Nyeri Tak Kunjung Berhenti? Jangan-jangan Fibromyalgia

Oleh dr. Nadia Octavia pada 18 Jan 2019, 13:00 WIB
Nyeri yang tidak kunjung hilang bisa jadi gejala fibromyalgia. Apa itu fibromyalgia?
Nyeri Tak Kunjung Berhenti? Jangan-jangan Fibromyalgia (Roman Samborskyi/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Rasa nyeri atau pegal-pegal lumrah terjadi jika Anda habis melakukan aktivitas tertentu yang melelahkan, seperti berolahraga atau mengangkat barang berat. Dengan beristirahat saja biasanya akan hilang dengan sendirinya. Namun ketika nyeri yang Anda alami tak kunjung berhenti dan tidak hilang dengan sendirinya, bisa jadi itu adalah gejala fibromyalgia.

Fibromyalgia merupakan penyakit jangka panjang yang ditandai dengan nyeri di pada otot dan tulang di seluruh tubuh serta kelelahan. Gejalanya sering kali subjektif sehingga sering disalahartikan sebagai penyakit lainnya. Selain itu, banyak penderita fibromyalgia juga mengalami sakit kepala tegang, gangguan temporomandibular joint (TMJ), sindrom iritasi usus besar, cemas, dan depresi.

Nyeri yang dialami oleh penderita fibromyalgia sering kali digambarkan sebagai nyeri tumpul yang berlangsung paling tidak selama 3 bulan. Biasanya nyeri tersebut juga menjalar ke seluruh tubuh. Selain nyeri jangka panjang, penderita fibromyalgia akan merasa lebih sensitif terhadap rasa nyeri, mudah lelah, dan kaku otot.

Gejala lain seperti susah tidur, sulit fokus, mudah lupa, dan nyeri kepala juga kerap terjadi. Selain itu, penderita fibromyalgia biasanya akan terbangun dengan perasaan lelah meskipun sudah cukup tidur. Mereka juga dapat terbangun karena rasa nyeri, sehingga kualitas tidur akan menurun.

Penyebab dan pengobatan fibromyalgia

Hingga kini, penyebab pasti fibromyalgia belum diketahui secara pasti. Namun riset terkini menyebutkan, fibromyalgia diduga dicetuskan oleh gangguan pada sistem saraf, terutama sistem saraf pusat. Faktor-faktor lain yang dinilai bisa memicu gejala fibromyalgia, antara lain masalah pada tulang belakang, artritis, riwayat operasi, cedera, dan stres (stres fisik maupun stres emosional).

Untuk mendiagnosis fibromyalgia, dokter akan menentukan berdasarkan gejala yang Anda alami dan temuan pemeriksaan fisik. Pada pemeriksaan penunjang seperti laboratorium ataupun sinar-X, biasanya tidak akan ditemukan hasil apa pun dan menunjukkan hasil yang normal.

Tidak ada pengobatan yang dapat menghilangkan fibromyalgia. Pengobatan yang ada hanya bertujuan untuk meringankan gejala sehingga pasien bisa menjalani aktivitas sehari-hari. Penanganannya meliputi pemberian obat (antinyeri dan antidepresan), terapi, dan konseling.

Cognitive Behavioral Therapy (CBT) dapat menjadi alternatif bagi pasien fibromyalgia. CBT merupakan terapi yang difokuskan untuk mengubah pikiran, perilaku dan persepsi nyeri pasien fibromyalgia.

Selain itu, olahraga dilaporkan memberikan manfaat pada pasien fibromyalgia dalam mengurangi nyeri. Anda dapat melakukan olahraga intensitas moderat secara rutin untuk membuat otot dan sendi tetap sehat. Jangan terlalu berlebihan dalam berolahraga, karena dapat membuat gejala makin buruk. 

Pasien fibromyalgia juga perlu menghindari stres. Pasalnya, stres merupakan salah satu pencetus yang paling sering dari gejala fibromyalgia. Beberapa pemicu stres, mungkin tidak dapat dihindari. Karena itu, Anda dapat belajar teknik relaksasi untuk meminimalkan efek stres terhadap tubuh dan pikiran. Contohnya dengan meditasi, akupunktur, dan teknik pernapasan dalam.

Hal yang pasti, ketika Anda stres, jauhilah rokok dan alkohol. Rokok dan alkohol akan membuat gejala makin memburuk atau meningkatkan risiko komplikasi yang berbahaya.

Jadi jika Anda sering mengalami nyeri yang tak kunjung berhenti, jangan remehkan sebagai nyeri otot biasa. Waspada dan konsultasikan ke dokter, karena bisa jadi yang Anda alami adalah gejala fibromyalgia.

[RS/ RVS]