4 Mitos Keputihan yang Tak Perlu Dipercaya

Oleh dr. Astrid Wulan Kusumoastuti pada 26 Jan 2019, 07:00 WIB
Tak semua mitos tentang keputihan benar adanya. Yuk, cek mana yang keliru dan mana yang fakta.
4 Mitos Keputihan yang Tak Perlu Dipercaya (ShotPrime Studio/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Tak sedikit wanita yang risau saat keputihan datang. Apalagi dengan banyaknya mitos seputar keputihan yang tak jarang membuat khawatir. Hal ini perlu dikupas satu per satu agar tidak malah merugikan wanita.

Keputihan sebenarnya adalah hal yang wajar dialami oleh wanita. Namun memang, terdapat keputihan yang dikatakan normal, dan keputihan yang perlu diperiksa serta ditindaklanjuti. Berikut adalah empat mitos terkait keputihan dan fakta di baliknya yang perlu Anda ketahui.

  1. “Keputihan selalu pertanda buruk.”

Keputihan, bahkan yang normal sekalipun, kerap kali dianggap sebagai suatu tanda penyakit atau hal yang perlu dihilangkan sama sekali. Faktanya, ada keputihan yang dikategorikan sebagai keputihan normal.

Ciri-ciri keputihan yang normal adalah berwarna jernih hingga putih, tekstur kenyal seperti lendir dan tidak menggumpal, dan tidak berbau. Keputihan normal ini juga tidak menimbulkan keluhan lain seperti gatal atau nyeri.

Keputihan normal dapat meningkat produksinya pada kondisi tertentu. Misalnya: saat terangsang secara seksual, hamil, adanya penggunaan KB hormonal, masa subur, dan menjelang siklus menstruasi.

Sementara itu, ciri-ciri keputihan yang tidak normal adalah berwarna putih pekat, kuning atau kehijauan, menggumpal seperti keju, gatal, dan berbau. Jika Anda mengalami keputihan yang seperti ini, maka segeralah periksakan ke dokter.

  1. “Saat keputihan, gunakan panty liner.”

Jika Anda mengalami keputihan normal dengan jumlah yang tidak terlalu banyak, Anda tak perlu menggunakan panty liner untuk menjaga kebersihan vagina. Cukup dengan rutin mengganti celana dalam, membersihkan vagina dengan air mengalir, dan mengeringkannya dengan handuk atau tisu kering.

Sedangkan bila Anda sedang mengalami peningkatan produksi keputihan normal, Anda dapat menggunakan panty liner. Tapi dengan catatan, gantilah panty liner setiap Anda buang air kecil atau maksimal setiap 4 jam. Jangan membiarkan panty liner tidak diganti terlalu lama karena akan menyebabkan kondisi lembap yang meningkatkan risiko timbulnya infeksi kuman dan jamur.

  1. “Vaginal douching ampuh bersihkan keputihan.”

Vaginal douching, atau membilas vagina dengan produk tertentu, justru dapat  menyebabkan keputihan yang tidak normal akibat pertumbuhan kuman. Selain itu, douching dapat mengganggu keseimbangan pH vagina.

Daripada melakukan douching, lebih baik membersihkan vagina dengan cara yang sudah jelas baik. Caranya, bersihkan vagina (hanya bagian luarnya) dengan air mengalir. Setelah itu, keringkan dengan handuk atau tisu bersih. Tak lupa, bersihkan vagina dari arah depan ke belakang untuk menghindari perpindahan bakteri dari area anus ke area kewanitaan.

  1. “Bersihkan vagina dengan sabun agar tidak bau saat keputihan.”

Serupa dengan mitos penggunaan vaginal douche, membersihkan vagina dengan sabun, baik sabun mandi ataupun sabun yang mengklaim khusus vagina, dapat mengganggu keseimbangan pH vagina.

Vagina memiliki pH yang cenderung asam untuk menjaga pertumbuhan flora normal dan mencegah tumbuhnya kuman. Nah, sabun memiliki pH yang cenderung basa, dan perbedaan ini dapat mengganggu kesehatan vagina dan justru menyebabkan keputihan.

Selain empat mitos terkait keputihan tadi, masih banyak mitos-mitos lain terkait kesehatan reproduksi wanita yang keliru. Senantiasa jaga kesehatan reproduksi Anda dengan memelihara kebersihan organ intim dengan tepat dan menghindari perilaku seksual berisiko. Terakhir, jika Anda merasa memiliki keputihan yang tidak normal, temuilah dokter kandungan dan kebidanan, dan hindari membeli produk-produk kewanitaan tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan ahlinya.

[RS/ RVS]