Fakta tentang Cuci Darah yang Perlu Anda Tahu

Oleh dr. Resthie Rachmanta Putri. M.Epid pada 07 Feb 2019, 08:00 WIB
Cuci darah bukan prosedur medis yang mengerikan seperti yang dibayangkan kebanyakan orang. Ketahui lima fakta penting mengenai cuci darah.
Fakta tentang Cuci Darah yang Perlu Anda Tahu (Tyler Olson/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Kata ”cuci darah” identik dengan prosedur yang mengerikan pada orang yang mengalami gangguan ginjal berat. Hal ini tak sepenuhnya benar. Cuci darah, atau secara medis disebut sebagai terapi pengganti ginjal, merupakan prosedur medis yang dilakukan untuk membersihkan darah dari toksin dan zat berbahaya.

Dalam keadaan normal, tindakan pembersihan darah ini dilakukan oleh ginjal. Namun pada kondisi tertentu saat ginjal tak mampu membersihkan semua darah dengan optimal, terapi pengganti ginjal diperlukan.

Berikut ini beberapa fakta penting mengenai cuci darah yang perlu Anda ketahui.

  1. Cuci darah tak hanya untuk penderita gagal ginjal

Pada sebagian besar kasus, cuci darah memang dilakukan pada gagal ginjal kronis tahap akhir, yaitu pada kondisi ginjal yang sudah hampir tak berfungsi sama sekali. Namun, ada beberapa kondisi lain yang juga membutuhkan pengobatan cuci darah, yaitu kondisi keracunan yang berat, penumpukan cairan di paru-paru (edema paru), kadar kalium yang terlalu tinggi di dalam darah, dan beberapa kondisi medis lainnya.

  1. Prosedur cuci darah tidak menakutkan sama sekali

Banyak orang membayangkan prosedur cuci darah mirip halnya dengan mencuci pakaian, yaitu semua darah dikeluarkan dari tubuh, dicuci dengan zat tertentu, lalu dimasukkan kembali. Hal ini tidak tepat.

Prosedur cuci darah yang dikenal dengan istilah hemodialisis dilakukan dengan cara yang sederhana. Pasien bisa berbaring atau duduk. Perawat akan menusukkan jarum ke lengan pasien. Besar jarum mirip dengan jarum yang digunakan saat mendonorkan darah. Selebihnya tak ada hal lain yang dirasakan. Prosedur cuci darah biasanya selesai dalam 3-4 jam. Selama prosedur berlangsung, pasien dapat menonton televisi, main game, makan, atau melakukan hal menyenangkan lainnya.

  1. Orang yang menjalani cuci darah tetap bisa beraktivitas normal

Cuci darah bukanlah akhir dari segala sesuatu. Penderita cuci darah tak perlu berbaring terus-menerus di tempat tidur. Banyak orang yang menjalani cuci darah bisa tetap bersekolah dan bekerja dengan optimal. Biasanya mereka bekerja dari pagi hingga sore hari, lalu ”mampir” beberapa jam ke rumah sakit untuk cuci darah.

  1. Cuci darah bisa dilakukan di rumah

Terdapat dua prosedur cuci darah yang paling sering digunakan, yaitu hemodialisis dan dialisis peritoneal. Hemodialisis merupakan tindakan terapi pengganti ginjal yang dilakukan di rumah sakit. Umumnya tindakan ini dilakukan 2-3 kali per minggu, dengan lama 3-4 jam tiap kalinya.

Sementara itu, dialisis peritoneal merupakan tindakan cuci darah yang dilakukan dengan memasang akses di perut. Tindakan ini dilakukan sendiri secara mandiri oleh pasien. Jadi bisa dilakukan di mana saja, misalnya di rumah. Berbeda dengan hemodialisis, tindakan dialisis peritoneal dilakukan setiap 4-6 jam setiap hari.

  1. Pada sebagian besar kasus, cuci darah harus dilakukan seumur hidup

Cuci darah paling banyak dilakukan pada penderita gagal ginjal kronis tahap akhir yang ginjalnya sudah tak mampu menjalankan fungsinya. Pada kondisi seperti ini, cuci darah harus dilakukan seumur hidup. Jika tak dilakukan secara rutin, toksin akan menumpuk di ginjal dan menimbulkan berbagai komplikasi berbahaya bagi otak, jantung, paru, dan organ lainnya.

Jadi cuci darah yang dilakukan melalui prosedur hemodialisis di rumah sakit atau dialisis peritoneal di rumah bukanlah hal yang menakutkan. Prosedur ini justru membantu agar orang mengalami gagal ginjal dapat berada dalam kondisi sehat dan beraktivitas seperti kebanyakan orang lainnya.

[RS/ RVS]