Begadang, Bisakah Tingkatkan Risiko Penyakit?

Oleh dr. Nitish Basant Adnani BMedSc MSc pada 20 Feb 2019, 08:00 WIB
Anjuran untuk tidak begadang bukanlah tanpa alasan. Nyatanya, begadang bisa meningkatkan risiko terjadinya penyakit.
Begadang, Bisakah Tingkatkan Risiko Penyakit? (Marvent/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Hampir semua orang pasti pernah begadang hingga larut malam, atau bahkan sampai keesokan paginya. Bisa karena tumpukan pekerjaan yang dikejar tenggat, kebablasan menonton serial TV yang sedang tren, asyik video call dengan seseorang di benua lain, atau belajar untuk menghadapi ujian. Apa pun alasan Anda begadang, ketahuilah bahwa kebiasaan tidak baik ini bisa meningkatkan risiko penyakit.

Ada salah satu penelitian terkini yang mempelajari dampak negatif dari begadang terhadap kesehatan tubuh. Fokus penelitian ini terutama berkaitan dengan jenis makanan dan minuman yang dikonsumsi saat seseorang tetap terjaga semalaman.

Secara sederhana, penelitian yang dipublikasikan di jurnal kedokteran “Advances in Nutrition” ini berusaha untuk mencari tahu jawaban atas pertanyaan, “Apakah waktu tidur seseorang memengaruhi kesehatannya?”

Pola makan mereka yang suka begadang cenderung tak sehat

Dari hasil penelitian kemudian terungkap bahwa kronotipe seseorang, yakni irama sirkadian alias jam internal manusia yang berkaitan dengan terbit dan tenggelamnya matahari, sangat berhubungan dengan taraf kesehatan. Penelitian ini meninjau lebih lanjut mengenai perilaku sehari-hari dari kelompok individu yang lebih aktif pada pagi hari, serta kelompok individu yang lebih aktif pada malam hari.

Secara umum, individu yang lebih aktif pada malam hari dan tertidur lebih larut cenderung mengonsumsi buah-buahan dan sayur-sayuran yang lebih sedikit. Tak hanya itu, kelompok yang sama juga diketahui mengonsumsi minuman berenergi, beralkohol, serta berkaifen dalam jumlah yang lebih tinggi. Kelompok ini juga mendapatkan asupan energi dari lemak yang lebih banyak bila dibandingkan dengan  kelompok yang lebih aktif pada pagi hari.

Menurut sebuah artikel yang dilansir dari Healthline, salah satu konsekuensi dari begadang adalah menjaga pola makan yang sehat. Mereka yang sering atau gemar begadang cenderung lebih senang mengonsumsi makanan yang tinggi lemak atau makanan manis dalam jumlah berlebih. Jika ini dilakukan terus-menerus, maka akan berdampak buruk pada kesehatan tubuh.

Samantha Morrison, seorang pakar kesehatan dari Glacier Wellness, juga menambahkan bahwa mengonsumsi makanan porsi besar pada malam hari dapat menyebabkan perubahan pada kebiasaan tidur seseorang. Oleh sebab itu, makanan yang dikonsumsi pada sore dan malam hari sebaiknya tidak lebih dari porsi yang dianjurkan.

Meski begadang memang tidak dianjurkan, tapi jika Anda adalah pekerja shift malam, ini tentunya bisa menjadi tantangan tersendiri. Lantas, apa yang bisa dilakukan kelompok ini?

Cara mengatur pola makan pekerja shift malam

Untuk pekerja shift, Anda dianjurkan untuk merencanakan menu makanan dengan baik. Lebih lengkapnya, saat Anda merasa lapar di tengah waktu bekerja, Anda yang bekerja shift malam dapat membawa bekal makanan sehat seperti wortel, selada, ayam, pisang, kacang-kacangan rendah garam, keju rendah lemak, dan lain sebagainya untuk mengisi perut. Dengan begitu, rasa lapar bisa teratasi dengan tanpa adanya penambahan asupan kalori yang berlebih.

Asupan cairan juga perlu dijaga agar tubuh tetap fit, sehingga Anda bisa lebih fokus dan semangat dalam bekerja. Ingat, kurang cairan atau dehidrasi dapat memicu berbagai masalah kesehatan.

Kadang begadang memang tak bisa dihindari. Namun, penting untuk diingat untuk tidak terlalu sering melakukannya karena bisa meningkatkan risiko penyakit tertentu. Oleh sebab itu, pola makan adalah salah satu hal yang penting untuk dipantau saat masih terjaga hingga larut malam. Dengan merencanakan pola makan sebaik mungkin, dampak negatif yang bisa timbul akibat begadang bagi kesehatan tubuh bisa diminimalkan.

(RN/ RVS)