kondisi sindrom uremia dimana penderita akan merasakan mual muntah, lemah, gatal-gatal, kejang, hingga penurunan kesadaran.

Terapi untuk penderita gagal ginjal didasarkan pada derajat keparahannya. Tetapi pada prinsipnya penderita gagal ginjal harus mengatur kadar gula darah dalam tubuh dan memperbaiki fungsi ginjal. Beberapa hal yang dapat Anda lakukan adalah mengubah pola hidup sehat dengan membatasi konsumsi garam dan protein, olahraga rutin, serta mengkonsumsi obat-obatan diabetes dan anti hipertensi.

2 of 3

Selanjutnya

3. Stroke dan penyakit jantung serta pembuluh darah

Komplikasi tersering dari diabetes berikutnya adalah stroke dan penyakit jantung. Pada penderita diabetes, pembuluh darah yang dimiliki rentan untuk mengalami aterosklerosis (penyempitan dan pengeresan pembuluh darah). Akibat dari proses aterosklerosis inilah yang memengaruhi tekanan darah dan suplai oksigen ke seluruh organ tubuh.

Apabila tekanan darah tinggi, pembuluh darah sewaktu-waktu dapat pecah dan dapat menyebabkan stroke perdarahan. Sedangkan stroke penyumbatan dapat terjadi apabila plak pada aterosklerosis lepas dan menyumbat ke pembuluh darah otak. Serangan jantung juga dapat terjadi akibat adanya penyempitan pembuluh darah ke organ jantung, yang mengakibatkan berkurangnya suplai oksigen.

4. Gangguan tidur

Gangguan tidur juga menjadi komplikasi lanjutan dari penderita diabetes. Kadar gula darah yang tinggi dapat mengganggu kualitas tidur akibat sering buang air kecil di malam hari. Selain itu juga terkadang muncul rasa haus yang berlebihan. Gangguan tidur yang terjadi dapat berupa tidak bisa memulai tidur, sering terbangun pada malam hari atau tidak mampu kembali tertidur setelah terbangun.

Obstructive sleep apnea (OSA) juga merupakan bentuk gangguan tidur yang sering dialami penderita diabetes. Pada keadaan OSA, ditandai dengan adanya periode henti napas pada saat tidur. Akibat dari gangguan tidur ini, umumnya orang akan mengeluhkan rasa ngantuk pada siang hari, lelah dan sulit untuk konsentrasi.

Komplikasi penyakit diabetes memang mengerikan dan tak jarang menyebabkan kematian. Untuk menghindari komplikasi-komplikasi ini, tentunya Anda harus mengontrol kadar gula darah dengan cara menjaga pola makan, olahraga, serta mengonsumsi obat diabetes dengan teratur. Selain itu, memeriksakan diri setiap bulan ke dokter  juga perlu agar bisa mengenali  apabila ada komplikasi sejak dini.

[RVS]

Lanjutkan Membaca ↓