Benarkah Wanita Lebih Dewasa Secara Mental Daripada Pria?

Oleh dr. Nitish Basant Adnani BMedSc MSc pada 08 Mar 2019, 14:00 WIB
Wanita sering kali dianggap lebih dewasa secara mental dibandingkan pria. Benarkah demikian? Berikut ini penjelasan medisnya.
Benarkah Wanita Lebih Dewasa Secara Mental Daripada Pria? (bbernard/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Kedewasaan mental pada dasarnya terdiri dari empat elemen, yakni pengetahuan mengenai diri sendiri, pengendalian emosi, empati, dan keterampilan sosial. Dari segi gender, wanita dianggap lebih dewasa secara mental daripada pria.

Gender dan kedewasaan mental

Terdapat banyak hal yang dapat dilakukan untuk menilai kedewasaan mental, dan sebagian besar literatur yang ada menunjukkan bahwa wanita cenderung lebih dewasa dibandingkan pria terkait elemen-elemen tersebut.

Namun, beberapa artikel mengemukakan bahwa walaupun wanita tergolong lebih superior dibandingkan pria dalam hal empati, pria memiliki performa yang lebih baik dibandingkan wanita dalam hal mengelola emosi.

Salah satu teori yang ada mengemukakan bahwa penilaian seseorang yang dianggap lebih dewasa secara mental tidak bisa dilakukan hanya berdasarkan jenis kelamin saja. Karena terdapat banyak faktor yang berperan dalam kedewasaan mental seseorang.

Sebagai contoh, empati sendiri terdiri dari tiga elemen, yakni empati kognitif yang mencakup kemampuan memahami sudut pandang orang lain, empati emosional yang mencakup kemampuan untuk merasakan perasaan orang lain, dan empati peduli, atau simpati, yang mencakup kesiapan untuk membantu orang lain yang membutuhkan.

Umumnya, wanita cenderung lebih optimal dalam hal empati emosional dibandingkan pria. Empati jenis ini dapat membantu membangun hubungan emosional antar individu.

Oleh sebab itu, individu yang memiliki empati emosional umumnya cocok untuk bekerja di bidang konseling, pendidikan, atau kepemimpinan, karena kemampuannya dalam menilai reaksi orang lain terhadap situasi yang berlangsung.

Empati wanita dan pria

Para pakar di bidang neurosains mengemukakan bahwa salah satu area otak yang berfungsi untuk mengendalikan empati adalah insula, yang mendapatkan sinyal dari seluruh tubuh.

Saat seseorang merasakan empati untuk orang lain, otaknya secara otomatis merekam dan menggambarkan yang dirasakan oleh orang lain tersebut. Insula membaca pola tersebut dan menginterpretasikan perasaannya.

Nah, disinilah salah satu perbedaan antara pria dan wanita terlihat dengan jelas. Apabila orang lain merasa sedih atau marah, dan emosi yang dirasakan tersebut terkesan cukup mengganggu, otak wanita secara umum memiliki kecenderungan untuk ikut merasakan perasaan-perasaan tersebut.

Sedangkan, otak pria umumnya melakukan hal yang berbeda. Mereka merasakan empati sejenak, lalu cenderung meredam emosi dan fokusnya akan berpindah ke area otak lainnya yang mencoba membantu memecahkan masalah yang menyebabkan timbulnya perasaan tersebut.

Sama-sama memiliki keunggulan dan kelemahan

Baik mental wanita maupun pria memiliki keunggulan dan kelemahannya masing-masing.

Pola pikir otak pria yang cenderung abai terhadap emosi yang dirasakan dapat bermanfaat pada saat seseorang butuh untuk menenangkan diri dari stres emosional agar dapat mencari solusi dari masalah yang dialami.

Sedangkan, kecenderungan wanita untuk tetap menggunakan emosinya bermanfaat dalam memberikan dukungan emosional pada orang lain yang mengalami situasi genting.

Simon Baron Cohen, pakar di bidang psikologi dari Cambridge University, mengemukakan bahwa pada contoh otak wanita yang ekstrim, tingkat empatinya tinggi namun tingkat analisisnya cenderung rendah. Hal ini bertolak belakang dengan yang terjadi pada pria.

Jadi, berdasarkan berbagai literatur, wanita memang secara umum lebih dewasa secara emosional dibandingkan dengan pria. Namun, terdapat berbagai faktor yang dapat memengaruhi kedewasaan emosional selain jenis kelamin.

Sehingga, jenis kelamin bukanlah satu-satunya faktor yang memengaruhi mental atau kedewasaan. Bahkan, telaah lebih lanjut menunjukkan bahwa otak wanita dan pria memiliki keunggulan dan kelemahannya masing-masing dalam mengelola emosi.

[NP/ RVS]