Sambut Hidup Baru, Ahok Perlu 3 Cek Kesehatan Ini

Oleh dr. Dyan Mega Inderawati pada 24 Jan 2019, 16:48 WIB
Akhirnya, hari ini Ahok bebas! Sebelum kembali memulai aktivitas, sebaiknya mantan Gubernur DKI Jakarta ini melakukan tiga cek kesehatan ini.
Sambut Hidup Baru, Ahok Perlu 3 Cek Kesehatan Ini (Galih-W-Satria/Bintang.com)

Klikdokter.com, Jakarta Sejak hari ini, Kamis (24/1) Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok kembali menghirup bebas setelah menjalani hukuman selama 1 tahun 8 bulan 15 hari atas kasus yang menjeratnya. Menyambut lembaran hidup baru, tentunya mantan Gubernur DKI Jakarta sudah punya segudang agenda yang ingin dilakukan. Namun, untuk memastikan kelancaran semua rencananya, ada baiknya Ahok yang kini ingin dipanggil dengan sebutan BTP perlu menjalani tiga cek kesehatan ini sebelum larut dalam kesibukan.

Bebasnya Ahok dalam musim politik seperti sekarang, tentu saja namanya kerap disebut-sebut. Ada banyak warga yang menantinya memberikan pernyataan seputar calon presiden dan calon presiden, bahkan tak sedikit pula yang menjagokannya sebagai ketua PSSI menggantikan Edy Rahmayadi yang baru saja mengundurkan diri. Meski demikian, dirangkum dari berbagai sumber, mantan Bupati Belitung Timur ini tak mau terburu-buru masuk ke ranah politik. Ia mengatakan ingin berlibur bersama keluarga dan berencana mendirikan BTP Foundation.

Apa pun kesibukan yang ingin ia jalani setelah keluar dari Rutan Mako Brimob, Depok, Jawa Barat, sebaiknya mantan anggota DPR RI periode 2009-2014 ini melakukan beberapa cek kesehatan untuk memastikan kondisi kesehatan dan kebugaran tubuh sebelum kembali beraktivitas. Apa saja?

1. Pemeriksaan tekanan darah 

Awali pemeriksaan dengan cek tekanan darah. Lewat pengukuran tekanan darah, dapat dilihat faktor risiko beberapa penyakit sekaligus seperti penyakit jantung, stroke, hingga gangguan ginjal.

Stroke dan serangan jantung adalah dua penyakit yang paling banyak menyebabkan kematian di Indonesia, dan umumnya menyerang usia 40 tahun ke atas. Mengingat usia BTP sudah hampir 53 tahun, cek darah sebaiknya tidak dilewatkan.

2. Pemeriksaan jantung 

Usia merupakan salah satu faktor yang menentukan risiko seseorang menderita penyakit jantung di kemudian hari. Walaupun orang muda juga bisa mengalami gangguan jantung, tapi berdasarkan data, risiko terbesar tetap dimiliki pria yang berusia di atas 45 tahun. Karenanya, ayah dari tiga anak ini, juga dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan jantung sebelum memulai hidup barunya.

Selain faktor usia, hal lain yang juga dapat meningkatkan risiko penyakit jantung adalah hipertensi, penyakit kolesterol, diabetes, kurang berolahraga, merokok dan adanya riwayat penyakit serupa dalam keluarga.

Pemeriksaan jantung sendiri terdiri dari beberapa tahapan. Pertama adalah wawancara medis dan pemeriksaan fisik. Saat wawancara, dokter akan menelusuri faktor risiko dan adanya tanda-tanda yang mengarah pada penyakit jantung, misalnya nyeri dada.

Bila terdapat faktor risiko atau tanda yang dicurigai mengarah pada gangguan jantung, dokter umumnya akan menyarankan melakukan pemeriksaan tambahan berupa :

  • Elektrokardiogram (EKG) 

EKG merupakan pemeriksaan yang berfungsi mengevaluasi kerja jantung berdasarkan sistem penghantaran listrik dan juga anatomis jantung. Bila terdapat gangguan pergerakan atau pelebaran bagian jantung misalnya, EKG akan menunjukkan hasil yang tidak normal.

  • Ekokardiogram (Echo) 

Ekokardiogram merupakan USG jantung yang dilakukan untuk mengevaluasi struktur dan kerja jantung secara realtime

  • Tes stres 

Tes ini dilakukan dengan merekam aktivitas jantung saat seseorang beraktivitas. Test ini juga umum dikenal dengan treadmill test.

  • CT scan dan MRI

Bila diperlukan, dokter juga dapat menginstruksikan pemeriksaan tambahan penciteraan berupa CT scan atau MRI. Gunanya adalah untuk melihat langsung gambaran jantung, baik struktur luar maupun bagian dalam jantung.

3. Pemeriksaan kejiwaan 

Selain pemerikaan fisik, evaluasi kondisi kejiwaan juga tak kalah penting. Lama mendekam di lingkungan asing seperti penjara, mungkin tekanan yang dirasakannya saat dulu saat harus berjuang menghadapi kasusnya - sebelum ia akhirnya dijebloskan ke penjara, perceraiannya, hingga tuntutan publik mungkin saja membuat kondisi psikisnya terpengaruh. Baik ringan maupun berat.

Intinya, sebaiknya jangan disepelekan. Gangguan kejiwaan dalam kondisi berat bisa membuat seseorang depresi, sehingga aktivitasnya hariannya pun akan terdampak. Bukan tak mungkin juga gejala depresi bisa memberat, sehingga nyawa bisa terancam.

Uji tapis atau skrining kejiwaan biasanya menggunakan serangkaian pertanyaan yang jawabannya dapat merefleksikan kondisi psikis yang sedang dialami seseorang. Pertanyaannya meliputi:

  1. Adakah penurunan semangat dalam berkegiatan sehari-hari?
  2. Apakah pernah merasakan depresi, stres, atau penurunan nafsu makan?
  3. Apakah mengalami kesulitan tidur?
  4. Apakah merasakan sulit konsentrasi?
  5. Adakah keinginan untuk mengakhiri hidup?

Kelima pertanyaan tersebut hanya sebagian kecil dari serangkaian pertanyaan dan pemeriksaan lain untuk mengevaluasi kondisi kejiwaan seseorang. Jawaban dari pertanyaan tersebut dapat merefleksikan ada tidaknya gangguan, beserta penilaian seberapa berat gangguan yang dialami.

Selain dengan sikap positif, Ahok yang mulai sekarang ingin dipanggil BTP ini sebaiknya melakukan cek kesehatan sebelum kembali beraktivitas. Mulai dari cek tekanan darah, pemeriksaan jantung, hingga pemeriksaan kejiwaan. Dengan kesehatan fisik dan psikis terpantau, serangkaian aktivitas yang sudah dipersiapkan pun dapat dijalani dengan lebih optimal. Selamat membuka lembaran baru, BTP!

[RN/ RVS]