Cegah Penyakit Kelenjar Getah Bening dengan Olahraga Teratur

Oleh Krisna Octavianus Dwiputra pada 21 Feb 2019, 15:00 WIB
Menurut penelitian, sakit kelenjar getah bening bisa dicegah dengan olahraga teratur. Ini kiatnya.
Cegah Penyakit Kelenjar Getah Bening dengan Olahraga Teratur (Astarot/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Aktor Ranza Ferdian meninggal karena kelenjar getah bening atau disebut limfoma, Senin (18/2) lalu. Aktor yang cukup populer di kalangan pencinta FTV itu meninggal dalam usia 33 tahun. Sakit yang diderita Ranza Ferdian sempat menjadi perbincangan warganet. Lantas, apakah penyakit kelenjar getah bening bisa dicegah?

Apa itu penyakit kelenjar getah bening?

Penyakit ini biasanya disebut dengan kanker getah bening atau limfoma. Ada dua jenis limfoma, yakni limfoma Hodgkin dan non-Hodgkin. Limfoma non-Hodgkin diketahui lebih sering terjadi dibandingkan limfoma Hodgkin.

Kanker limfoma merupakan salah satu jenis kanker yang paling berbahaya. Menurut dr. Atika dari KlikDokter, sampai saat ini penyebab kanker limfoma belum diketahui pasti. Kanker ini akan memengaruhi sel darah putih yang dikenal sebagai limfosit. Limfosit memainkan peran penting dalam sistem kekebalan tubuh manusia.

Mutasi genetik yang terjadi pada sel limfosit akan membuat sel memperbanyak diri secara tidak terkontrol. "Hanya saja, sel limfosit yang bertambah ini bukanlah sel yang sehat dan tidak dapat bekerja seperti sel limfosit normal. Penambahan jumlah sel limfosit inilah yang kemudian menyebabkan nodus limfatik dan area-area lain mengalami pembengkakan," ujar dr. Atika.

Sejauh ini, faktor yang meningkatkan risiko terjadi limfoma adalah usia, jenis kelamin, memiliki gangguan sistem imun, terinfeksi kuman tertentu, dan faktor lingkungan.

Olahraga teratur bantu pasien limfoma

Berolahraga secara teratur dapat mengurangi risiko kematian akibat limfoma. Hal ini diungkap oleh Priyanka Pophali, seorang spesialis penyakit darah di Rochester, Minnesota, Amerika Serikat.

Pophali mempresentasikan temuannya tersebut pada American Society of Hematology ke-59, di Atlanta, Desember 2018. Pophali dan tim mengkaji bagaimana olahraga teratur dapat memengaruhi umur pasien limfoma. Secara khusus, mereka ingin tahu apakah seseorang akan hidup lebih lama dengan berolahraga lebih banyak setelah didiagnosis limfoma.

"Sebagai dokter, kami merekomendasikan aktivitas fisik untuk semua penderita kanker untuk meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan. Akan tetapi, kami tidak tahu apakah aktivitas fisik akan berdampak pada kelangsungan hidup pasien limfoma," ujar Pophali.

Studi ini mencakup 4.087 pasien limfoma yang dirawat di Mayo Clinic antara 2002 - 2012. Semua memulai pengobatan mereka dalam waktu 9 bulan setelah didiagnosis.

Para peneliti pertama kali meminta pasien untuk mengisi kuesioner tentang seberapa rajin mereka berolahraga sebelum didiagnosis limfoma. Tim kemudian menindaklanjuti secara berkala kuesioner tersebut tentang kemungkinan apakah pasien berolahraga lebih, kurang, atau sama. Mereka mengikuti setiap pasien selama tiga tahun.

Peneliti menemukan, pasien yang berolahraga lebih banyak sebelum diagnosis limfoma hidup lebih lama daripada mereka yang kurang aktif berolahraga. Peneliti juga menemukan bahwa mereka yang meningkatkan intensitas olahraga setelah diagnosis limfoma memiliki tingkat ketahanan hidup yang lebih baik daripada mereka yang kurang aktif.

"Temuan kami menunjukkan bahwa aktivitas fisik dapat berdampak positif pada kelangsungan hidup pasien limfoma. Penelitian ini juga membuktikan manfaat aktivitas fisik pada kelangsungan hidup pasien limfoma,” kataPophali.

Limfoma bisa dicegah

Studi mengenai olahraga dan kanker baru-baru ini menunjukkan bahwa berolahraga menurunkan risiko seseorang terkena limfoma non-Hodgkin. Peneliti dari University of British Columbia menerbitkan temuan ini dalam jurnal Cancer Epidemiology, Biomarkers, and Prevention.

Tim peneliti bertanya kepada 820 pasien limfoma non-Hodgkin yang terdaftar di B.C. Registry Cancer. Mereka ingin mengetahui jumlah dan intensitas latihan yang pasien lakukan dalam setiap dekade. Kategori jumlah itu termasuk durasi per hari dan berapa hari dalam satu minggu. Mereka juga melihat level dalam kategori tiga intensitas, yaitu ringan, sedang dan berat.

Mereka yang rutin beraktivitas fisik berisiko 25-30 persen lebih rendah untuk mengembangkan limfoma non-Hodgins. Peneliti mengungkapkan bahwa usia bukan merupakan faktor dalam hasil penelitian ini. Mereka kemudian menyimpulkan bahwa berolahraga bermanfaat tanpa memandang usia.

Sakit kelenjar getah bening yang diderita Ranza Ferdian harus jadi pengingat bagi semua orang orang untuk selalu menjaga kesehatan. Ingat, limfoma bisa dicegah dengan olahraga secara teratur. Jadi mulai sekarang, lakukanlah olahraga teratur agar kualitas kesehatan Anda tetap baik. Selain itu, konsumsi pula makanan sehat dan seimbang, cukup istirahat, serta jauhi stres, rokok, dan alkohol.

[HNS/ RVS]