Cara Menghadapi Orang Dewasa yang Tantrum

Oleh Ayu Maharani pada 11 Feb 2019, 12:00 WIB
Tak cuma anak-anak, orang dewasa juga bisa mengalami tantrum. Lakukan beberapa cara ini untuk menghadapi orang dewasa yang tantrum.
Cara Menghadapi Orang Dewasa yang Tantrum (Viachaslau Govorkov/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Tantrum kerap dikaitkan dengan anak-anak. Perilaku ini umumnya terjadi pada anak usia 1-4 tahun atau di saat mereka tengah belajar cara berkomunikasi yang efektif sekaligus mengelola emosi. Namun tahukah Anda, seperti anak-anak, orang dewasa juga bisa mengalami tantrum?

Menurut dr. Theresia Rina Yunita dari KlikDokter, penyebab orang dewasa terkena tantrum antara lain ketidakmampuan untuk memaafkan, stres, ketidakdewasaan emosi, dan adanya pengaruh dari keluarga atau lingkungan sekitar. Dilansir dari Psychology Today,  bila di sekeliling Anda ada orang dewasa yang tantrum, terapkanlah beberapa cara di bawah ini agar kondisi lebih terkendali.

Tantrum pada orang dewasa itu berbahaya

Bukan berarti tantrum pada anak kecil bisa Anda sepelekan, tetapi kemarahan yang tidak terkontrol dari orang dewasa yang telah memiliki kekuatan serta pikiran, akan jauh lebih berbahaya ketimbang teriakan seorang anak kecil. Jika telanjur lupa diri, mereka bisa melakukan hal-hal yang membahayakan diri sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Oleh karena itu, cara menghadapi perilaku tantrum pada anak dan orang dewasa berbeda.

Adapun cara menghadapi orang dewasa yang tantrum yaitu:

  • Tetap tenang dan jangan terpancing

Aturan pertama dalam menanggapi kemarahan orang dewasa adalah Anda harus tetap tenang dan tidak terlibat di dalamnya. Ingat, orang yang tantrum dan orang yang sedang sekadar kesal itu berbeda. Karena itu, hindari berdebat dengan orang dewasa yang sedang tantrum. Bila Anda mendebatnya atau mengatakan dia “salah”, kondisi akan bisa semakin buruk. Bukan tak mungkin hal-hal yang ditakutkan malah terjadi.

  • Menilai potensi bahaya

Biasanya, ketantruman orang dewasa dipicu oleh sesuatu seperti narkoba, minuman beralkohol, dan lain sebagainya. Jika ini terjadi, bersikap tenang bukan lagi tindakan yang bijaksana. Sebaiknya, laporkan hal tersebut ke pihak berwajib sesegera mungkin. Apalagi jika orang itu sudah sampai mengancam atau melakukan kekerasan fisik, baik menggunakan senjata atau tidak. Seperti dikutip dari Psychology Today, bila keadaannya tidak sulit bagi Anda untuk minta pertolongan atau menghubungi pihak berwajib, segeralah pergi dari sana.

  • Tunjukkan bahwa Anda mengerti

Langkah ini bisa dilakukan kala orang yang mengamuk tidak sampai melakukan kekerasan terhadap dirinya sendiri atau orang di sekitarnya (termasuk Anda). Dengan tenang, katakan bahwa Anda mengerti alasan di balik kekesalannya. Bila memang ada unsur kesalahan dari Anda, menurut dr. Theresia, akui dan segeralah meminta maaf baik-baik untuk meredam emosi dan membuat keadaan menjadi lebih terkontrol.

“Tidak ada salahnya mengalah. Saat emosi dia sudah stabil, Anda dapat mengajaknya berbicara dengan lebih mudah,” kata dr. There.

  • Tetap beri batasan

Setelah Anda mencoba mengerti dan meminta maaf, tetapi dirinya tetap melempar benda-benda atau mengumpat kepada Anda, katakanlah bahwa Anda mengerti atas kemarahannya. Namun, bukan berarti dia bisa berperilaku seperti itu. Katakan hal ini dengan tenang dan jangan emosi. Dengan begitu, setidaknya orang dewasa yang tantrum mengetahui bila apa yang dilakukannya sudah merugikan orang lain.

  • Beri ruang

Amukan adalah fenomena interaktif. Bila Anda meninggalkan ruangan saat dirinya memulai tanda-tanda “kehebohan”, amarah akan berakhir lebih cepat karena orang tersebut belum dapat melibatkan orang lain (Anda). Jika dia mengikuti sampai keluar ruangan, berarti Anda mesti meninggalkan rumah atau area itu untuk sementara waktu. Intinya, hindari dulu agar dia bisa tenang dan lelah dengan sendirinya.

Itulah beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menghadapi orang dewasa yang tantrum. Ingatlah, kemarahan orang dewasa akan lebih sulit dihadapi ketimbang emosi seorang anak. Maka, Anda sendiri  yang mesti melakukan strategi untuk melindungi diri serta mencegah dampak buruk yang dapat dilakukan orang dewasa yang tantrum. Jangan lupa, cadangkan kesabaran ekstra tiap kali orang tersebut “kambuh”.

[HNS/ RVS]