Anak Kena Migrain, Ini yang Perlu Dilakukan Orang Tua

Oleh Krisna Octavianus Dwiputra pada 28 Feb 2019, 15:15 WIB
Bukan tidak mungkin anak-anak terserang migrain. Jika sampai terjadi, ada beberapa hal yang harus dilakukan orang tua.
Anak Kena Migrain, Ini yang Perlu Dilakukan Orang Tua (Africa-Studio/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Jika Anda menganggap migrain adalah penyakit orang dewasa, Anda salah. Sakit kepala ini juga dapat terjadi pada anak-anak. Bagi para orang tua, beberapa tips bisa Anda lakukan saat anak mengalami migrain.

Saat mengalami migrain, anak-anak biasanya merasa sakit di bagian depan atau salah satu sisi kepala mereka. Biasanya kepala terasa seperti berdenyut. Rasa sakitnya bisa berlangsung kurang dari satu jam atau lebih dari satu hari. Dalam kasus yang parah, migrain bahkan bertahan sekitar seminggu!

Terkadang, anak-anak dengan migrain merasakan pusing atau sakit perut. Penglihatan mereka juga mungkin akan buram. Suara, bau, atau cahaya terang mungkin mengganggu mereka.

Anak-anak dengan migrain dapat memiliki "penglihatan" sebelum rasa sakitnya menyerang. Ini semacam peringatan bahwa migrain akan segera dimulai. Mereka mungkin melihat:

  • Lampu berkedip atau terang
  • Garis bergerak
  • Pandangan kabur
  • Terkadang lengan, kaki, atau wajah mereka mungkin tergelitik. Orang-orang muda yang menderita migrain juga sering mengalami mabuk saat melakukan perjalanan.

Penyebab migrain pada anak

Menurut dr. Nitish Basant Adnani, BmedSc, MSc dari KlikDokter, sampai saat ini penyebab utama anak-anak terkena migrain masih belum jelas. Akan tetapi, menurut penelitian, diketahui bahwa faktor genetik berperan dalam terjadinya migrain. Sebagian besar anak yang menderita migrain memiliki setidaknya satu anggota keluarga dengan riwayat keluhan serupa.

"Sebagian kasus migrain diduga dipicu oleh kekurangan hormon serotonin yang terjadi secara sementara. Karena itu, terdapat cukup banyak pengobatan yang menargetkan zat kimiawi tersebut yang diketahui efektif dalam mengatasi migrain," ujar dr. Nitish.

Dalam menentukan diagnosis migrain pada anak, dokter biasanya akan menanyakan bagaimana rasa nyeri yang dirasakan. Misalnya, apakah terasa seperti ditekan-tekan, ditusuk-tusuk, atau berdenyut.

Dokter juga dapat menanyakan mengenai lokasi rasa nyeri, kapan saja nyeri timbul, serta derajat keparahan nyeri. Selain itu, dokter juga bisa bertanya tentang adanya riwayat terbentur pada kepala atau terjatuh, durasi rasa nyeri, dan adanya riwayat nyeri kepala migrain pada keluarga.

Ini yang perlu dilakukan orang tua

Bagi beberapa anak, tidur cukup untuk membuat migrain hilang. Biarkan anak Anda beristirahat di ruangan yang gelap dan sunyi. Di sisi lain, meletakkan kompres dingin di dahi mereka atau di mata mereka juga dapat membantu. Bila tak membaik, Anda dapat membawa anak ke dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan perawatan lebih lanjut.

Usai pemeriksaan, mungkin dokter akan menyarankan obat. Beberapa obat yang biasanya diberikan dokter adalah:

  • Penghilang rasa sakit seperti asetaminofen atau ibuprofen
  • Obat migrain khusus yang disebut triptan
  • Obat-obatan untuk membantu muntah dan mual
  • Obat-obatan untuk mencegah migrain, jika itu sering terjadi

Selain itu, Anda mungkin juga bisa mengajarkan teknik relaksasi pada anak Anda. Belajar cara bernapas dalam-dalam atau mengendurkan otot-otot dapat membantu meringankan rasa sakitnya.

Sejauh ini, tidak banyak memang anak-anak yang mengalami migrain. Namun, bukan berarti anak Anda bebas dari ancaman penyakit ini. Untuk itu, perhatikan faktor risiko yang bisa menyebabkan anak menderita migrain, yakni:

  • Tidak makan atau terlambat makan
  • Mengonsumsi makanan tertentu, seperti daging saat makan siang, keju, MSG, cokelat, dan yogurt
  • Tidak cukup tidur
  • Anak stres
  • Terlalu sibuk, baik karena pelajaran di sekolah atau kegiatan lain

Sebelum migrain terjadi pada anak, Anda sebagai orang tua dapat menghindari faktor-faktor risiko di atas. Akan tetapi, bila migrain pada anak dirasakan terus-menerus, bahkan semakin parah gejalanya, segera periksakan ke dokter. Mungkin saja itu bagian dari gejala penyakit yang lebih serius, seperti adanya tumor.

[HNS/ RVS]