Diet Sehat tanpa Menghentikan Konsumsi Gula

Oleh dr. Nabila Viera Yovita pada 20 Feb 2019, 11:15 WIB
Anda tentu sering mendengar tentang diet dengan menghindari gula. Tapi pernahkah Anda mencoba diet sehat tanpa menghentikan konsumsi gula?
Diet Sehat tanpa Menghentikan Konsumsi Gula (Nina Buday/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Posisi garam sebagai “penjahat” dalam diet belakangan ini telah digantikan oleh gula. Diet sehat tanpa gula kini mungkin ada dalam resolusi tahun baru Anda. Diet tanpa gula membuat para pengikutnya menjauhi gula yang biasa terdapat di dapur (sukrosa). Tak cuma gula kristal, pemanis seperti madu dan sirup maple, olahan tepung, minuman bersoda, permen, dan beberapa buah seperti pisang juga dihindari. Beberapa penggiat diet tanpa gula juga merekomendasikan untuk mengeliminasi atau membatasi produk susu.

Risiko terlalu banyak gula

Sebagian besar orang saat ini dinilai mengonsumsi terlalu banyak makanan manis. Makanan yang mengandung banyak gula ini berpotensi meningkatkan risiko diabetes mellitus tipe 2, penyakit jantung, dan beberapa jenis kanker. Namun begitu, Anda tidak perlu menyingkirkan seluruh gula dalam diet Anda untuk makan lebih sehat. Mengapa?

Alasannya adalah karena berhenti konsumsi gula sama sekali tidak akan meningkatkan kesehatan Anda. Cara lain dinilai lebih baik untuk meningkatkan kesehatan Anda. Seperti mengurangi konsumsi makanan yang terlalu banyak diproses, mengurangi makanan berminyak, serta makan sayuran lebih banyak. Sebaliknya, diet tanpa gula, yang tergolong diet yang sangat restriktif (membatasi), dapat menyebabkan ketakutan atau hubungan yang tidak sehat terhadap makanan.

Malah timbulkan rasa cemas

Diet tanpa gula bersifat sangat membatasi. Misalnya, Anda diperbolehkan mengonsumsi makanan seperti gandum utuh, blueberry, dan jeruk bali. Namun, Anda tidak boleh mengonsumsi makanan seperti roti tawar putih, pisang, dan juga kismis.

Hal ini membuat pengikutnya jadi khawatir saat mengonsumsi sesuatu yang tidak diperbolehkan. Mereka yang mencemaskan makanan yang dikonsumsi cenderung akan melakukan diet, karena khawatir terhadap berat badan atau dampak dari nutrisi tertentu terhadap kesehatan.

Di sisi lain, diet adalah suatu hal yang dapat memicu stres. Akibatnya, tubuh mengeluarkan hormon kortisol yang menyebabkan tubuh lebih menyimpan banyak lemak, terutama di bagian perut. Tak hanya itu, mencemaskan makanan dapat pula memicu stres, kecemasan, dan depresi. Ini adalah salah satu gejala yang mencerminkan orthorexia, yakni obsesi mengonsumsi makanan yang “baik-baik” saja.

Bisakah diet sehat tanpa berhenti konsumsi gula?

Lantas, apakah bisa diet sehat tanpa tidak mengonsumsi gula sama sekali? Tentu bisa. Yaitu,mengonsumsi makanan yang bersumber dari tumbuhan, seperti sayuran,gandum utuh, kacang-kacangan, dan buah.

Ketika Anda ingin mengonsumsi makanan manis, seperti kue cokelat, tidak mengapa Anda mencicipinya sedikit. Anda dapat merasakan segala sensasi kue cokelat tersebut agar otak dapat mengingat bahwa Anda telah mengonsumsinya. Kemudian, saat kepuasan telah diperoleh, alihkan perhatian Anda kepada hal-hal lain. Anda pun tidak akan menginginkan kue cokelat manis lagi.

Ingatlah, kesehatan tidak hanya sekadar angka pada timbangan, ukuran pinggang, atau makanan yang dihindari. Kesehatan psikologis juga penting diperhatikan. Karena itu, diet sehat dengan sama sekali menghentikan konsumsi gula tidak selalu baik. Pilihlah diet sehat yang cocok dengan kebutuhan dan kondisi tubuh Anda. Bila perlu, Anda dapat berkonsultasi dengan dokter atau ahli diet untuk menentukan diet yang tepat.

[HNS/ RVS]