Fakta di Balik Kebiasaan Menahan Kencing

Oleh dr. Fiona Amelia MPH pada 09 Mar 2019, 07:00 WIB
Sesekali menahan kencing kala tak sempat wajar. Namun, jika ini menjadi kebiasaan, justru bisa merugikan kesehatan.
Fakta di Balik Kebiasaan Menahan Kencing (Andriano.cz/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Kebutuhan untuk buang air kecil benar-benar merupakan suatu hal yang alami agar tubuh bisa mengeluarkan sisa dan limbah tubuh. Mungkin karena sedang berkendara dalam kemacetan, sedang dalam rapat penting, atau toilet yang tersedia tak memadai, menjadikan Anda menahan kencing. Apakah ini berdampak buruk pada tubuh?

Sesekali menahan kencing kala tak sempat wajar. Namun, jika ini menjadi kebiasaan, waspadalah karena kebiasaan seperti ini dapat berdampak buruk pada kesehatan saluran kemih Anda. Berikut ini adalah berbagai fakta medisnya.

Berapa lama Anda dapat menahan kencing?

Urine ditampung dalam sebuah kantung yang disebut dengan kandung kemih. Kapasitas kantung ini pada orang dewasa adalah sekitar dua cangkir atau 500 mL. Bila diperlukan, kandung kemih dapat meregang untuk menampung lebih banyak urine.

Namun, persepsi kandung kemih yang terasa penuh bisa berbeda-beda pada tiap orang. Kecepatan pengisian kandung kemih juga bergantung pada sejumlah faktor, seperti jumlah air yang diminum dan jenis minuman yang dikonsumsi.

Mengonsumsi air putih dalam jumlah banyak sekaligus atau minuman yang mengandung kafein tentu akan menimbulkan keinginan yang lebih besar untuk kencing. Karena itulah, tidak ada aturan yang saklek tentang seberapa lama orang dapat menahan kencing.

Umumnya, orang sehat memiliki frekuensi kencing sebanyak 8-10 kali per hari atau setiap 2-3 jam. Anda dapat menahan kencing dengan nyaman hingga 5 jam.

Yang terjadi saat Anda menahan kencing

Sesungguhnya, keinginan untuk kencing tidak muncul semata-mata karena kandung kemih yang terisi penuh dengan urine Prosesnya amat kompleks dan melibatkan banyak otot dan saraf yang bekerja sama untuk memberitahu Anda bahwa ini, lho, waktunya kencing.

Ketika kandung kemih sudah setengah penuh, saraf-saraf yang mengitarinya mulai aktif. Saraf-saraf ini mengirimkan sinyal ke otak, yang kemudian membuat Anda ingin kencing. Namun, otak merespons kembali dengan memberi sinyal ke kandung kemih untuk menahan kencing sampai waktunya tiba, yakni sampai Anda berada di toilet. Kala menahan kencing, secara sadar Anda melawan sinyal-sinyal tersebut.

Intensitas sinyal ini berbeda-beda pada setiap orang. Ini pun dipengaruhi oleh usia, jumlah urine di dalam kandung kemih, dan waktu. Sinyal-sinyal ini akan menurun pada malam hari agar Anda dapat tidur nyenyak. Jika tidak, tentu Anda akan terbangun untuk buang air kecil setiap beberapa jam sekali.

1 of 2

Berbahayakah menahan kencing?

Pada dasarnya, menahan kencing sesekali tidaklah berbahaya. Namun, tubuh dapat merasakan dampak buruknya, yaitu:

  1. Nyeri

Bila Anda kerap mengabaikan keinginan untuk kencing, Anda dapat mengalami nyeri perut bawah atau nyeri pinggang. Nyeri ini berasal dari kram otot-otot kandung kemih yang tetap berkontraksi meski urine telah dikeluarkan, sedangkan nyeri pinggang berasal dari gangguan ginjal. Nyeri juga bisa dirasakan saat sedang kencing.

  1. Kandung kemih longgar

Dalam jangka panjang, kebiasaan menahan kencing dapat melonggarkan kandung kemih, sehingga mempersulit kontraksi saat mengeluarkan urine. Kondisi ini bersifat permanen, sehingga diperlukan alat bantu seperti kateter untuk mengeluarkan urine.

  1. Infeksi saluran kemih

Dalam kondisi normal, kandung kemih mengandung sejumlah bakteri yang bersifat protektif. Namun, bila kondisi berubah, misalnya akibat menahan kencing terlalu lama, bakteri-bakteri ini bisa tumbuh berlebihan dan memicu infeksi saluran kemih. Infeksi ini dapat menyebar ke ginjal dan menimbulkan dampak buruk yang lebih luas.

Risiko infeksi juga lebih besar apabila Anda kurang minum. Ini karena kandung kemih tidak pernah cukup penuh untuk mengirimkan sinyal ke otak dan menimbulkan keinginan untuk kencing, sehingga bakteri di dalamnya berkesempatan untuk berkembang biak dan memicu infeksi.

  1. Batu ginjal

Pada orang yang rentan, menahan kencing dapat memicu batu ginjal. Terutama pada mereka yang sudah pernah mengalami batu ginjal atau kadar mineral dalam urinenya cenderung tinggi (yakni, kalsium, oksalat, sistin, dan asam urat). Namun, batu ginjal juga bisa terbentuk meski kadar mineral ini normal apabila jumlah urine yang diproduksi setiap harinya sedikit, yaitu bila Anda kurang dehidrasi atau kurang minum.

  1. Mengompol

Sering menahan kencing juga dapat merusak otot-otot dasar panggul, salah satunya otot berbentuk donat yang mengitari uretra (spinchter urethra). Otot ini membuat lubang saluran kemih tetap tertutup, sehingga urine tidak bocor atau merembes. Bila otot ini sampai rusak, maka Anda akan mengompol.

Jadi, tak apa menahan kencing sesekali jika memang kondisinya tak memungkinkan. Namun, jangan sampai menjadikannya kebiasaan, ya, karena dampak buruknya tak sepadan. Mulai dari risiko infeksi saluran kemih, batu ginjal, hingga mengompol pada orang dewasa.

(RN/ RH)

Lanjutkan Membaca ↓