Ibu Hamil Kena Penyakit Kusta, Akankah Menular pada Janin?

Oleh dr. Andika Widyatama pada 12 Feb 2019, 09:00 WIB
Jika ibu hamil kena kusta, apakah penyakit tersebut pasti akan menular pada janin dalam kandungan? Berikut ini penjelasan lengkapnya.
Ibu Hamil Kena Penyakit Kusta, Akankah Menular pada Janin? (AnemStyle/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Kusta merupakan penyakit menular yang masih ditemui di Indonesia. Bahkan, Indonesia menempati posisi ketiga dunia dengan penderita kusta terbanyak. Data Kemenkes pada tahun 2017 menyebut, prevalensi kusta adalah 6,08 kasus per 100.000 penduduk. Kusta merupakan penyakit yang juga disertai stigma negatif, membuat penderitanya kerap dijauhi karena dianggap bisa menular dengan cepat. Jika ada ibu hamil terkena kusta, ia pun langsung panik karena pikirnya janin sudah pasti tertular. Benarkah ini?

Penyakit yang juga disebut sebagai lepra atau Morbus Hansen ini disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium leprae. Penyakit ini biasa menyerang sistem saraf perifer, kulit, lapisan lendir (mukosa) saluran pernapasan atas, hingga mata.

Penularan kusta dapat terjadi setelah terjadi kontak dekat dan berulang dengan penderita kusta. Biasanya, penularan terjadi melalui percikan ludah (droplet) yang mengandung bakteri penyebab kusta. Percikan ludah tersebut dapat berasal dari penderita yang batuk atau bersin, lalu dihirup oleh orang lain.

Munculnya gejala kusta dapat terjadi dalam kurun waktu yang lama sejak seseorang terinfeksi bakteri kusta, rata-rata berlangsung setelah 5 tahun. Parahnya, stigma pada penderita kusta, membuat kusta semakin sulit dideteksi secara dini. Beberapa gejala umum yang dapat muncul pada kusta di antaranya mati rasa saat kulit disentuh, pembesaran saraf, kelumpuhan kaki atau tangan, lesi pucat tebal, luka yang tidak sakit, mata kering, hidung tersumbat, mimisan, hingga kebutaan.

Apakah ibu hamil dapat menularkan penyakit kusta pada janinnya?

Perlu Anda ketahui bahwa salah satu penyakit tertua di dunia ini dapat dialami oleh siapa pun, tidak terkecuali ibu hamil. Lalu, apakah ibu hamil dapat menularkan kusta pada janin yang ia kandung?

Penularan kusta tidak terjadi dari ibu hamil kepada janin dalam kandungan. Meskipun begitu, terdapat beberapa laporan yang menyebutkan adanya bakteri Mycobacterium Leprae terdeteksi dalam jaringan plasenta.

Lebih lanjut, kebanyakan kasus kusta justru terjadi pada bayi baru lahir yang dipercaya berasal dari penularan ibunya melalui media udara. Hal ini bisa terjadi terutama bila sang ibu tidak mendapat terapi yang memadai.

1 of 2

Pengobatan kusta pada ibu hamil

Ibu hamil yang mengalami kusta harus tetap mendapatkan pengobatan seperti penderita kusta pada umumnya. Pada prinsipnya, tujuan pengobatan kusta adalah untuk menyembuhkan pasien, memutuskan rantai penularan, menurunkan kasus penyakit, dan mencegah kecacatan lebih lanjut.

Pengobatan penyakit kusta menggunakan multidrug therapy (MDT) yang terdiri dari beberapa jenis obat antibotik, yaitu rifampicin, dapsone, clofazamine, ofloxacin, dan minocycline. Pengobatan harus dilakukan secara disiplin dalam jangka waktu yang ditetapkan. Tidak disiplin dalam mengonsumsi obat dapat membuat bakteri penyebab kusta menjadi lebih kuat, bahkan kebal. Bakteri yang semakin kuat otomatis meningkatkan risiko penularan kepada orang lain.

Ibu hamil yang mendapatkan MDT harus terus memperoleh pengawasan ketat oleh dokter setiap kali kontrol kehamilan. Pasalnya, ada beberapa efek samping dari penggunaan obat OBT semasa kehamilan, misalnya:

  • Ibu hamil yang sedang dalam pengobatan kusta dianjurkan mengonsumsi 5 mg asam folat yang berguna untuk mengurangi risiko berkurangnya asam folat akibat konsumsi obat dapsone.
  • Penggunaan rifampicin pada trimester ketiga kehamilan dikaitkan dengan kejadian perdarahan pada neonatus (bayi yang baru lahir).

Kombinasi antibiotik yang tepat digunakan selama kehamilan bisa membantu menurunkan risiko terjadinya berat badan lahir rendah pada bayi.

Jadi, apakah ibu hamil yang kena penyakit kusta dapat menularkannya pada janinnya, jawabannya adalah tidak. Meskipun demikian, tetap saja langkah-langkah pencegahan harus menjadi prioritas utama. Alangkah lebih baik bila Anda mempersiapkan kehamilan sebaik mungkin. Dengan begitu, komplikasi kusta dalam kehamilan pun dapat terhindarkan.

(RN/ RVS)

Lanjutkan Membaca ↓