Sering Onani Sebabkan Kanker Testis?

Oleh Krisna Octavianus Dwiputra pada 30 Jan 2019, 15:40 WIB
Banyak pihak yang beranggapan bahwa sering onani bisa sebabkan kanker testis. Apakah anggapan tersebut sesuai dengan fakta medis?
Sering Onani Sebabkan Kanker Testis? (Sargis-Zubov/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Publik dikejutkan dengan kabar perenang peraih medali emas Olimpiade Rio 2016, Nathan Adrian, yang mengalami kanker testis. Hal ini lebih mengejutkan lagi mengingat Adrian adalah seorang atlet yang kesehariannya dipadati dengan gaya hidup sehat, khsususnya rutin berolahraga. Kanker testis sangat berhubungan dengan alat reproduksi pria. Tentu saja lalu masyarakat beranggapan bahwa kebiasaan onani bisa sebabkan kanker testis. Benarkah demikian?

Apa kata medis?

Kanker testis dan onani. Jika dipikirkan secara singkat menggunakan logika, keduanya memang terkesan memiliki hubungan. Akan tetapi, jika ditinjau dari segi medis, para pakar kesehatan menyebut bahwa hubungan antara kanker testis dan onani masih bersifat “abu-abu”. Pasalnya, penyebab pasti kanker testis―dan beberapa jenis kanker lainnya―masih belum diketahui dengan pasti hingga saat ini.

"Sebenarnya belum bisa diketahui apakah onani menyebabkan kanker testis atau tidak. Tapi jelas bahwa onani tidak boleh dilakukan untuk alasan apapun," ujar dr. Sepriani Timurtini Limbong dari KlikDokter.

"Untuk penyebab utama kanker testis sendiri belum diketahui. Berbeda dengan kanker serviks yang diketahui karena virus. Sama seperti kanker lain yang belum diketahui penyebab tunggalnya, kanker testis juga biasanya masih sering terjadi karena faktor genetik atau turunan," sambungnya.

Jadi, hingga saat ini, onani masih belum dapat dikategorikan sebagai penyebab utama kanker testis. Kendati demikian, kanker testis memiliki beberapa faktor risiko yang sebaiknya diwaspadai.

“Kondisi yang bisa meningkatkan risiko kanker testis, antara lain kriptorkismus (undescendent testis) yang merupakan kondisi testis tidak turun dan masuk ke dalam kantong buah zakar, kelainan bawaan pada penis, hernia inguinal, dan adanya riwayat kanker testis dalam keluarga,” ungkap dr. Alvin Nursalim dari KlikDokter.

Kanker testis bisa dicegah jika terdeteksi dini

Kanker testis bisa dicegah jika dilakukan deteksi dini, yaitu dengan melakukan tes sendiri atau yang disebut testicular self-examination (TSE). Secara garis besar, tes ini sama seperti ketika wanita memeriksa payudara mereka sendiri terkait penyakit kanker payudara.

Menurut dr. Nitish Basant Adnani dari KlikDokter, TSE bisa dilakukan dengan meraba kedua testis secara halus menggunakan jempol dan jari-jari kedua tangan untuk mengetahui adanya benjolan keras atau perbedaan ukuran pada kedua testis.

"Jika ditemukan adanya kejanggalan, Anda dapat segera berkonsultasi dengan dokter,” ujar dr. Nitish.

Lebih lanjut, dr. Nitish mengatakan bahwa dokter nantinya akan mengevaluasi benjolan tersebut dengan pemeriksaan fisis atau pemeriksaan penunjang seperti ultrasonografi. Jika benar benjolan tersebut terjadi akibat kanker, salah satu cara penanganannya adalah melakukan prosedur pembedahan pengangkatan testis yang terkena. Nantinya, testis yang diangkat dapat diganti dengan testis prostetik.

“Jika deteksi dini ditunda, penanganan kanker testis akan menjadi semakin sulit dengan angka kesembuhan yang cenderung menurun," tegas dr. Nitish.

Kanker testis menjadi penyakit berbahaya yang bisa hadir tanpa disadari. Kebiasaan onani yang sebabkan kanker testis pada pria belum terbukti kebenarannya. Meski demikian, para pria tetap diminta untuk terus waspada dan berhati-hati. Jika menemukan adanya kelainan pada testis, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter.

(NB/ RVS)