Diet Planet, Tren Diet Terbaru di Tahun 2019

Oleh dr. Fiona Amelia MPH pada 02 Mar 2019, 17:00 WIB
Diet planet diklaim ramah bagi kesehatan manusia dan lingkungan. Seperti apakah diet ini?
Diet Planet, Tren Diet Terbaru di Tahun 2019 (Alexander Prokopenko/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Di awal tahun ini, para pakar telah menemukan diet yang ideal untuk kesehatan individu dan lingkungan. Diet itu dinamakan ‘planetary health diet’ atau diet planet.

Diet planet adalah pola makan yang dianggap mampu mencegah 11 juta kematian prematur per tahun akibat penyakit tidak menular seperti diabetes, penyakit jantung, stroke, dan kanker. Pola diet yang sama juga dapat mencegah kerusakan lingkungan akibat sistem produksi pangan yang tidak tepat sehingga memicu perubahan iklim global, kerusakan satwa liar, serta polusi sungai dan laut.

Mengenal diet planet

Diet planet adalah hasil proyek tiga tahun yang melibatkan 37 pakar dari 16 negara, termasuk Indonesia. Para pakar yang terlibat tidak hanya berasal dari sektor kesehatan, tetapi juga dari sektor lain yang terkait seperti pertanian, peternakan, dan kesehatan lingkungan.

Hasil studi dimuat dalam jurnal The Lancet edisi Februari 2019 berupa pedoman diet sehat bergizi untuk populasi dunia yang tumbuh cepat. Pola diet ini mengedepankan konsumsi sumber makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, namun tetap mampu memenuhi kebutuhan 2.500 kalori per harinya.

Sebagai gambaran, setengah piring makan Anda terisi sayur-sayuran dan buah, sepertiganya terisi makanan pokok yang berasal dari serealia/biji-bijian atau umbi-umbian, dan sisanya terisi lauk pauk yang merupakan sumber protein. Sumber protein harian berasal dari kacang-kacangan.

Meski demikian, Anda tetap bisa mengonsumsi satu gelas susu dan 1 slice keju per hari. Untuk konsumsi daging dianjurkan satu porsi per minggu, ikan dua porsi per minggu, dan telur 1-2 butir per minggu.

Pada dasarnya, individu yang mengikuti pola diet planet akan mengonsumsi kurang dari 50 gram telur, ikan, gula, dan daging setiap harinya. Komposisinya relatif fleksibel, bervariasi namun sehat, dan tetap nikmat untuk disantap.

Diet planet mengubah pola makan di berbagai belahan dunia

Para pakar menyebutkan perlunya perubahan sistem pangan global pada skala yang signifikan agar bumi mampu memberi makanan sehat sepanjang hayat pada penduduk dunia yang akan mencapai 10 miliar di tahun 2050. Dengan kata lain, diperlukan perubahan radikal terkait pola konsumsi, cara produksi, serta pengolahan limbah makanan di seluruh belahan dunia.

Untuk mencapainya, konsumsi global daging merah dan gula harus dipotong hingga 50% sementara konsumsi kacang-kacangan, polong-polongan, buah, dan sayur ditingkatkan hingga dua kali lipat.

Perubahan pola konsumsi makanan ini tentu akan terasa bermakna di tiap belahan dunia. Di Amerika Utara, asupan daging merah perlu dikurangi hingga 84%, sedangkan asupan kacang-kacangan dan polong-polongan perlu ditingkatkan hingga 6 kali lipat. Di Eropa, angka asupan daging merah juga perlu dikurangi, yakni hingga 77%, namun konsumsi kacang-kacangan dan polong-polongan perlu ditingkatkan hingga 15 kali lipat.

Sebaliknya, di Asia Selatan, sebagian besar penduduk hanya mengonsumsi setengah dari jumlah porsi daging yang disarankan oleh pola diet planet. Dan di daerah sub-Sahara Afrika, sebagian besar penduduk mengonsumsi sayuran bertepung seperti kentang dan singkong hingga 7,5 kali lipat jumlah yang disarankan diet planet.

Para pakar yang mengusulkan diet planet ini tidak bermaksud untuk membatasi apa yang boleh atau tidak boleh Anda dikonsumsi. Mereka pun tidak bermaksud untuk menjadikan ini sebagai satu-satunya diet untuk “menyelamatkan” planet bumi.

Pun disadari bahwa terlalu ambisius bila berharap semua orang di dunia akan menerapkan pola diet planet ini, karena akses dan ketersediaan bahan pangan yang belum merata secara global. Meski demikian, mereka ingin menggambarkan bahwa cara makanan diproduksi dan pola konsumsinya tidak bisa dipisahkan dengan ekosistem alami bumi dan kesehatan. Keduanya mampu berjalan beriringan dan saling menguntungkan demi kesehatan planet bumi dan makhluk hidup di dalamnya.

[RS/ RVS]