Solusi Obesitas pada Anak Balita

Oleh dr. Fiona Amelia MPH pada 14 Feb 2019, 12:45 WIB
Balita yang gemuk memang menggemaskan. Namun, efeknya pada tubuh anak, apalagi hingga obesitas, tak selucu itu. Ini solusinya.
Solusi Obesitas pada Anak Balita (Sylvie-Bouchard/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Kalau ada anak balita yang gemuk atau tubuhnya terlihat gempal dan berlipat-lipat, memang awalnya terlihat menggemaskan. Namun, jika berat badannya tidak segera ditangani, balita tersebut akan cenderung tetap gemuk atau obesitas saat tumbuh dan menjadi dewasa. Untuk mencegahnya, ada beberapa solusi yang bisa segera Anda terapkan.

Pertama-tama, jangan pernah menganggap remeh obesitas pada balita. Kondisi ini sesungguhnya meresahkan. Ini karena kelebihan berat badan membuat anak berisiko mengalami berbagai penyakit yang lebih identik dialami saat dewasa. Sebut saja diabetes, hipertensi, dan kolesterol tinggi.

Di samping itu, seiring bertambahnya usia anak, obesitas bisa menurunkan kepercayaan dirinya dan membuatnya rentan mengalami perundungan (bullying). Keadaan ini bisa bikin anak stres, hingga memicu depresi pada anak.

Solusi obesitas pada anak balita

Secara sederhana, balita disebut obesitas apabila berat badannya di atas normal untuk usia dan tinggi badannya. Penentuan obesitas atau tidaknya dilihat dari kurva pertumbuhan.

Untuk anak berusia di bawah 2 tahun, ia tergolong obesitas jika Z-score > +3 menurut kurva pertumbuhan Badan Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2006. Untuk anak yang berusia di atas 2 tahun, ia tergolong obesitas apabila indeks massa tubuh (IMT) di atas persentil (P) 95 menurut kurva pertumbuhan CDC 2000.

Sebagai langkah awal untuk mengatasi anak obesitas, orang tua perlu mengetahui berat badan ideal yang disesuaikan dengan tinggi badan anak. Selanjutnya, buat kesepakatan bersama dokter mengenai target penurunan berat badan yang dikehendaki.

Turunnya berat ditargetkan mencapai kira-kira 20 persen di atas berat badan ideal. Setelah itu cukup dipertahankan agar tidak bertambah karena pertumbuhan anak masih berlangsung.

Untuk mencapainya, berikut ini yang dapat dilakukan:

1. Terapkan aturan makan yang benar

Orang tua perlu menerapkan aturan makan yang baik. Pola makan harus terjadwal, yakni makan besar tiga kali sehari dengan camilan dua kali sehari. Waktu makan pun harus dibatasi agar tidak lebih dari 30 menit dalam satu sesi.

Untuk camilan, utamakan dalam bentuk buah potong. Air putih diberikan di antara jadwal makan utama dan camilan. Untuk porsi makan, disesuaikan dengan kebutuhan kalori sesuai usia dan berat badan ideal anak. Orang tua pun harus memperhatikan bentuk atau penyajian makanan sehingga dapat diterima anak, serta tidak sampai harus memaksanya mengonsumsi makanan yang tidak ia disukai.

1 of 2

Selanjutnya

2. Perhatikan komposisi makanan

Komposisi makanan menggunakan prinsip pola diet seimbang yang cukup untuk tumbuh kembang normal, yakni karbohidrat 50-60 persen, lemak 30 persen, dan protein 15-20 persen.

Anak juga didorong untuk mengonsumsi makanan tinggi serat dari sayur dan buah. Serat akan membuat anak cepat kenyang, tapi tidak cepat lapar. Serat juga akan meningkatkan pembakaran lemak sehingga dapat membantu mengurangi timbunan lemak tubuh.

Untuk pilihan jenis makanannya, gunakan panduan traffic light diet sebagai berikut:

  • Green food artinya go sehingga makanan dalam golongan ini boleh dikonsumsi sebanyak dan sesering mungkin oleh anak. Contohnya semua jenis buah dan sayur segar yang tidak mengalami pengolahan pabrik.
  • Yellow food artinya slow down atau hati-hati. Makanan dalam golongan ini boleh dikonsumsi setiap hari dalam jumlah yang wajar. Contohnya nasi, pasta, mi, telur, daging merah tanpa lemak, ayam, ikan, yoghurt rendah lemak, susu rendah lemak, keju rendah lemak, kacang-kacangan, serealia, produk olahan kedelai, dan minyak sayur.
  • Red food artinya stop. Makanan dalam golongan ini hanya boleh dikonsumsi satu kali per minggu dan dalam porsi yang kecil. Contohnya adalah semua jenis makanan yang tinggi kalori, tinggi gula, serta tinggi lemak tapi miskin zat gizi. Contohnya adalah butter, aneka kue kering, roti, permen, frozen yogurt, daging berlemak, daging olahan tinggi lemak, gorengan, keripik, minuman manis, dan cokelat.

3. Tambah aktivitas fisik anak

Perbanyak aktivitas fisik anak hingga 90-120 menit per hari. Aktivitas fisik ini dapat berupa mengajaknya berjalan, berlari, bermain sepeda, berenang, dan berbagai aktivitas lain yang menuntut gerak tubuh. Batasi penggunaan konsol gim, menonton televisi atau gawai, dan aktivitas apapun yang cenderung pasif tidak lebih dari 2 jam per hari.

4. Orang tua sebagai kontrol dan motivator

Untuk menunjang prosesnya, orang tua harus punya peran kendali. Salah satunya dengan menghilangkan semua stimulus di sekitar anak yang dapat memicu keinginannya untuk makan. Misalnya, tidak boleh makan saat menonton televisi atau membantu anak memilih camilan yang sehat untuk dibawa ke sekolah atau saat bepergian.

Orang tua juga harus bisa menjadi motivator, yaitu dengan memberi penghargaan seperti pujian maupun bentuk reward lainnya ketika ia berhasil menunjukkan perilaku sehat. Berikan apresiasi jika ia mau mengonsumsi makanan baru yang lebih sehat atau berolahraga, atau ketika berat badannya berhasil turun.

Balita obesitas memang tampak lucu dan menggemaskan, tapi ini tidaklah sehat. Jika anak Anda salah satunya, belum terlambat untuk menerapkan perubahan gaya hidup menjadi lebih sehat. Menerapkan berbagai tips di atas merupakan solusi sekaligus wujud kepedulian Anda sebagai orang tua dalam melindungi kesehatan si Kecil.

(RN/ RVS)

Lanjutkan Membaca ↓