Kena Infeksi Paru, Boleh Hirup Inhaler untuk Legakan Pernapasan?

Oleh Krisna Octavianus Dwiputra pada 18 Jan 2019, 17:00 WIB
Inhaler dapat dijadikan sebagai salah satu terapi untuk melegakan pernapasan. Namun, bolehkah digunakan pada penderita infeksi paru?
Kena Infeksi Paru, Boleh Hirup Inhaler untuk Legakan Pernapasan? (Vadim-Zakharishchev/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Ketika napas terasa tidak plong, berarti ada sesuatu yang tidak beres dengan saluran pernapasan Anda. Untuk mengatasi ini, salah satu cara yang bisa dicoba adalah menghirup inhaler. Lalu bolehkah penderita infeksi paru memakai inhaler untuk melegakan pernapasan?

Untuk Anda yang belum tahu, inhaler adalah sebuah perangkat medis yang digunakan untuk mengatarkan obat melalui saluran pernapasan. Alat tersebut umumnya digunakan untuk mengatasi gejala asma atau hidung tersumbat akibat pilek. Namun, karena fungsinya adalah melegakan saluran napas, inhaler juga sering digunakan oleh penderita infeksi paru.

Apakah efektif?

Menurut dr. Dyan Mega Inderawati dari KlikDokter, penggunaan inhaler pada penderita infeksi paru (saluran napas) tidak membawa efek yang singifikan.

“Kalau ditanya boleh atau tidak memakai inhaler bagi orang infeksi paru, ya boleh-boleh saja. Tapi tidak akan terlalu banyak berpengaruh, apalagi kalau sebab sesaknya karena infeksi. Sebab yang harus diatasi itu infeksinya. Kalau infeksi bakteri, ya pakai antibiotik. Kalau karena jamur, ya pakai antijamur," jelas dr. Ega.

"Termasuk menghirup minyak kayu putih atau menghirup mentol, ya boleh-boleh saja. Cuma sekali lagi, sebenarnya secara teori itu tidak akan berpengaruh atau membantu. Harus mematikan infeksinya kalau kasusnya infeksi paru," tegas dr. Ega.

Sekilas tentang infeksi paru

Infeksi paru merupakan penyakit yang menyerang saluran pernapasan. Keadaan tersebut identik dengan paparan polusi udara, asap rokok, dan kondisi ruangan yang lembap.

Menurut dr. Atika dari KlikDokter, penyakit yang umum disebut pneumonia itu juga dapat disebabkan oleh hal lain, termasuk kuman, virus, bakteri, mikoplasma, dan jamur.

Di antara semuanya, infeksi paru paling sering disebabkan oleh bakteri. Pada kasus ini, gejala utama yang dirasakan penderita adalah demam tinggi yang mencapai 40 derajat Celcius, dan kuku yang berwarna kebiruan akibat kurangnya oksigen dalam darah. Di samping gejala khas tersebut, infeksi paru akibat bakteri memberikan gejala seperti infeksi paru pada umumnya, seperti:

  • Batuk dengan dahak kuning, kehijauan, bahkan berdarah
  • Sesak napas
  • Nyeri dada
  • Sakit kepala
  • Demam
  • Menggigil
  • Tidak nafsu makan
  • Badan lemas, lemah dan lesu
  • Produksi keringat berlebihan

Penderita infeksi paru perlu segera berkonsultasi ke dokter supaya kondisinya bisa segera diobati. Berdasarkan WebMD, jika infeksi paru disebabkan oleh virus, dokter biasanya akan meresepkan obat-obatan antivitus seperti oseltamivir, zanamivir, atau peramivir.

Sedangkan, apabila infeksi paru disebabkan oleh bakteri, maka dokter akan meresepkan antibiotik. Pasien infeksi paru akibat bakteri perlu benar-benar memperhatikan saran serta anjuran dalam mengonsumsi antibiotik yang diberikan oleh dokter. Hal ini dilakukan agar pengobatan benar-benar tepat sasaran, dan penyakit bisa dikendalikan.

Jika Anda merasa mengalami gangguan pada saluran pernapasan yang berhubungan dengan gejala infeksi paru, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter. Jangan andalkan inhaler untuk membantu mengendalikan keluhan, karena perilaku ini tidak akan membawa manfaat yang signifikan.

[NB/ RVS]