Bahaya Inses, Hubungan Seksual Sedarah Ayah dan Anak di Lampung

Oleh dr. Nadia Octavia pada 27 Feb 2019, 08:00 WIB
Inses atau hubungan seksual sedarah antara ayah kandung dan anak di Lampung bisa menyebabkan beragam masalah kesehatan.
Bahaya Inses, Hubungan Seksual Sedarah Ayah dan Anak di Lampung (Tinnakorn Jorruang/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Kasus inses atau hubungan seksual sedarah antara ayah kandung dan anak kali ini terjadi di wilayah Pringsewu, Lampung. Saat diperiksa polisi setempat, M (45), yang merupakan ayah kandung korban, mengaku secara sadar memperkosa anak kandungnya berulang kali. Perbuatan bejatnya ini sudah berlangsung sejak 2018 dan baru terungkap pada Februari 2019.

Pelaku juga mengaku memanfaatkan kondisi korban yang mengalami keterbelakangan mental. Selain M, korban juga disetubuhi berulang kali oleh kakak dan adik kandungnya, SA (24) dan YF (15). Tak hanya buruk secara moral, inses memiliki dampak kesehatan yang berbahaya.

Secara terminologi, inses merupakan hubungan seksual sedarah antara anggota keluarga. Bahaya dari kasus inses biasanya baru terungkap ketika kehamilan terjadi. Kehamilan akibat hubungan seksual sedarah dapat menyebabkan terjadi berbagai penyakit genetik ataupun mutasi genetik.

Pelaku inses yang memiliki hubungan sedarah tentu mempunyai materi genetik yang mirip sehingga penyakit tertentu akan lebih mudah diturunkan. Terlebih lagi jika hubungan inses terjadi pada anggota keluarga dekat (first degree relative), antara orang tua dan anak ataupun antara saudara kandung.

Beberapa penyakit di bawah ini bisa terjadi pada keturunan hasil hubungan inses:

  1. Hemofilia

Hemofilia adalah gangguan pembekuan darah, dimana proses pembekuan darah berjalan “lebih lambat” dari seharusnya. Tubuh memerlukan faktor pembekuan untuk menjaga kestabilan darah. Jika tubuh manusia kekurangan faktor pembekuan darah, seperti dalam kasus hemofilia, perdarahan rentan terjadi.

Hemofilia merupakan penyakit genetik resesif. Jika kedua orang tua memiliki gen pembawa (carrier) hemofilia, maka risiko keturunannya mengalami hemofilia sangat tinggi.

  1. Mikrosefali

Pada mikrosefali, terjadi gangguan tumbuh kembang otak sejak dalam kandungan. Akibatnya, lingkar kepala anak lebih kecil daripada ukuran rata-rata serta pertumbuhan dan kecerdasan anak tidak bisa sama dengan anak lain pada umumnya.

Pada sebuah penelitian yang dilakukan di Pakistan, pernikahan antara sepupu yang terjadi suatu daerah di Pakistan Utara telah menyebabkan 43 persen anak yang lahir mengalami mikrosefali. Hal ini karena antar-sepupu memiliki 1/8 materi genetik yang sama dari kakek dan neneknya. Risiko ini semakin tinggi jika hubungan inses terjadi pada saudara kandung atau orang tua - anak.

  1. Albinisme

Albino merupakan penyakit yang diturunkan secara genetik oleh kedua orang tua. Tubuh orang dengan albino tidak bisa menghasilkan melanin, yakni pigmen untuk menyerap sinar UV sehingga tubuh tidak mengalami kerusakan akibat sinar tersebut. Pigmen melanin juga berfungsi membentuk warna kulit, rambut, dan mata. Sama seperti hemofilia, albino merupakan penyakit genetik resesif, sehingga hubungan inses dapat meningkatkan risiko keturunan inses mengalami albino.

  1. Bibir sumbing

Bibir sumbing merupakan kelainan berupa celah pada bibir atas. Celah ini bisa terjadi pada bagian langit-langit rongga mulut (cleft palate), bisa juga pada bagian bibir saja (cleft lip). Pada beberapa kasus, dapat pula terjadi pada kedua bagian. Namun pada umumnya, hampir separuh kasus bibir sumbing melibatkan celah pada bibir atas serta atap rongga mulut.

Kelainan ini dapat diketahui melalui prosedur USG dari trimester pertama kehamilan. Meski penyebab pasti bibir sumbing belum diketahui, para ahli menduga bahwa gabungan antara faktor genetik dan lingkungan ikut berpengaruh. Jika orang tua menderita bibir sumbing, risiko anak untuk memiliki kelainan ini akan semakin tinggi.

Selain kondisi-kondisi di atas, keturunan hasil hubungan inses dapat menyebabkan cacat bawaan, keterbelakangan mental, dan penyakit genetik lainnya. Pelaku hubungan seksual sedarah ayah dan anak di Lampung tentu perlu mendapatkan hukuman yang setimpal agar kasus yang sama tidak terulang lagi.

[HNS/ RVS]