Rambut Rontok Bisa Jadi Tanda Stroke?

Oleh Ayu Maharani pada 16 Jan 2019, 16:15 WIB
Rambut rontok bisa disebabkan oleh gangguan hormonal atau kurang vitamin. Tapi apa benar kalau rambut rontok itu bisa jadi pertanda stroke?
Rambut Rontok Bisa Jadi Tanda Stroke? (PhimSri/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Rambut rontok dapat disebabkan oleh beberapa faktor, seperti anemia, gangguan hormonal, dan penggunaan obat-obatan tertentu. Namun, siapa sangka rambut rontok dapat berhubungan dengan risiko stroke pada kemudian hari?

Perlu diketahui bahwa ada banyak tipe rambut rontok. Rambut rontok jenis alopesia areata lah yang dianggap berkaitan dengan risiko stroke. Mari kenali lebih jauh soal alopesia areata.  

Hubungan antara kerontokan rambut dan stroke

Alopesia areata sangat berbeda dari pola kerontokan rambut pada umumnya. Sebuah penelitian baru-baru ini menunjukkan, orang yang mengalami alopesia areata memiliki dua kali risiko stroke ketimbang orang-orang yang mengalami kerontokan rambut pada umumnya.

Biasanya alopesia areata muncul di usia dua puluhan dan menghasilkan kebotakan  yang terjadi secara tiba-tiba. Apabila penderitanya mengalami stres berat, kerontokan rambut pun akan semakin parah.

Alopesia areata dapat pula disebabkan oleh penyakit autoimun atau gangguan tiroid. Saat sistem kekebalan tubuh menyerang tubuhnya sendiri, serangan ini dapat bermanifestasi dalam sejumlah cara, yakni menyerang folikel rambut (menyebabkan rambut pecah-pecah) dan menyebabkan permasalahan pada sel darah dan lemak darah. Hal-hal ini dapat memicu pembekuan darah yang berujung pada stroke.

Secara keseluruhan, hubungan antara kerontokan rambut dan stroke bukanlah alasan untuk Anda khawatir secara berlebihan. Malahan, gejala rambut rontok ini bisa dijadikan sebagai pertanda awal yang membuat Anda lebih waspada terhadap tanda-tanda serangan stroke di kemudian hari dan segera memeriksakannya ke dokter.

Lakukan medical check-up secara berkala untuk memeriksa tekanan darah, kondisi jantung, dan kadar kolesterol Anda. Kemudian, cek juga apakah Anda berpotensi terserang penyakit autoimun atau tidak. Sebab, jika Anda memiliki penyakit autoimun, risiko Anda untuk mengalami kerontokan rambut dan terserang stroke juga akan besar.

Bila terbukti ada kelainan dari kondisi fisik Anda setelah melakukan pemeriksaan medis dan tes darah, tenang saja, ada perawatan yang bisa mengatasi permasalahan Anda. Makin dini terdeteksi, makin tinggi pula kesempatan Anda untuk sembuh.

Tanda-tanda stroke lain yang mesti diperhatikan

Selain kerontokan rambut, menurut dr. Alvin Nursalim dari KlikDokter, ada beberapa gejala stroke lainnya yang mesti Anda perhatikan juga, antara lain:

  • Kelemahan pada satu sisi tubuh

Penderita stroke bisa mengalami kelemahan pada satu sisi tubuh, bicara pelo, mati rasa pada bagian tertentu, dan mata sulit terbuka.

  • Kehilangan koordinasi dan sensasi tubuh

Penderita stroke biasanya kehilangan kemampuan sensoris, seperti melihat, merasakan, bergerak, dan memahami percakapan.

  • Sering kehilangan kesadaran

Adanya gangguan penyaluran oksigen ke otak bisa membuat kesadaran penderita stroke hilang.

  • Sering mual dan muntah

Pada stroke, peningkatan tekanan dalam kepala juga bisa merangsang mual dan muntah.

  • Sering sakit kepala tiba-tiba

Karena rongga tengkorak harus menerima volume darah tambahan sehingga meningkatkan tekanan di kepala, hal ini bisa membuat penderita stroke mengalami sakit kepala mendadak.

Sebagai kesimpulan, benar adanya bahwa rambut rontok, terutama tipe alopesia areata, berhubungan dengan risiko stroke. Sebab ketika seseorang memiliki penyakit autoimun, ia akan mengalami kerontokan rambut dan gangguan pada pembuluh darah yang akan berujung pada serangan stroke. Perhatikan juga beberapa tanda lain dari stroke seperti yang sudah disebutkan di atas. Karena stroke merupakan kondisi gawat darurat, penting bagi setiap orang untuk mengetahui gejala serta pertolongan pertama  stroke dengan baik.

[RS/ RVS]