Keracunan Makanan yang Dibeli Online, Tanggung Jawab Siapa?

Oleh dr. Andika Widyatama pada 11 Feb 2019, 12:15 WIB
Salah satu alasan beli makanan online adalah coba-coba. Setelah dicoba, tahu-tahu Anda mengalami keracunan makanan. Cegah dengan cara ini.
Keracunan Makanan yang Dibeli Online, Tanggung Jawab Siapa? (Kaspars Grinvalds/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Di era digital seperti saat ini, kecanggihan teknologi komunikasi memudahkan kebutuhan Anda. Bahkan, dalam memenuhi kebutuhan pokok, banyak sekali jenis makanan yang bisa dibeli secara online. Namun, nyatanya banyak produk yang proses pembuatannya tak memadai, sehingga mungkin saja Anda mengalami keracunan makanan setelah mencobanya. Nah, ada beberapa cara untuk mencegahnya.

Makanan yang Anda konsumsi punya pengaruh penting dalam proses terjadinya berbagai masalah kesehatan, salah satunya keracunan makanan. Jika ini terjadi, tak hanya Anda yang menderita, bisa pula terjadi konflik dengan penjual jika Anda (dan mungkin konsumen lainnya) melayangkan komplain. Komplain tak salah, khususnya untuk mencegah agak tak ada lagi korban lainnya. Selain itu, penting juga untuk Anda memahami hal-hal seputar keracunan makanan.

Penyebab dan gejala keracunan makanan

Keracunan makanan terjadi saat Anda mengonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi. Penyebab yang paling umum yaitu bakteri, yaitu Escherichia coli, salmonela, Clostridium botulinum, Campylobacter, dan listeria. Beberapa organisme lainnya juga bisa menjadi penyebab, yaitu virus, jamur, dan parasit.

Kontaminasi makanan dapat terjadi pada tahap pengolahan yang tidak steril, penyimpanan makanan yang tidak tepat, makanan yang dimasak tidak matang, hingga proses penyajian makanan yang tidak bersih.

Biasanya, gejala keracunan makanan dapat mulai timbul sejak 30 menit Anda mengonsumsi makanan yang diduga terkontaminasi. Beberapa gejala yang dapat timbul adalah demam, pusing, mual, muntah, kram perut, diare, buang air besar berdarah, dan lemas. Gejala yang timbul dapat bervariasi, dipengaruhi beberapa faktor. Mulai dari jumlah makanan yang dikonsumsi, jenis organisme penyebab, usia, dan kondisi kesehatan tertentu (diabetes, kehamilan, gangguan organ liver, atau penggunaan obat steroid).

1 of 2

Langkah penting dalam mencegah keracunan makanan

Keracunan makanan dapat dicegah dengan menjaga kebersihan diri dan lingkungan, termasuk dalam memproses makanan secara higienis. Dimulai dari tahap pengolahan, penyimpanan, penanganan, hingga penyajian. Pastikan Anda melakukan beberapa hal berikut.

  • Memasak produk makanan secara matang menyeluruh (terutama daging, telur, dan hidangan laut).
  • Hindari pemanasan makanan berulang lebih dari satu kali.
  • Pastikan makanan belum melewati tanggal kedaluwarsa.
  • Pilih produk makanan laut yang terjamin kesegarannya.
  • Selalu simpan makanan sisa atau makanan yang tidak dimakan di dalam kulkas.
  • Pisahkan tempat penyimpanan makanan mentah dan matang untuk mencegah kontaminasi silang.
  • Jangan biarkan daging merah, daging unggas, telur, dan hidangan laut terlalu lama berada di suhu ruangan.
  • Dinginkan makanan kemasan di kulkas pada suhu yang tepat (berkisar antara 0-5 derajat Celcius).
  • Pastikan produk susu telah melewati proses pasteurisasi.
  • Konsumsi minuman yang menggunakan air matang.
  • Pastikan es dalam minuman berasal dari air matang.
  • Cuci semua peralatan masak dan makanan menggunakan air mengalir bersih dan sabun antibakteri.
  • Cuci tangan dengan sabun setiap sebelum dan setelah menyiapkan makanan.
  • Hindari menyiapkan makanan jika sedang sakit, terutama untuk orang lain.

Jika sudah terlanjur keracunan makanan, atasi dengan cara ini

Penanganan keracunan makanan tergantung dari penyebabnya. Umumnya, keracunan makanan bisa sembuh tanpa penanganan medis khusus. Penanganan awal keracunan makanan yang bisa Anda lakukan di rumah antara lain:

  • Perbanyak minum air putih untuk mengganti cairan yang keluar akibat diare atau muntah. Hal ini juga berguna untuk mencegah dehidrasi. Bila perlu, minum pula oralit.
  • Hindari makanan yang memperberat kerja saluran pencernaan, seperti makanan pedas, asam, atau berlemak dan minuman bersoda, minuman berkafein, atau alkohol.
  • Istirahat yang cukup, bila perlu tirah baring (bed rest).
  • Konsumsi obat antimuntah dan antidiare yang dijual bebas bila mengalami muntah atau diare yang parah.

Apabila penanganan awal sudah dilakukan tapi tak tampak perbaikan gejala keracunan makanan, segera periksaan diri ke dokter. Karena, jika keracunan makanan tergolong berat, diperlukan pemeriksaan dan penanganan medis lebih lanjut.

Pada prinsipnya, upaya pencegahan keracunan makanan adalah tanggung jawab bersama. Seluruh lapisan masyarakat berperan dalam mengawasi proses pembuatan makanan dari bahan mentah hingga menjadi produk makanan yang siap disantap—baik makanan yang diolah sendiri maupun makanan yang dibeli dari restoran, swalayan, online, dan lain-lain. Tentunya, ini harus melibatkan pihak produsen, distributor, dan konsumen.

(RN/ RVS)

Lanjutkan Membaca ↓