Fast Food Meningkatkan Kasus Obesitas dalam 30 Tahun Terakhir?

Oleh Krisna Octavianus Dwiputra pada 06 Mar 2019, 16:40 WIB
Adakah hubungan antara fast food dan peningkatan obesitas? Penelitian menyingkap bagaimana fast food berkembang dalam 30 tahun terakhir.
Fast Food Meningkatkan Kasus Obesitas dalam 30 Tahun Terakhir? (GANNA-MARTYSHEVA/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Siapa yang tidak suka fast food atau makanan cepat saji? Rasanya yang enak dan mudah didapatkan membuat jenis makanan ini sangat digemari. Namun, bagaimana makanan cepat saji berkembang dalam 30 tahun terakhir? Ada penelitian yang menyebutkan bahwa fast food memperburuk kondisi kesehatan manusia, termasuk meningkatkan jumlah kasus obesitas.

Konsumsi fast food setiap tahun memang meningkat. Meski restoran cepat saji mulai memunculkan menu yang mereka klaim sehat, sebuah studi baru menemukan bahwa kualitas gizi dari menu makanan cepat saji belum membaik, malah sebaliknya.

Makanan cepat saji dan obesitas

Sampai saat ini, para ahli kesehatan percaya bahwa fast food akan meningkatkan risiko obesitas dan kanker. Dilansir Medical News Today, sebuah studi baru menunjukkan bahwa kandungan kalori pada menu restoran cepat saji makin meningkat pada 30 tahun terakhir ini.

Para peneliti menganalisis variasi, ukuran porsi, dan nutrisi makanan pembuka, makanan pendamping, serta makanan penutup yang ditawarkan oleh 10 restoran fast food paling populer di AS selama dalam 30 tahun terakhir. Mereka memantau pada rentang waktu 1986, 1991, dan 2016.

Hasilnya, para peneliti menemukan bahwa variasi makanan yang ditawarkan restoran-restoran tersebut meningkat sekitar 22,9 item per tahun atau 226 persen. Namun, ketika variasi meningkat, kalori dari makanan yang ditawarkan juga meningkat, seperti halnya ukuran porsi.

Kenaikan terbesar terjadi pada kategori makanan penutup, dengan peningkatan 62 kilokalori setiap 10 tahun. Pada saat yang sama, kandungan natrium (garam) juga naik di antara masing-masing jenis makanan.

"Studi kami memberikan pandangan bahwa makanan cepat saji mungkin berhubungan dengan masalah obesitas yang berkelanjutan dan kondisi kronis terkait," para peneliti menyimpulkan.

Jadi, terlepas dari banyaknya pilihan yang ditawarkan di restoran cepat saji, kalori, ukuran porsi, dan kandungan natrium secara keseluruhan telah memburuk atau meningkat dari waktu ke waktu.

1 of 2

Mengatasi kecanduan fast food

Memang sulit menandingi rasa ayam goreng, kentang goreng, dan hamburger dari restoran fast food. Tapi sebaiknya makanan cepat saji tidak dikonsumsi setiap hari. Anda bisa menerapkan tiga hal berikut untuk mengendalikan ketergantungan dengan makanan cepat saji:

  • Siapkan camilan sehat

"Keinginan makan fast food biasanya tak selalu dibarengi dengan rasa lapar. Terkadang mulut Anda hanya ingin mengunyah saja tapi sebetulnya tidak lapar," ujar dr. Nadia Octavia dari KlikDokter.

Daripada makan kentang goreng yang tinggi kolesterol, cobalah untuk menyiapkan camilan sehat. Anda bisa makan semangkuk buah-buahan dan oatmeal di sela waktu makan besar Anda.

  • Rencanakan menu makanan Anda

Godaan fast food memang besar. Bagaimana tidak, hanya dengan menelepon restoran atau via ojek online, makanan itu bisa datang segera di hadapan Anda. Ini sangat ampuh ketika di rumah tidak ada makanan.

Untuk mencegah hal tersebut, rencanakan menu makanan Anda setiap harinya. Beli bahan-bahan untuk memasak beberapa hari atau minggu sebelumnya, agar Anda tidak tergoda untuk memesan makanan cepat saji.

  • Sugesti diri Anda bahwa fast food tidak sehat

Makanan cepat saji memang tidak sehat dan Anda tahu itu. dr. Nadia mengatakan bahwa konsumsi fast food berlebih tak hanya membuat Anda berisiko mengalami obesitas tetapi penyakit jantung. Jadi, sugesti diri Anda bahwa makanan cepat saji itu tidak baik. Buat apa makan makanan yang hanya nikmat di lidah, tapi bisa merugikan jantung?

Dalam 30 tahun terakhir, meski restoran fast food mengklaim membuat menu lebih sehat, nyatanya seperti tidak perubahan sama sekali. Peneliti mengatakan bahwa penting sekali bagi restoran makanan cepat saji untuk menampilkan kandungan kalori dan nutrisi di menunya. Mereka juga berharap restoran makanan cepat saji dapat lebih mempromosikan pola makan sehat, seperti mengatur porsi makanan yang disajikan.

[RS/ RVS]

Lanjutkan Membaca ↓