Fakta tentang pH Vagina yang Perlu Diketahui Wanita

Oleh dr. Theresia Rina Yunita pada 23 Jan 2019, 07:45 WIB
Kadar keasaman (pH) memengaruhi terbentuknya ekosistem vagina yang sehat. Ini beberapa fakta yang perlu diketahui wanita.
Fakta tentang pH Vagina yang Perlu Diketahui Wanita (Branislav Nenin/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Kadar keasaman (pH) punya dampak terhadap terbentuknya ekosistem vagina yang sehat. Mempertahankan pH vagina sesuai dengan yang semestinya sangat penting demi menjaga kesehatan organ kewanitaan.

Perubahan pH vagina dapat merusak keseimbangan antara bakteri baik dan bakteri jahat. Jika bakteri baik berkurang tentu saja bakteri jahat akan merajalela, begitupun sebaliknya. Ada beberapa fakta tentang pH vagina yang perlu diketahui para wanita.

Kisaran normal pH vagina adalah 0-14. Kurang dari 7 dianggap asam, sedangkan lebih dari 7 dianggap basa. Kadar pH normal vagina berkisar antara 3,8-4,5, yang termasuk dalam pH asam.

Kisaran pH normal ini dapat berubah pada wanita yang telah mengalami menopause atau akan mengalami menstruasi, yaitu bisa di atas 4,5, yang mana angka tersebut masih dalam batas wajar.

Penyebab pH vagina terganggu

Ketika pH terus-menerus berada diatas angka 4.5, tentu ini dapat memengaruhi kondisi kesehatan vagina. Berikut ini adalah hal-hal yang dapat menyebabkan pH vagina terganggu.

  • Haid

Ketika sedang haid, pH vagina dapat meningkat. Ini karena darah yang keluar akan tertampung selama beberapa saat di pembalut atau tampon yang Anda gunakan. Untuk itu, usahakan sering mengganti pembalut atau tampon Anda.

  • Cuci vagina

Mencuci vagina menggunakan sabun atau bahan kimia yang tidak sesuai dengan pH vagina akan merusak kesehatan vagina. Selain itu, terlalu sering melakukan douching (menyemprotkan cairan pembersih dalam vagina) juga tidak dianjurkan.

Douching dengan menggunakan cairan yang terdiri dari campuran berbagai bahan kimia seperti air, baking soda, cuka, pewangi, dan cairan antiseptik dapat merusak pH serta membunuh bakteri baik yang menjaga organ kewanitaan dari infeksi.

  • Seks tanpa kondom

Cairan mani atau semen bersifat basa, yaitu 7,1-8. Kontak dengan vagina tentu akan  memengaruhi kondisi pH-nya. Namun, ini dapat diatasi dengan membasuh vagina dengan air setelah berhubungan intim.

1 of 3

Perubahan pH vagina vs gangguan keseimbangan bakteri

Jika pH vagina berubah, keseimbangan flora normal (jamur dan bakteri) di dalamnya akan terganggu, sehingga akan memicu keputihan yang tidak normal. Keseimbangan bakteri yang terganggu dan pH vagina yang berubah paling sering menimbulkan keluhan berupa keputihan yang tidak normal (patologis). Keputihan ini timbul akibat kondisi medis tertentu. Penyebab terseringnya adalah akibat infeksi parasit, jamur, atau bakteri.

Ciri-ciri keputihan normal antara lain terdapat perubahan warna, berbau, gatal, dan menimbulkan keluhan lain. Jika ini terjadi, Anda harus waspada terhadap:

  1. Vaginosis bakterial

Vaginosis bakterial (BV) disebabkan oleh pertumbuhan bakteri anaerobik vagina. Ciri-cirinya adalah keputihan berwarna kuning hingga kehijauan, disertai gatal, dan berbau amis. BV lebih sering terjadi pada wanita yang aktif berhubungan seksual.

  1. Infeksi jamur

Infeksi jamur pada vagina dalam dunia medis dikenal sebagai vaginal candidiasis. Ciri-ciri keputihan yang disebabkan infeksi jamur adalah bergumpal seperti keju, disertai rasa gatal, panas, bahkan nyeri setelah buang air kecil atau saat berhubungan seksual.

  1. Infeksi parasit

Trikomoniasis adalah infeksi parasit pada vagina. Kondisi ini ditandai dengan keputihan berwarna hijau, dapat berbuih, berbau tidak sedap, dan dapat disertai rasa gatal. Infeksi atau penyakit ini termasuk dalam penyakit menular seksual.

2 of 3

Jaga pH vagina tetap seimbang

Untuk bisa menjaga pH vagina tetap seimbang, lakukan ini:

  1. Bersihkan vulva dengan air hangat. Jika ingin pakai sabun, pilih yang lembut, tanpa pewangi, dan tidak mengandung gliserin.
  2. Ganti pembalut atau tampon sesering mungkin saat sedang haid. Kadar pH darah saat haid bisa mencapai 7,4, yang angka tersebut lebih tinggi dari pH vagina. Pembalut atau tampon yang tidak diganti terlalu lama dapat menyebabkan vaginitis (peradangan pada vagina).
  3. Gunakan kondom saat berhubungan seksual.
  4. Hindari menggunakan metode douching.
  5. Konsumsi makanan yang mengandung bakteri probiotik Lactobacillus acidophilus dapat membantu mencegah infeksi vagina dan menyeimbangkan pH.

Dengan mengetahui beberapa fakta mengenai vagina yang disebutkan di atas, diharapkan Anda bisa lebih peduli terhadap kesehatan dan kebersihan area kewanitaan Anda.

Jagalah keseimbangan pH vagina dalam rentang 3,8-4,5 sangat penting agar Anda terhindar dari berbagai risiko infeksi bakteri, jamur, maupun parasit. Jika mengalami tanda-tanda keputihan tak normal, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter spesialis kebidanan.

[RN/ RVS]

Lanjutkan Membaca ↓