Anak Remaja Anda Mulai Pacaran? Lakukan 3 Hal Ini

Oleh Ayu Maharani pada 25 Feb 2019, 13:30 WIB
Anak sudah masuk usia remaja dan mulai pacaran. Sebagai orang tua, Anda tentu waswas. Apa sebaiknya yang harus dilakukan?
Anak Remaja Anda Mulai Pacaran? Lakukan 3 Hal Ini (Monkey-Business-Images/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Namanya juga orang tua, tentunya Anda ingin yang terbaik untuk anak. Jika memiliki anak yang sudah remaja, tentunya Anda harus siap dan bisa menerima bahwa pada usia ini anak akan mengenal percintaan. Jika anak sudah pacaran, apa yang sebaiknya orang tua lakukan?

Meski menurut Anda usia anak masih terlalu belia untuk cinta-cintaan, tapi Anda disarankan untuk tidak menghakimi atau melarang keras tanpa memahami sudut pandangnya. Lagi pula, ingat, Anda pernah muda, kan? Jika Anda mendapati anak mengaku punya pacar, sebagai orang tua, lakukan hal-hal di bawah ini.

1. Mengobrol dan bertanya tentang siapa orang spesialnya

Saat remaja mulai berpacaran, biasanya ia mulai membuat jarak dengan orang tua. Alasannya simpel, bisa karena malu atau canggung. Terkadang anak pun takut perasaannya tersebut diremehkan oleh orang-orang dewasa di sekelilingnya.

Supaya jarak antara anak dan orang tua tak makin melebar, cobalah untuk turunkan ego dan diskusikan hal tersebut dengan cara halus, terbuka, dan pada waktu yang tepat. Misalnya, saat anak sedang senggang di kamarnya, ketuklah pintu dan masuk dengan ramah. Jangan sampai ada raut wajah curiga atau berlaku layaknya detektif, karena anak bisa-bisa mogok bicara.

Mulai percakapan dengan kehidupannya di sekolah—teman-temannya, mata pelajaran favoritnya, tempat hangout, guru-gurunya di sekolah, dan lain-lain. Jika sudah menemukan “celah”, Anda bisa mulai mengajukan pertanyaan terkait pacar anak.

Dilansir dari Very Well Family, pertanyaan yang bisa diajukan antara lain:

  • Cerita awal pertemuan mereka
  • Hal-hal apa yang ia sukai dari pacarnya tersebut
  • Apa yang ia sukai, seperti kebiasaan, hobi, atau aktivitas lainnya
  • Apakah anak bahagia dengan hubungannya tersebut
  • Apa yang paling anak sukai dari hubungannya itu

Intinya, jangan ajukan pertanyaan yang memojokkan anak dan mengungkapkan ketidaksukaan yang mungkin Anda rasakan. Jika Anda melakukannya, anak akan tahu bahwa orang tua tak berniat untuk mengenal dunianya atau hanya sekadar ingin mengatakan “kamu tidak boleh pacaran!” baik langsung maupun tidak langsung.

1 of 2

Selanjutnya

2. Berikan kepercayaan, tetapi tetap kontrol

Ingat bahwa Anda sedang membesarkan anak remaja. Anda berupaya keras untuk menanamkan nilai-nilai yang dianut keluarga dan anda harus percaya bahwa anak pada akhirnya akan membuat keputusan yang baik.

Selama anak Anda tidak berada dalam bahaya atau tidak berpacaran dengan orang yang berisiko memberikan pengaruh buruk, berikan ia kepercayaan dan ruang. Sebab, remaja juga perlu dilatih untuk menjalani hidup dengan keputusannya sendiri.

Yang terpenting, jalinlah komunikasi yang baik dengan anak atau menjadi pendengar yang baik baginya. Selain itu, perhatikan jika terlihat perubahan negatif, misalnya kenaikan berat badan atau penurunan berat badan yang signifikan, nilai akademik yang menurun, sering terlambat pulang sekolah padahal tak ada kursus atau kegiatan ekstrakurikuler, serta kondisi mood-nya. Bila ia sensitif dan sulit diajak bicara, katakan dan pastikan bahwa anak tahu bahwa orang tuanya akan selalu ada untuknya, dan siap diajak bicara jika ia ingin.

3. Undang pacar ke rumah

Supaya Anda tahu dengan siapa anak remaja Anda menjalin hubungan, undang pacarnya tersebut untuk makan malam atau sekadar berkunjung. Ciptakan suasana yang hangat dan ramah. Lagi pula, jika memang pacarnya tersebut datang setelah diundang, ini menunjukkan bahwa ia berani dan bertanggung jawab atas konsekuensi hubungan yang dijalani. Secara tak langsung, ia pun mengetahui bahwa jika terjadi sesuatu yang tak diinginkan, orang tua dan anggota keluarga bisa melakukan intervensi.

Selain tiga hal di atas, ada satu lagi yang perlu Anda perhatikan, terutama bila anak remaja Anda benar-benar sedang dimabuk cinta. Ingatkan anak untuk tidak berhubungan intim dan menikah terlalu muda (di bawah usia 18 tahun). Karena, menurut dr. Alberta Jesslyn Gunardi, BmedSc(Hons) dari KlikDokter, hal tersebut dapat meningkatkan risiko penyakit seperti kanker serviks, kanker payudara, dan mioma.

“Pernikahan dini juga dapat berujung pada kehamilan yang berisiko tinggi, yakni praeklamsia, pramaturitas (lahir sebelum waktunya), cacat bawaan pada bayi, bahkan kematian saat melahirkan,” tegas dr. Jesslyn.

Ketika anak mencapai usia puber atau anak sudah remaja, orang tua selalu memiliki kekhawatiran tersendiri. Apalagi bila anak sudah mengenal lawan jenis, romantisme, mengungkapkan ketertarikannya, atau bahkan sudah mulai pacaran.

Sikapilah kondisi tersebut secara bijak, jangan langsung melarangnya. Bersikaplah terbuka dan lakukan tiga poin yang disebutkan di atas . Berikan kepercayaan kepada anak remaja, tapi jangan lupakan rambu-rambu. Ingat, tahapan ini bisa jadi adalah salah satu perkembangan yang mesti dilewati anak remaja untuk menuju dewasa.

(RN/ RVS)

Lanjutkan Membaca ↓