Hoaks Picu Depresi pada Anak dan Remaja

Oleh dr. Alberta Jesslyn Gunardi. BMedSc Hons pada 31 Jan 2019, 09:00 WIB
Banyaknya hoaks yang diterima tanpa disaring terlebih dahulu dapat menyebabkan stres serta depresi pada anak dan remaja.
Hoaks Picu Depresi pada Anak dan Remaja (Mark Nazh/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Saat ini, kabar bohong atau hoaks dengan cepat tersebar di situs internet, aplikasi pesan, dan media sosial. Tak hanya orang dewasa, anak dan remaja pun turut menjadi korban hoaks. Berseliwerannya hoaks ini sangat perlu diwaspadai. Hal itu karena menurut penelitian, hoaks dapat memengaruhi kesehatan mental sehingga rentan mengakibatkan depresi.

Hoaks bisa sebabkan depresi

Banyaknya informasi yang diterima tanpa disaring terlebih dahulu dapat menyebabkan stres serta depresi pada anak dan remaja. Misalnya, tekanan dari media sosial tentang penampilan diri (seperti bentuk tubuh dan pakaian yang dikenakan) bisa mengubah pandangan para remaja dan menjadi standar nilai sosial di kalangannya.

Hal tersebut membuat remaja tertekan karena harus menampilkan diri mereka sesuai dengan standar yang diciptakan di media sosial. Mereka pun akan minder apabila tidak dapat mencapai standar tersebut. Minder yang berkelanjutan akan membuat mereka stres dan depresi.

Tidak hanya itu, hujatan kebencian dan hoaks yang ramai beredar membuat anak dan remaja yang membacanya dapat menjadi depresi. Hal ini terjadi karena seakan-akan mereka harus memilih mereka ada di pihak yang mana. Padahal, mereka belum sepenuhnya tahu mana yang baik dan benar karena terlalu banyak berita hoaks yang tersebar.

Di lain sisi, apabila berada di pihak yang berbeda dengan temannya, anak dan remaja dapat dikucilkan dan kehilangan teman-temannya. Hoaks ini sering kali berdampak langsung pada kehidupan nyata. Misalnya, terjadi kekerasan baik pribadi maupun kelompok, jatuhnya reputasi dan nama baik seseorang atau perusahaan karena hoaks.

Cemas dan depresi pada anak dan remaja juga dipicu karena tidak dibatasinya mereka dalam bermedia sosial. Tak jarang, anak dan remaja menghabiskan sebagian besar waktunya hanya untuk berselancar di media sosial. Bahkan,waktu tidur mereka menjadi kurang dan tidak nafsu makan. Hal ini semakin memicu mereka menjadi depresi.

Dalam studi di Universitas di Pensilvania, 143 remaja diteliti terkait penggunaan media sosial. Hasilnya, mereka yang jarang menggunakan media sosial memiliki kesehatan mental yang lebih baik daripada yang sering menggunakan media sosial. Mereka yang sering menggunakan media sosial juga menunjukkan gejala takut kehilangan, kesepian, cemas, depresi, kurang konsentrasi, kurang kepercayaan diri, dan ingin dihargai lebih.

1 of 2

Cara menanggapi hoaks

Anak-anak dan remaja Anda harus diajarkan bagaimana menanggapi hoaks dengan baik. Yaitu, dengan membaca sebuah informasi terlebih dahulu dengan cermat tanpa langsung menyebarkannya. Perhatikan juga situs yang menyebarkan berita tersebut, apakah tepercaya atau tidak.

Pikirkan juga apakah berita tersebut berguna bagi masyarakat atau tidak, atau hanya mengujarkan kebencian antar-kelompok atau membuat minder orang lain. Anak dan remaja juga harus diajarkan memilah berita yang positif dan negatif.

Selain itu, anak-anak Anda juga harus dibatasi dalam menggunakan media sosial, dan lebih banyak aktif di dunia nyata. Itu karena manfaat yang akan diperoleh cukup banyak. Misalnya, anak dapat bersosialisasi dan berinteraksi dengan baik bersama teman sebaya, saudara, juga dengan Anda sebagai orang tua. Selain itu, membatasi anak dan remaja bermedia sosial juga mencegah agar hoaks tidak berdampak negatif pada kehidupan mereka.

Oleh karena itu, selalu awasi dan perhatikan informasi apa yang dibaca dan diterima oleh anak-anak Anda. Selain itu, batasi pula penggunaan media sosial mereka dalam satu hari. Jangan sampai anak dan remaja mengalami depresi dan stres karena kebiasaan membaca hoaks.

[HNS/ RVS]

Lanjutkan Membaca ↓