Pengaruh Gaya Hidup Early Bird dan Night Owl pada Kesehatan Mental

Oleh dr. Nabila Viera Yovita pada 08 Mar 2019, 10:00 WIB
Secara umum, ada dua jenis waktu tidur, yaitu night owl dan early bird. Apakah perbedaan waktu tidur itu punya efek pada kesehatan mental?
Pengaruh Gaya Hidup Early Bird dan Night Owl pada Kesehatan Mental (Branislav Nenin/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Sebagian orang merasa lebih suka beraktivitas di pagi hari. Sementara itu, sebagian lainnya merasa lebih ‘hidup’ saat malam hari. Tak perlu heran, karena manusia memang ada yang ‘diprogram’ secara genetik untuk mudah bangun pagi atau early bird. Sebaliknya, ada cenderung terjaga di malam hari atau disebut night owl. Lantas, adakah pengaruhnya pada kesehatan mental?

Mengenal early bird dan night owl

Secara umum, terdapat dua tipe kelompok terkait waktu tidur. Kelompok pertama adalah night owl, yaitu ketika Anda memiliki energi penuh hingga malam dan punya kecenderungan tidur larut malam. Sementara yang lainnya adalah early bird, yaitu Anda yang punya kecenderungan bangun lebih pagi dan tidur malam lebih awal.

Para ilmuwan menggunakan istilah kronotipe untuk menggambarkan kecenderungan individu terhadap waktu aktivitas dan istirahat setiap hari. Baik night owl maupun early bird dibentuk oleh kekuatan biologis dan genetik, gaya hidup, suasana hati, serta cara berpikir dan tidur.

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature Communications, mengambil sampel dari 700.000 individu. Hasilnya, didapatkan 351 faktor genetik yang memengaruhi seseorang menjadi seorang early bird atau night owl.

Menurut penelitian, faktor gen turut memengaruhi kapan seseorang tidur dan terbangun. Namun yang perlu dicatat, walaupun berpengaruh pada waktu tidur, gen tidak memengaruhi kualitas maupun durasi tidur.

Identifikasi faktor genetik yang berjumlah 351 tersebut meliputi gen yang melibatkan ritme sirkadian, yakni siklus tidur dan bangun manusia. Gen ini berhubungan dengan otak, juga jaringan retina mata. Diduga, keberadaan gen dalam mata ini membantu para early bird mendeteksi cahaya untuk bangun pada pagi hari.

Adakah pengaruhnya pada kesehatan mental?

Pada sebuah studi di Universitas Aachen, Jerman, peneliti menggunakan pemindaian otak untuk menentukan night owl dan early bird dalam kelompok yang terdiri dari pria dan wanita. Dalam pemindaian ditemukan, night owl memiliki lebih sedikit zat putih, sejenis jaringan lemak di otak. Jaringan ini yang meningkatkan risiko depresi dan merusak fungsi kognitif.

Diperkirakan, night owl mengalami sejenis jetlag kronis karena mereka suka tidur larut malam. Pola ini dapat membuat mereka kurang tidur, terutama ketika waktu kerja atau sekolah tidak cocok dengan waktu tidur pilihan mereka.

Penelitian juga menemukan hubungan antara early bird dengan kesehatan, juga penurunan risiko untuk skizofrenia dan depresi. Diduga, ini karena orang yang mudah bangun pagi lebih selaras dengan komunitas yang bekerja pada pukul 09.00–17.00 sore.

Tapi, night owl tak selalu buruk. Beberapa data menunjukkan bahwa Anda yang tergolong night owl, cenderung lebih produktif dan memiliki lebih banyak stamina di siang hari.

Di sisi lain, menurut hasil analisis gen, menjadi night owl juga tak selalu membuat Anda berurusan dengan gangguan kesehatan fisik. Hingga saat ini belum ditemukan adanya koneksi kuat antara menjadi ‘kalong’ dengan kemungkinan mengidap diabetes dan obesitas.

Para early bird cenderung memiliki kesehatan mental lebih baik dibandingkan night owl. Mereka juga memiliki risiko lebih rendah untuk mengidap skizofrenia dan depresi. Tapi, menjadi seorang night owl tak selalu berarti buruk. Jadi, apa pun pilihan Anda, pastikan untuk selalu menjaga gaya hidup dan pola makan yang baik.

[HNS/ RH]