Mengenal Anhedonia: Apa yang Sebenarnya Terjadi di Otak?

Oleh dr. Nitish Basant Adnani BMedSc MSc pada 19 Feb 2019, 10:30 WIB
Anhedonia, atau kehilangan minat untuk melakukan hal-hal yang biasanya disenangi, bisa jadi salah satu tanda depresi. Berkaitan dengan otak?
Mengenal Anhedonia: Apa yang Sebenarnya Terjadi di Otak? (Sdecoret/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Seiring dengan meningkatnya wawasan masyarakat mengenai depresi, pengetahuan mengenai salah satu tanda dan gejalanya, yakni anhedonia, juga semakin bertambah. Kondisi apakah ini dan ketika ini terjadi, apa yang sebenarnya terjadi di otak?

Anhedonia merupakan suatu kondisi seseorang tak lagi merasakan kesenangan saat melakukan hal-hal yang biasanya ia sukai. Keadaan ini merupakan suatu gejala dari beberapa gangguan jiwa, salah satunya adalah depresi. Terjadinya anhedonia ternyata juga berkaitan dengan kerja otak.

Hilang minat bisa normal, bisa juga tidak

Menurut para pakar, pada suatu masa dalam hidupnya, sebagian besar orang akan mengalami kehilangan rasa ketertarikan terhadap hal-hal yang sebelumnya mereka minati. Namun, anhedonia merupakan versi yang lebih ekstrem.

Beberapa gejalanya antara lain:

  • Menarik diri dari lingkungan sosial
  • Adanya perasaan negatif terhadap diri dan orang lain
  • Ekspresi emosi berkurang, seperti bicara lebih sedikit atau emosi terlihat datar
  • Sulit menyesuaikan diri dalam situasi sosial
  • Memutus hubungan personal dengan orang lain
  • Mengalami gangguan fisik yang rutin, misalnya sering sakit
  • Ada tendensi menunjukkan emosi “palsu”, misalnya terlihat bahagia tapi sebenarnya tidak
  • Gairah seksual berkurang

Selain gangguan depresi mayor, anhedonia juga dapat terjadi pada gangguan kesehatan jiwa lainnya. Contohnya adalah skizofrenia, psikosis, penyakit Parkinson, anoreksia nervosa, atau penyalahgunaan zat.

Seiring dengan berjalannya waktu, anhedonia semakin mendapatkan perhatian dari berbagai pihak. Salah satu alasannya adalah bahwa gejala tersebut dapat menjadi salah satu faktor untuk memprediksi bagaimana seseorang dengan depresi dapat menunjukkan respons terhadap terapi yang dijalani.

Kaitan anhedonia dengan otak

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, anhedonia juga tak lepas pengaruhnya dari otak. Penjelasannya begini, jalur persarafan di otak merupakan suatu proses yang sangat rumit dan padat. Nah, terjadinya anhedonia ini melibatkan berbagai area di otak. Kondisi ini melibatkan perubahan pada tingkat ketertarikan, motivasi, antisipasi, ekspektasi, dan upaya, dimana semua proses tersebut diregulasi oleh bagian-bagian tertentu di otak.

Berdasarkan hasil penelitian yang ada, area-area di otak yang terlibat pada saat seseorang mengalami anhedonia antara lain:

  • Korteks prefrontal, yang berhubungan dengan perencanaan dan ekspresi kepribadian
  • Amigdala, yang memproses emosi dan terlibat dalam pembuatan keputusan
  • Striatum, yang merupakan area adanya nucleus accumbens, yang berhubungan dengan sistem reward
  • Insula, yang diduga penting terhadap kesadaran dan pengetahuan mengenai diri sendiri

Di otak manusia, juga terdapat zat kimiawi penghantar persinyalan yang disebut sebagai neurotransmiter. Ketidakseimbangan dari kadar neurotransmiter juga dapat berkaitan dengan terjadinya anhedonia.

Salah satu neurotransmiter, yakni dopamin, terlibat dalam jalur reward dan diproduksi dalam jumlah banyak di nucleus accumbens. Selain itu, ekspresi dopamin yang berkurang di striatum ventral pada individu dengan depresi ditemukan berhubungan dengan derajat keparahan dari anhedonia.

Meskipun demikian, ini bukan tanda dan gejala dari depresi secara keseluruhan. Kaitan antara dopamin dan anhedonia cukup kompleks. Penurunan kadar dopamin di area otak yang berbeda juga dapat memiliki efek yang berbeda.

Anhedonia dapat menjadi gejala dari beberapa gangguan jiwa, salah satunya adalah depresi, serta tak lepas pengaruhnya dari otak. Oleh sebab itu, apabila Anda mengamati adanya seseorang dengan anhedonia yang berkepanjangan dengan tanda dan gejala lain yang mengarah ke gangguan kesehatan jiwa di sekitar Anda, ajak ia untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan profesional. Sehingga, nantinya bisa dilakukan evaluasi lebih lanjut untuk menentukan penyebab dan penangan yang paling sesuai bagi individu tersebut.

(RN/ RVS)