Gemar Makan Gorengan Bisa Picu Radang Tenggorokan?

Oleh Ayu Maharani pada 05 Mar 2019, 16:40 WIB
Gemar mengonsumsi makanan yang digoreng alias gorengan katanya bisa bikin radang tenggorokan. Benarkah demikian?
Gemar Makan Gorengan Bisa Picu Radang Tenggorokan? (kuruneko/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Gorengan merupakan salah satu camilan kesukaan orang Indonesia. Mau pagi, siang atau malam, makanan berbalut tepung dan diolah dengan cara digoreng menggunakan banyak minyak (deep frying) itu sepertinya tak pernah absen dari meja makan. Akan tetapi, Anda wajib berhati-hati terhadap gorengan. Pasalnya, makanan yang satu itu sering dianggap sebagai biang keladi dari radang tenggorokan.

Ya, tak sedikit orang yang menganggap bahwa gorengan adalah penyebab utama dari radang tenggorokan. Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda percaya dengan anggapan ini?

Gorengan dan radang tenggorokan

Menurut dr. Sepriani Timurtini Limbong dari KlikDokter, makanan yang digoreng secara deep frying (dalam hal ini gorengan) tidak menyebabkan timbulnya radang tenggorokan secara langsung.

“Biasanya, makanan yang digoreng itu ‘kan dikonsumsi saat masih panas agar rasanya renyah dan enak. Suhu ekstrem dari gorengan panas itulah yang akhirnya mengiritasi tenggorokan,” jelas dr. Sepri.

Saat sudah teriritasi, lanjut dr. Sepri, maka dinding tenggorokan akan terluka. Keadaan tersebut membuat virus atau bakteri lebih mudah menginfeksi. Akibatnya, timbullah radang tenggorokan.

“Itulah mengapa seseorang lebih disarankan untuk mengonsumsi makanan atau minuman yang suhunya hangat, bukan panas. Karena makanan atau minuman panas justru dapat mengiritasi,“ dr. Sepri menambahkan.

Jadi, seperti yang sudah disebutkan, penyebab utama radang tenggorokan bukanlah gorengan. Melainkan, infeksi bakteri atau virus pada dinding tenggorokan yang terluka, misalnya akibat terpapar makanan bersuhu panas.

“Bakteri yang sering menyerang tenggorokan hingga membuatnya meradang adalah Streptococcus pyogenes dan Streptococcus kelompok A. Sedangkan virus yang bisa memicu radang tenggorokan ialah rhinovirus, adenovirus, dan influenza,” tutur dr. Sepri.

Solusi radang tenggorokan

Bila telanjur terkena radang tenggorokan hingga muncul keluhan demam tinggi, dr. Atika dari KlikDokter menyarankan Anda untuk segera ke dokter demi mendapatkan pengobatan yang tepat. Adapun daftar obat yang bisa membantu mengobati radang tenggorokan yang sudah parah, di antaranya:

  • Obat antidemam

Supaya demam yang terjadi tidak sampai mengganggu istirahat, penderita radang tenggorokan dapat mengonsumsi obat antidemam berupa parasetamol atau ibuprofen yang diresepkan oleh dokter. Dengan obat tersebut, tirah baring yang dilakukan bisa lebih optimal sehingga waktu pemulihan dapat berlangsung lebih cepat.

  • Obat antibiotik

Jika disebabkan oleh infeksi bakteri, maka penderita radang tenggorokan wajib mengonsumsi antibiotik. Jenis obat ini hanya boleh digunakan di bawah pengawasan dokter. Tanpa anjuran dan resep dari dokter, Anda tidak boleh membeli atau mengonsumsinya secara mandiri, agar nantinya tidak mengalami alergi antibiotik maupun resistensi antibiotik.

  • Konsumsi tablet isap

Untuk membantu melegakan dan meringankan nyeri tenggorokan, penderita radang tenggorokan bisa mengisap tablet khusus yang diberikan oleh dokter. Dengan mengisap, gerakan tersebut akan menstimulasi produksi air liur dan bahan aktif dalam tablet tersebut akan melapisi dinding tenggorokan.

Supaya pengobatannya maksimal, penderita radang tenggorokan mesti beristirahat penuh. Selain itu, penderita radang tenggorokan juga sangat dianjurkan untuk meningkatkan konsumsi air putih dan menghindari makanan yang berpotensi mengiritasi tenggoroan, seperti gorengan panas.

Memang, gorengan tidak secara langsung menyebabkan terjadinya radang tenggorokan. Akan tetapi, Anda sebaiknya mulai mengurangi konsumsi makanan tersebut dari sekarang. Sebab, terlalu banyak mengonsumsi makanan yang digoreng dengan banyak minyak (deep frying) berpotensi menyebabkan terjadinya penyakit kardiovaskular, seperti tekanan darah tinggi (hipertensi), penyakit jantung, serangan jantung, dan stroke.

(NB/ RVS)