Cairan Otak Janin Berlebih, Berbahayakah?

Oleh dr. Fiona Amelia MPH pada 04 Feb 2019, 10:30 WIB
Meski tak selalu berarti adanya kelainan, ditemukannya cairan otak janin yang berlebih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
Cairan Otak Janin Berlebih, Berbahayakah? (BestTechnology/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Ibu hamil tentu mendambakan kondisi janin yang sehat. Beragam asupan bernutrisi dikonsumsi ibu hamil untuk menjaga kesehatannya sekaligus menjaga kesehatan janin dalam kandungannya. Namun tak jarang, dokter memvonis adanya cairan otak janin yang berlebih melalui pemeriksaan USG kehamilan. Lantas, apakah kondisi yang terjadi pada janiin tersebut membahayakan? Apakah tumbuh kembang janin berikutnya akan terganggu?

Perkembangan saraf otak janin

Saraf otak dibentuk oleh dua komponen utama yaitu otak dan saraf tulang belakang. Keduanya dikitari oleh cairan bening yang dihasilkan otak secara alami. Dalam kondisi normal, cairan yang disebut dengan likuor cerebrospinal (LCS) ini berfungsi seperti bantalan. Cairan yang memiliki fungsi sebagai bantalan ini berperan dalam melindungi otak dan saraf tulang belakang dari berbagai guncangan.

Di dalam otak, LCS terkumpul di dalam rongga yang disebut dengan ventrikel. Rongga ini mulai berkembang sejak awal kehamilan, namun diameternya baru akan stabil antara usia kehamilan 15 dan 40 minggu. Oleh sebab itu, dokter baru akan menilainya saat memasuki trimester kedua kehamilan.

Secara umum, ventrikel otak janin dianggap normal apabila diameternya kurang dari 10 mm. Sebaliknya, bila ventrikel berdiameter 10 mm atau lebih, maka janin dianggap mengalami pembesaran ventrikel yang secara tidak langsung menggambarkan adanya cairan otak yang berlebih. Pembesaran dianggap ringan apabila diameter ventrikel 10-12 mm, sedang bila 13-15 mm, dan berat bila > 16 mm.

Ada atau tidaknya temuan ini penting karena cairan otak janin yang berlebih dapat berhubungan dengan gangguan perkembangan saraf, motorik, dan kognitif bayi baik di dalam maupun di luar kandungan.

Penyebab cairan otak janin berlebih

Volume cairan otak janin yang tergambar dari diameter ventrikel otak ditentukan oleh produksi dan alirannya. Cairan otak bisa berlebih jika produksinya pun berlebih atau alirannya tidak normal, alias ada sumbatan.

Keduanya paling sering ditemukan pada janin yang mengalami kelainan kromosom, sindrom genetik, infeksi bawaan lahir (cytomegalovirus /CMV, toksoplasma, virus Zika, virus lainnya), sumbatan saluran ventrikel, kelainan anatomi otak, defek tabung saraf, perdarahan otak, hingga tumor otak.

Perlu evaluasi lebih lanjut

Bila dokter menemukan indikasi adanya cairan otak janin yang berlebih pada USG, diperlukan evaluasi lebih lanjut untuk mengonfirmasi dan mencari penyebabnya. Di antaranya, pemeriksaan USG yang lebih mendetil, tes genetik dan pemeriksaan untuk melihat ada tidaknya infeksi, hingga MRI janin.

Bila seluruh pemeriksaan lanjutan ini mendukung adanya penyebab tertentu, tidak ada hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi penyebab cairan otak yang berlebih sebelum janin dilahirkan.

Namun, mulai bisa direncanakan alternatif-alternatif penanganan yang akan dilakukan setelah lahir. Nantinya ini pun akan disesuasikan dengan keluhan yang muncul.

Belum tentu ada kelainan

Sebaliknya, hasil pemeriksaan lanjutan bisa saja menunjukkan tanda-tanda normal. Sesungguhnya, ini wajar saja, sebab adanya cairan otak yang berlebih tak selalu berarti ada kelainan. Ini dapat merupakan variasi normal yang ditemukan pada 1 persen janin.

Cairan otak yang awalnya tampak berlebih dapat kembali normal dan tidak menimbulkan dampak apapun. Faktanya, lebih dari 90 persen janin dengan kondisi seperti ini terlahir sehat dan tumbuh kembangnya pun normal.

Oleh sebab itu, Anda tak perlu cemas dulu bila dokter menemukan adanya cairan otak janin yang berlebih pada pemeriksaan USG. Kondisi ini dapat merupakan varian normal yang tidak akan berdampak apapun pada tumbuh kembang bayi di masa depan. Meski demikian, ikuti saran dokter bila memang diperlukan pemeriksaan lanjutan untuk mengonfirmasi temuan tersebut.

[RVS]