Anak Suka Memukul, Ini Tips Menanganinya

Oleh Hotnida Novita Sary pada 28 Jan 2019, 14:45 WIB
Saat merasa kesal dan marah, anak suka memukul, mendorong, atau menggigit orang lain. Bagaimana cara menangani situasi ini?
Anak Suka Memukul, Ini Tips Menanganinya (Oksana-Mizina/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Anda mendapat keluhan dari tetangga atau pengasuh anak bahwa balita Anda baru saja memukul teman sebayanya? Bukan yang pertama, bahkan kejadian ini sudah terjadi beberapa kali! Tenang, Anda tidak sendirian. Banyak orang tua yang mengeluhkan bahwa anak suka memukul, menggigit, bahkan membanting benda-benda di sekitarnya.

Menurut dr. Alberta Jesslyn Gunardi, perilaku agresif seperti memukul orang atau membanting benda adalah hal umum pada tahap perkembangan balita.

“Perilaku ini tidak berarti bahwa balita Anda kelak akan menjadi tukang bully. Perilaku tersebut menunjukkan bahwa ia sedang ingin belajar mandiri dan keterampilan berbahasa,” tutur dr. Jesslyn.

Senada dengan dr. Jesslyn, Richard Tremblay, Direktur Pusat Keunggulan untuk Pengembangan Anak Usia Dini di Montreal, menambahkan, “Memukul, menendang, bahkan menggigit adalah perilaku normal pada usia balita.”

Perilaku itu, menurut Joan Durrant, psikolog dan profesor ilmu sosial keluarga di Universitas Manitoba di Winnipeg, karena secara alamiah manusia dilahirkan untuk bisa menyerang dan bertahan. “Akan tetapi, anak harus belajar untuk tidak menggunakan agresi fisik. Untuk itu, orang tua dan pengasuh perlu mengajar anak untuk menahan dorongan alami untuk memukul ketika merasa kesal,” ujar dia.

1 of 2

Tips menangani anak yang suka memukul

Meski normal, Anda tetap harus mengajarkan bahwa memukul, atau membanting benda-benda bukanlah perilaku yang bisa diterima. Dalam proses pengajaran tersebut, dilansir dari Babycenter, berikut tips yang bisa Anda terapkan.

  • Tetap tenang

Membentak, memukul, atau memberi tahu anak Anda bahwa ia jahat tidak akan membawa perubahan positif pada perilakunya. Anda hanya akan membuatnya lebih gusar dan memberinya contoh untuk marah. Jadi, tetaplah tenang. Tunjukkan kepadanya bahwa Anda bisa mengendalikan emosi. Ini akan memberi balita Anda contoh dan membantunya belajar mengendalikan emosi.

  • Tetapkan batas yang jelas

Segera tanggapi kapan pun anak Anda bersikap agresif. Berikan anak waktu untuk menenangkan diri, sekitar 1 – 2 menit sudah cukup. Setelah beberapa saat, balita akan menghubungkan perilaku buruknya dengan konsekuensi yang diperolehnya. Lama-kelamaan anak akan tahu bahwa jika memukul atau menggigit, memiliki konsekuensi.

  • Perkuat perilaku yang baik

Daripada hanya berpusat pada perilakunya yang buruk, lebih baik Anda fokus pada perilakunya yang baik. Misalnya, pujilah anak ketika mau berbagi sepotong kuenya dengan teman sebaya. Suatu saat, anak akan menyadari betapa kuatnya kata-kata Anda dan termotivasi selalu berperilaku baik.

  • Berikan konsekuensi logis

Saat anak berada di taman bermain, tapi lalu mendorong dan mengganggu teman yang lain, pisahkan anak segera. Bawa anak ke pinggir taman sambil menonton anak-anak lain bermain. Jelaskan bahwa anak Anda bisa kembali bermain saat dia siap untuk tidak menyakiti anak-anak lain. Meski dia belum paham betul maksud kata-kata Anda, anak dapat mengerti ada konsekuensi dari perilaku buruknya.

  • Disiplin secara konsisten

Sebisa mungkin, konsistenlah dengan cara Anda mendisiplinkan perilaku negatif anak, seperti memukul, mendorong, atau menendang. Respons Anda yang sama akan dipelajari dan diingat oleh anak Anda. Akhirnya, anak akan paham ketika dia “bertingkah”, akan ada konsekuensi.

  • Bicarakan kembali

Tunggu sampai balita Anda tenang, lalu dengan lembut bicarakan kembali apa yang terjadi. Tanyakan padanya apa yang memicu kemarahannya. Tekankan dengan singkat dan sederhana bahwa memiliki perasaan marah adalah wajar. Namun, tidak baik untuk menunjukkannya dengan cara memukul, menendang, atau menggigit. Dorong anak untuk menemukan cara merespons yang lebih baik, seperti meminta bantuan orang dewasa. Tak lupa, dorong dia untuk meminta maaf setelah dia menyerang seseorang. Meski tidak tulus pada awalnya, tetapi pelajaran “meminta maaf” akan meresap pada akhirnya.

Ditambahkan oleh dr. Jesslyn, orang tua dapat membatasi waktu penggunaan gawai pada balita dan anak. “Video, permainan digital, dan media lain mungkin saja berisi teriakan dan pukulan. Jika anak Anda melihat ini melalui gawai atau televisi, bukan tidak mungkin dia akan menirunya,” kata dr. Jesslyn.

Untuk itu, American Academy of Pediatrics menyarankan anak di bawah usia 18 bulan tidak menonton televisi dan gawai, seperti HP, laptop, dan tablet. Saat anak berusia 18 bulan atau lebih, batasi waktu menonton televisi dan menggunakan gawai hanya 1 jam per hari. Pastikan pula anak Anda melihat saluran khusus balita.

Menangani balita dan anak suka memukul memang gampang-gampang susah. Namun, orang tua adalah model dan teladan mereka. Karena itu, orang tua harus dapat menjadi contoh perilaku yang baik. Ciptakan suasana menyenangkan di sekitar anak agar mereka merasa nyaman. Namun, bila kondisinya semakin berat, Anda dapat membawa anak ke psikolog. Baca juga artikel ini untuk mencari solusi atas situasi tersebut.

[RVS]

Lanjutkan Membaca ↓