Pelo Akibat Stroke, Bisakah Sembuh?

Oleh dr. Devia Irine Putri pada 03 Mar 2019, 17:00 WIB
Pasca serangan stroke, seseorang dapat mengalami gejala sisa, seperti bicara pelo. Bisakah bicara pelo disembuhkan?
Pelo Akibat Stroke, Bisakah Sembuh? (Motortion-Films/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Kerusakan pada otak akibat stroke dapat meninggalkan gejala sisa. Gejala sisa ini dapat berupa gangguan penglihatan, gangguan berbicara, kelemahan anggota gerak, hingga keluhan sakit kepala. Salah satu gejala sisa yang kerap muncul adalah bicara pelo.

Pelo merupakan salah satu jenis dari gangguan berbicara yang sering terjadi. Pelo bisa menjadi tanda awal seseorang mengalami stroke dan bisa menetap pada seseorang pasca serangan stroke. Dalam dunia medis, gangguan berbicara dibedakan menjadi beberapa jenis. Namun, dua di antaranya sering terjadi, yaitu afasia dan disarthria.

Afasia adalah gangguan dalam berbahasa, yang memengaruhi pengertian dalam pembicaraan, kemampuan membaca dan menulis. Adapun disarthria adalah gangguan berbicara karena adanya kelemahan pada otot-otot yang berfungsi untuk berbicara.

Pada kondisi ini, seseorang akan sulit mengeluarkan kata-kata dengan jelas atau slurred speech, sehingga disebut dengan pelo. Keadaan afasia dan disarthria ini dapat terjadi bersamaan atau hanya dialami salah satunya saja.

Gangguan berbicara ini membuat seseorang kesulitan dalam berbicara. Tak jarang, bicara pelo mengubah emosi seseorang. Misalnya, saat mengucapkan suatu kalimat, tapi tidak dapat dimengerti oleh lawan bicara.

Hal ini akan mengubah emosi penderita menjadi kesal dan sedih atau berujung pada depresi karena tidak mampu berbicara dengan jelas. Bisa juga, akibat pelo saat berbicara membuat seseorang merasa malu untuk berkomunikasi dan memilih diam.

Bisakah sembuh?

Pelo yang disebabkan stroke tidak dapat disembuhkan atau kembali normal lagi. Namun, jangan berkecil hati. Meski tidak dapat kembali normal, dengan terapi wicara, diharapkan seseorang dapat mengeluarkan suara dan artikulasinya akan semakin jelas.

Pada terapi wicara, seorang terapis akan membantu penderita untuk meningkatkan kemampuan komunikasi. Antara lain, melalui latihan mengatur kecepatan berbicara, menguatkan otot-otot di sekitar kepala dan leher agar kuat, latihan mengatur napas, serta latihan artikulasi agar kata atau kalimat yang diucapkan bisa terdengar jelas.

Dukungan orang sekitar

Selain melakukan terapi wicara, dukungan keluarga dan orang-orang terdekat juga menjadi kunci keberhasilan agar seseorang tetap bisa berkomunikasi. Dukungan ini dapat diwujudkan misalnya dengan mengajak penderita berbicara seperti layaknya orang biasa dan memberikan waktu untuk penderita menyelesaikan kalimatnya. Jangan lupa pula untuk melakukan kontak mata secara langsung saat berbicara.

Bila Anda atau anggota keluarga mengalami pelo setelah serangan stroke, lakukan beberapa hal ini setiap hari untuk membantu berkomunikasi secara efektif:

  1. Berbicaralah dengan perlahan. Saat Anda berbicara, usahakan untuk jangan terburu-buru. Semakin Anda terburu-buru atau cepat dalam mengatakan sesuatu hal, artikulasinya semakin terdengar tidak jelas.
  2. Mulailah dengan suatu kata atau kalimat singkat. Dalam memulai pembicaraan, ada baiknya jika Anda menggunakan suatu kata kunci atau kalimat singkat sebelum memulai berkomunikasi. Misalnya, Anda ingin makan. Katakan kepada penderita pelo, “makan”, barulah berlanjut “makan telur”, “makan nasi goreng”, dan lain sebagainya.
  3. Menggunakan alat bantu. Menggunakan alat bantu seperti pensil, buku, hingga papan alfabet juga dapat membantu seseorang dalam berkomunikasi. Menulis atau menunjuk dapat menjadi metode komunikasi bagi seseorang yang kesulitan mengucapkan kata dengan jelas.

Meskipun penderita bicara pelo tidak dapat kembali seperti semula, terapi wicara dapat membantu seseorang tetap dapat berkomunikasi secara efektif. Jangan anggap sepele gangguan pelo. Banyak penderita stroke yang merasa kecil hati dan depresi karena tidak bisa bicara normal. Pentingnya dukungan moral dari keluarga dan lingkungan turut berperan dalam meningkatkan komunikasi bagi penderita.

[HNS/ RVS]