Gemar Baca Hoaks Picu Depresi

Oleh dr. Sepriani Timurtini Limbong pada 20 Jan 2019, 10:00 WIB
Senang baca berita palsu alias hoaks? Hati-hati, bahaya depresi mengintai Anda.
Gemar Baca Hoaks Picu Depresi (melissamn/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Dengan kemajuan teknologi, masyarakat kini dibanjiri dengan informasi. Sisi baiknya, akses kepada pengetahuan dan berita terbaru makin mudah. Namun, hal tersebut juga diikuti dengan efek negatif, yaitu mudahnya hoaks menyebar. Berseliwerannya hoaks sangat perlu diwaspadai. Karena menurut penelitian, hoaks dapat berhubungan dengan gangguan mental, seperti depresi.

Psikologi hoaks

Ada beberapa hal yang memengaruhi seseorang saat membaca berita. Pertama adalah adanya bias konfirmasi. Sebagai contoh, saat Anda membaca sebuah kabar positif mengenai tokoh idola Anda, secara langsung Anda akan langsung memercayainya tanpa mengecek ulang kebenaran berita tersebut. Sebaliknya, bila berita yang Anda baca adalah hal yang negatif, maka Anda akan segera mencari tahu kebenarannya. Hal inilah yang membuat Anda mudah memercayai hoaks.

Selain itu, membaca hoaks, terutama bila sesuai dengan kepercayaan atau opini Anda, akan memicu keluarnya dopamin di dalam tubuh. Dopamin ini dapat membuat seseorang merasa nyaman dan senang. Hal ini membuat Anda ingin membaca berita tersebut terus-menerus, memercayainya, dan menyebarkannya kepada orang lain. Faktor-faktor tersebut menyebabkan seseorang suka membaca hoaks dan akibatnya hoaks pun makin cepat tersebar.

Dampak buruk hoaks

Secara umum, hoaks memang merugikan. Hoaks dalam bidang politik misalnya, dapat merusak keharmonisan dalam masyarakat. Dalam bidang kesehatan juga demikian, sering kali menyesatkan. Tak hanya itu, hoaks pun dapat berakibat buruk untuk kesehatan jiwa Anda.

Berbagai penelitian ilmiah telah dilakukan oleh para pakar untuk melihat efek dari membaca hoaks atau berita sensasional terhadap aktivitas otak. Ada dua pemeriksaan yang dilakukan untuk mengevaluasi hal tersebut, yaitu pemeriksaan Magnetic Resonance Imaging (MRI) dan Quantitative Electroencephalograms (QEEGs). Saat membaca hoaks, tampak peningkatan aktivitas di area amigdala di otak dalam pemeriksaan MRI. Regio amigdala tersebut bertanggung jawab untuk identitas diri dan pengaturan berbagai emosi.

Sementara pada pemeriksaan QEEGs terhadap pembaca hoaks, tampak peningkatan aktivitas di area amigdala dan prafrontal. Hal tersebut menyebabkan pembacanya merasa marah, kecewa, takut, dan tersudut. Berbagai emosi ini dapat menetap hingga beberapa lama.

Bila orang tersebut terus-menerus mengisi pikirannya dengan berita hoaks, emosi negatif tersebut dapat berujung pada gangguan mental seperti depresi. Rasa marah atau kecewa yang berlarut-larut dapat berakhir pada depresi dimana penderitanya merasa dirinya tidak berguna, tidak lagi bersemangat melakukan aktivitas sehari-hari, dan cenderung menyendiri.

Tangkal dampak buruk hoaks

Karena dampak hoaks yang buruk, Anda harus waspada akan berita palsu ini dan mengetahui cara menangkalnya. Saat menerima sebuah berita, perhatikan baik-baik sumbernya, apakah berasal dari situs resmi, seperti situs pemerintah, atau dari situs yang tidak tepercaya. Kemudian, baca seluruh isi berita dan bukan hanya judulnya saja.

Tahan jari Anda untuk membagikannya kepada orang lain sebelum Anda yakin pasti akan kebenaran isi berita tersebut. Bila berita yang Anda dapatkan memiliki sebuah gambar, manfaatkan mesin pencari internet untuk mengetahui apakah gambar tersebut sesuai untuk berita itu atau gambar yang lain. Yang terakhir, sebelum Anda menyebar sebuah berita, apakah berita tersebut bermanfaat untuk dibaca juga oleh orang lain.

Jangan sampai Anda mengalami depresi dan gangguan kesehatan jiwa lainnya karena kebiasaan membaca hoaks. Ketahui dan lakukan langkah-langkah di atas untuk menangkis hoaks.

[RS/ RVS]