Adakah Pantangan Makanan untuk Orang Sakit Demam Berdarah Dengue?

Oleh Ayu Maharani pada 01 Feb 2019, 16:00 WIB
Penderita demam berdarah dengue biasanya disarankan untuk makan segalanya agar cepat sembuh. Tapi, benarkah tidak ada pantangan sama sekali?
Adakah Pantangan Makanan untuk Orang Sakit Demam Berdarah Dengue? (VGstockstudio/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Ada sebagian orang yang menganggap, terkena demam berdarah dengue (DBD) lebih beruntung ketimbang terkena tifus. Pasalnya, orang yang terkena tifus memiliki segudang pantangan makanan yang wajib diterapkan. Kalau tidak, infeksi bakteri Salmonela itu akan semakin parah. Sedangkan orang dengan DBD, tidak ada sama sekali pantangan makanan. Penderitanya justru disuruh lebih banyak makan.

Kendati demikian, apa benar penderita DBD boleh makan seenaknya dengan alasan mempercepat proses kesembuhan? Atau jangan-jangan, ada pantangan yang sebenarnya belum diketahui oleh orang banyak?

Perhatikan jenis makanan

Menurut dr. Adeline Jaclyn dari KlikDokter, benar adanya bahwa penderita DBD memiliki pantangan yang jauh lebih sedikit ketimbang penderita tifus. Sebab, DBD tidak menyerang saluran pencernaan, sedangkan tifus sangat berkaitan.

“Tapi, yang perlu diingat di sini adalah demam berdarah sangat bisa memicu keluarnya perdarahan. Disarankan, Anda tidak mengonsumsi makanan yang bisa memicu perdarahan, terutama perdarahan lambung,” jelas dr. Adeline.

Sebagai contoh, saat terserang DBD, jauhi dulu makanan pedas, asam, dan berbumbu kompleks agar lambung tidak terluka dan berdarah. Ini juga sebenarnya wajib dipatuhi oleh penderita gangguan lambung yang tengah terserang DBD. Hindari menjadikan DBD sebagai waktu untuk makan sembarangan yang justru akan memperparah kondisi lambung.

Penderita DBD juga sebaiknya menghindari makanan yang dapat mengubah warna urine ataupun feses, terutama buah naga. Seperti yang Anda ketahui, buah naga dapat membuat warna urine ataupun feses menjadi kemerahan.

“Jika air kencing atau feses kemerahan karena makanan, khususnya buah naga, akan sulit untuk mendiagnosis keparahan dari perdarahan demam berdarah. Kami jadi ragu, apakah itu benar akibat perdarahan atau pengaruh dari buah naga,” dr. Adeline menegaskan.

Jadi, untuk sementara waktu, hindari makanan yang berwarna seperti itu untuk mempermudah diagnosis dokter. Selain buah naga, obat-obatan antinyeri seperti ibuprofen dan aspirin juga sebaiknya tidak dikonsumsi sembarangan (tidak dalam pengawasan dokter) karena bisa memicu perdarahan.

Tekstur makanan bagi penderita DBD

Lalu, bagaimana dengan tekstur? Perlukah penderita DBD selalu mengonsumsi bubur ataupun makanan yang bertekstur lunak agar mudah ditelan dan dicerna? dr. Adeline mengatakan, tekstur makanan tidak menjadi pantangan untuk penderita DBD. “Baik tekstur yang keras maupun lunak, dua-duanya boleh dikonsumsi,” katanya.

Selama penderitanya memiliki tenaga yang cukup untuk mengunyah dan melumatnya sebelum ditelan, maka makanan bertekstur keras bukan jadi masalah. Beda halnya jika kondisi penderita sangat lemas. Mungkin memberikan makanan bertekstur lunak dan mudah ditelan, bisa mempermudah si pasien makan tanpa harus mengunyah ekstra.

Porsi makanan

Porsi makan juga tidak perlu terlalu dipusingkan. Selagi penderita DBD masih memiliki nafsu makan yang baik, maka memberikannya porsi makan normal adalah tindakan yang sah-sah saja. Beda halnya jika kehilangan nafsu makan dan sempat mual muntah. Lebih baik, berikan porsi makan yang sedikit, tetapi dalam frekuensi yang sering agar kondisi perut lebih nyaman.

Lalu, perbanyaklah asupan cairan, terutama minum air putih. Jika sudah terserang DBD, anjurannya bukan lagi “cukupi”, tetapi “perbanyak”. Anda boleh mengonsumsi jus buah atau minuman berelektrolit untuk meningkatkan daya tahan tubuh serta kadar trombosit.

Hal yang patut diperhatikan untuk kasus DBD, perbanyak konsumsi air putih dan pilihlah makanan bergizi yang kualitas kebersihannya terjamin. Sebab, ketika DBD menyerang, sistem imunitas tubuh Anda sedang berada di titik terendah. Jika sistem imunitas sedang tidak baik dan Anda justru makan sembarangan, bukan tak mungkin Anda terinfeksi penyakit lain.

[RS/ RVS]