Mengendalikan Diabetes dengan Alat Pemonitor Gula Darah

Oleh Rudolf Santana pada 23 Jan 2019, 11:00 WIB
Penyakit diabetes perlu dikendalikan agar kesehatan tetap terjaga. Alat pemonitor gula darah bisa menjadi solusinya.
Mengendalikan Diabetes dengan Alat Pemonitor Gula Darah (Foto: Rudolf Valentino Santana/Klikdokter)

Klikdokter.com, Jakarta Menikmati hidup yang manis memang menyenangkan. Tetapi kalau manis itu berwujud kencing manis alias penyakit diabetes, tentu memprihatinkan. Menurut data World Health Organization (WHO) pada tahun 2015, Indonesia menempati peringkat ketujuh di dunia untuk jumlah penderita diabetes melitus tertinggi di dunia. Di dalam daftar tersebut, Indonesia ‘bersaing’ dengan China, India, Amerika Serikat, Brazil, Rusia dan Meksiko.

Sudah pasti, daftar di atas bukanlah prestasi yang bisa dibanggakan. Di Indonesia sendiri diabetes dengan komplikasi merupakan penyebab kematian tertinggi ketiga. Lucunya, 2/3 orang dengan diabetes di Indonesia tidak mengetahui dirinya memiliki diabetes. Hal ini menunjukkan kurang perhatiannya masyarakat terhadap kesehatan dirinya sendiri, terutama dalam memonitor gula darah.

Sehubungan dengan itu, Sabtu (19/1) lalu di KALCare Lotte Shopping Avenue Jakarta, PT Kalbe Farma Tbk melalui anak perusahaannya,  PT Enseval Medika Prima (EMP),  menyelenggarakan diskusi kesehatan. Mengangkat tema “Mengontrol Diabetes untuk Hidup yang Manis”, diskusi ini sekaligus menjadi ajang peluncuran produk alat monitor gula darah, Elvasense.

Acara yang dipandu oleh dr. Gia Pratama ini menghadirkan Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Prof. Dr. dr. Sidartawan Soegondo, SpPD-KEMD, FINA, selaku pembicara utama. Selain itu, hadir pula Taruna Widjaja, Direktur PT Enseval Medika Prima dan Dicky Mulyono, Business Unit Head PT Enseval Medika Prima.

1 of 3

Alat inovatif untuk memonitor gula darah

Alat inovatif untuk memonitor gula darah (Foto: Rudolf Valentino Santana/Klikdokter)
Alat inovatif untuk memonitor gula darah (Foto: Rudolf Valentino Santana/Klikdokter)

Menurut Taruna Widjaja, produk Elvasense yang diluncurkan hari itu merupakan alat monitor gula darah yang inovatif karena terhubung dengan ponsel pintar. Kemudahan ini tentu saja memungkinkan penggunanya untuk memantau kadar gula darah kapan saja dan di mana saja.

“Alat ini diharapkan dapat membantu para penderita diabetes dalam memonitor kadar gula dalam darah, sehingga dapat menjadi pendamping hidup sehat bagi penderita diabetes,” lanjut Taruna.

Ditambahkan oleh Dicky Mulyono, alat ini dirancang untuk mempermudah pengukuran dan pemantauan kadar gula darah secara rutin.

“Elvasense digunakan bersama dengan aplikasi yang dapat di-install pada ponsel pintar berbasis IOS maupun Android,” lanjut Dicky.

Dengan menggunakan Elvasense untuk memonitor kadar gula darah, penderita diabetes akan mendapatkan hasil akurat yang sudah tersertifikasi oleh ISO 15197:2013. Proses pengukuran hanya membutuhkan waktu 5 detik. Selanjutnya perkembangan hasil dapat dimonitor melalui ponsel pintar. Hasil pengukuran juga bisa dikirimkan melalui email atau SMS.

Jadi, Anda tinggal mengirimkan email atau SMS hasil pengukuran tersebut kepada dokter Anda, dan selanjutnya bertemu untuk melakukan konsultasi.

2 of 3

Bukan penyakit mematikan, tapi perlu sangat diperhatikan

Bukan penyakit mematikan, tapi perlu sangat diperhatikan (Foto: Rudolf Valentino Santana/Klikdokter)
Bukan penyakit mematikan, tapi perlu sangat diperhatikan (Foto: Rudolf Valentino Santana/Klikdokter)

Meski di Indonesia sendiri diabetes dengan komplikasi merupakan penyebab kematian tertinggi ketiga, namun kesadaran sebagian masyarakat akan hal ini masih kurang.

Menurut pemaparan  Prof. Soegondo, selama ini diabetes dianggap sebagai salah satu penyakit paling mematikan di dunia. Tapi faktanya, penderita diabetes meninggal bukan karena penyakit diabetes yang dideritanya. Penderita diabetes justru meninggal akibat penyakit komplikasi yang dipicu kadar gula darah berlebih dalam tubuh.

"Orang jarang meninggal karena diabetes, tapi biasanya meninggal karena komplikasi. Kalau pembuluh darah tersumbat bisa stroke. Kalau tersumbat di jantung, bisa terjadi  serangan jantung. Kalau orang sakit gula, mudah sekali kena gangguan paru-paru, muntah darah, itu semua akibat komplikasi," ujar Prof. Sidartawan di sela-sela acara.

Prof. Sidartawan menjelaskan bahwa tingkat gula darah seseorang harus dalam posisi normal. Meski demikian, menurutnya, gula darah yang tinggi lebih baik dibanding yang rendah.

"Jika seseorang memiliki angka gula darah yang terlalu rendah, harus dipantau. Kalau gula darah tinggi masih bisa beraktivitas, tapi kalau angka gula darahnya rendah bisa langsung off,” kata Prof.Sidartawan.

Menurutnya lagi, dokter lebih sering mengkhawatirkan kondisi gula darah pasien yang rendah daripada yang tinggi. Selain itu, grafik angka gula darah yang naik-turun juga harus dihindari.

Oleh karena itu, pengukuran gula darah sangat memerlukan alat pemonitor yang mumpuni. Dengan mengetahui dan memonitor angka gula darah, penderita bisa membuat perencanaan dengan lebih saksama mengenai 3 J (Jenis Makanan, Jumlah dan Jam Makan) dalam manajemen pengobatan diabetes.

[RH]

Lanjutkan Membaca ↓