Orang Tua Milenial Kian Ikut Campur Urusan Anak?

Oleh Bobby Agung Prasetyo pada 17 Jan 2019, 17:30 WIB
Benarkah orang tua milenial memantau anak sampai ikut campur dalam segala urusan? Cari tahu faktanya!
Orang Tua Milenial Kian Ikut Campur Urusan Anak? (LStockStudio/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Setiap orang tua pasti selalu ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anak mereka. Hal tersebut dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya memberikan sejumlah fasilitas demi menunjang minat dan bakat si Kecil. Namun, satu hal yang tak boleh diabaikan adalah bentuk dari pola asuh itu sendiri.

Sebagai orang tua, bentuk pola asuh Anda dan orang lain mungkin tak bisa disamakan. Hal ini karena Anda dan mereka memiliki latar belakang dan kondisi yang benar-benar berbeda. Sebuah penelitian mengungkap, jika Anda datang dari generasi milenial, ada satu hal yang perlu digarisbawahi.

Konon katanya, orang tua yang berasal dari generasi milenial memiliki pola asuh dengan kecenderungan ingin terlibat pada setiap kegiatan anak. Pada tahap lanjut, keterlibatan tersebut malah berujung pada ikut campur urusan si Kecil, bahkan sampai pada hal-hal yang tidak penting sekalipun.

Orang tua makin menuntut

Seperti dilansir dari Healthline, orang tua dari generasi milenial atau setidaknya telah memiliki anak pada rentang tahun tersebut akan cenderung mendidik dengan cara yang tampak lebih menuntut. Tak hanya berdasarkan rasa inisiatif, namun tuntutan tersebut juga termasuk untuk selalu terlibat dalam kegiatan anak.

Beberapa orang tua tampak terbebani dengan hal tersebut, sementara sisanya memang memiliki tendensi posesif sejak si Kecil dilahirkan. Apakah ini adalah cara mendidik terbaik untuk anak? Bisa iya, bisa juga tidak. Namun secara garis besar, kebiasaan tersebut tidak baik untuk terus dilakukan.

Dokter anak sekaligus juru bicara American Academy of Pediatrics (AAP), Steph Lee, mengatakan bahwa pada beberapa aspek orang tua milenial yang kerap ikut campur urusan anak bisa bermanfaat, sisanya tidak berguna.

“Haruskah merawat anak tapi tetap memberikan waktu untuk mereka? Tentu. Lantas, sampai kapan Anda mengabaikan kesejahteraan diri sendiri? Orang tua akan lebih baik ketika berhasil membuat segala hal tersebut jadi lebih seimbang,” ujarnya.

Menurut data Pew Research 2015, sebanyak 53 persen ibu-ibu mengatakan bahwa mereka tidak punya cukup waktu atau waktu sama sekali untuk bersosialisasi dan menjalani hobi pribadi. Bila ini terjadi, Anda dicap telah terobsesi pada segala urusan anak sehingga memaksakan diri agar bisa terus berkecimpung di situ. Kondisi tersebut tidak baik bagi Anda dan sang buah hati.

Pola asuh yang wajib dihindari

Terdapat jenis pola asuh yang sebaiknya tidak diterapkan. Berdasarkan penjelasan dr. Reza Fahlevi dari KlikDokter, berikut beberapa di antaranya:

  • Pola asuh otoriter

Orang tua yang bersikap kaku dan diktator bisa membuat anak tertekan, hidup dalam ketakutan, dan tidak bahagia. Kelak, anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang tidak memiliki inisiatif. Kemampuan komunikasinya pun akan semakin buruk.

  • Pola asuh overprotective

Setiap orang tua pasti tidak mau anaknya mengalami hal buruk. Namun, bila orang tua bersikap overprotective alias terlalu melindungi, anak akan menjadi pribadi yang tidak bisa mandiri dan mengalami krisis kepercayaan.

  • Pola asuh narsisistik

Ini adalah pola asuh dimana orang tua memperlakukan anak sebagai “boneka” untuk memenuhi ambisi serta egoisme orang tua. Simpelnya, semua perbuatan anak harus sesuai dengan keinginan orang tua.

“Anak tidak diberikan kebebasan dalam berkreasi. Pola asuh ini sangat membatasi anak dalam mengembangkan minat serta potensinya,” tutur dr. Reza.

Untuk para orang tua milenial, selalu ingat bahwa Anda sebaiknya tidak ikut campur dalam segala urusan anak. Dalam beberapa hal, biarkan si Kecil memproses pilihannya sendiri dan belajar memutuskan berdasarkan intuisinya. Jika gagal, anggaplah itu sebagai sebuah pembelajaran untuknya.

[NB/ RVS]