Hari Valentine Bisa Bikin Hubungan Berantakan?

Oleh dr. Nadia Octavia pada 14 Feb 2019, 11:15 WIB
Banyak orang menjadikan hari Valentine sebagai barometer kebahagiaan hubungan. Hati-hati, Valentine juga bisa menjebak Anda!
Hari Valentine Bisa Bikin Hubungan Berantakan? (Roman Samborskyi/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Hari Valentine menjadi momen yang ditunggu-tunggu oleh banyak pasangan di seluruh dunia. Bunga, cokelat, kue dan semua hal berbentuk hati identik dengan hari kasih sayang ini. Namun, Anda harus pandai-pandai dalam berekspektasi. Sebuah survei yang dilakukan di Inggris menyebutkan bahwa tingkat berakhirnya hubungan dengan pasangan justru sangat tinggi pada hari Valentine.

Bagi banyak orang, Valentine menjadi hari yang paling ditunggu dengan berbagai ekspektasi romantis. Kejutan kado manis dari pasangan, diberikan bunga mawar dari pasangan, makan malam bertabur lilin, bahkan dilamar oleh si Dia. Namun, memiliki ekspektasi yang terlalu tinggi mengenai hari Valentine justru dapat mendatangkan kekecewaan bila tidak sesuai dengan kenyataan.

Ekspektasi tinggi bisa berujung kekecewaan

Menurut studi yang dimuat di Journal of Personality and Social Psychology, orang yang memulai hubungan dengan mengharapkan ekspektasi terlalu tinggi dengan pasangannya rentan mengalami kekecewaan dan keretakan hubungan lebih cepat ketimbang pasangan yang memiliki ekspektasi lebih “realistis”.

Misalnya saat hari Valentine, ketika wanita sudah mengharapkan dan membayangkan akan diajak makan malam romantis oleh pasangannya, namun ternyata pasangannya tidak menyiapkan apa pun atau bahkan lupa bahwa hari itu adalah hari Valentine. Akibatnya pertengkaran dengan pasangan menjadi tak terhindarkan.

Selain itu, derasnya informasi di media sosial juga turut menyumbang andil dalam keretakan hubungan di hari Valentine. Di berbagai media sosial, Anda dapat dengan mudahnya melihat foto-foto yang dibagikan oleh teman-teman dan artis idola. Seorang teman mendapatkan cokelat dan bunga dari pasangannya. Lalu, artis idola Anda terlihat sedang makan malam romantis bersama pasangannya.

Melihat hal-hal romantis yang diperoleh seseorang dapat membuat Anda jadi iri, dengki, atau bahkan membandingkan dengan pasangan sendiri. Anda mungkin jadi merasa terganggu dengan sikap pasangan yang tidak romantis, padahal di hari-hari biasa, Anda menganggap itu hal biasa atau memang sudah sifatnya. Bukan tak mungkin hal itu akan berujung pada pertengkaran yang tak perlu.

Memperburuk hubungan yang sudah renggang

Bagi hubungan yang sudah mulai goyah, hari Valentine justru rentan membuat hubungan Anda berakhir. Ekspektasi bahwa Anda berdua akan kembali “rujuk” di momen Valentine dapat berujung pada kekecewaan ketika tidak sesuai kenyataan.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh University of Washington di Amerika Serikat telah menganalisis mengenai tingkat “kesuksesan” suatu hubungan dengan memberikan perhatian pada momen tertentu (semisal Valentine).

Penelitian ini dilakukan pada 130 pasangan yang baru menikah. Hasilnya, pasangan yang memberikan perhatian kepada pasangannya setiap hari (tidak hanya di momen tertentu) cenderung dua kali lipat lebih tinggi untuk tetap bersama hingga 6 tahun kemudian, dibandingkan dengan mereka yang hanya memberikan perhatian di momen tertentu.

Merayakan hari Valentine sah-sah saja. Namun yang terpenting sebetulnya adalah memberikan perhatian kepada pasangan setiap hari, meski Anda dipenuhi dengan kesibukan. Selain hari Valentine, meluangkan waktu berkualitas dengan pasangan di hari-hari lainnya juga dapat mempererat hubungan Anda berdua. Hubungan yang akan bertahan lama adalah ketika Anda berusaha dengan pasangan setiap harinya (dalam bentuk perhatian dan kasih sayang), tak hanya dalam bentuk memberikan sekotak cokelat setahun sekali.

[RS/ RVS]